Jualan, Grogi, dan Mimpi! Ketika Mahasiswa UBSI Bertransformasi dari Pembeli Jadi Penjual

0 31

BSINews, Jakarta – Ada satu hal yang nggak pernah diajarin di ruang kelas, tapi selalu bikin jantung deg-degan saat dijalani, yaitu jualan. Bukan jualan ide, bukan juga jualan diri, tapi jualan beneran—pakai booth, pakai banner, pakai suara yang setengah yakin saat nawarin barang ke orang asing yang lewat sambil pura-pura nggak lihat.

Itu semua terjadi di Entrepreneur Fair (EF) 2025 Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI), yang digelar serentak di berbagai kampus UBSI dari Jabodetabek sampai Tegal, dari Pontianak sampai Tasik. Ya, EF ini bukan sekadar pameran mahasiswa. Ini adalah momen di mana anak-anak yang biasanya jago bikin proposal akhirnya harus turun langsung—ngaduk, nyetak, ngeprint, dan yang paling susah, menjual.

Baca juga: Dosen UBSI Berikan Penyuluhan Technopreneurship untuk Tingkatkan Penjualan UMKM Bojong Baru

Kegiatan ini bukan proyek tugas akhir. Bukan juga simulasi. Ini real. Mahasiswa yang ambil mata kuliah Entrepreneurship diwajibkan bikin usaha, buka stand, dan yang penting adalah laku. Booth mereka bukan cuma etalase tugas, tapi lapak beneran. Yang rame bisa cuan, yang sepi bisa gigit jari sambil evaluasi strategi.

Mulai jam 1 siang, dari tanggal 16-24 Juni 2025, para calon pengusaha ini datang dengan semangat 45. Mereka berebut nomor stand, bawa keranjang plastik berisi produk—dari brownies lumer, kerajinan tangan dari benang rajut, sampai totebag bergambar quotes galau. Mereka pasang banner, nyalain lagu di speaker kecil, dan beberapa bahkan bawa ring light buat bikin konten TikTok.

Tapi sesungguhnya, momen gugupnya sudah terjadi jauh sebelum itu. Bagaimana nggak, mahasiswa yang biasanya mainnya di dunia digital sekarang harus ngomong langsung ke pembeli. “Kak, cobain minumannya, boleh tester dulu,” ucap seorang mahasiswi sambil senyum kaku.

Panitia EF menghadirkan juri dari dosen dan praktisi. Salah satunya, Drs. Peter Rajagukguk, mendatangi satu per satu booth. Mungkin bagi Peter, ini bagian dari tugas. Tapi bagi mahasiswa, ini momen horor kecil yang menguji keberanian.

“Jelaskan dari mana ide bisnis kalian berasal? Apa keunikan produk kalian?” tanya Peter sambil mencatat.
Jawabannya pun macam-macam. Ada yang nyebut karena tugas kuliah, ada juga yang cerita panjang soal cita-cita punya coffee shop sejak kecil. Tapi intinya sama yaitu mereka belajar menjawab, menjelaskan, dan membela ide mereka sendiri.

Salah satu peserta, Imas Maesari P, bilang kegiatan ini bikin dirinya deg-degan sekaligus bangga. “Rasanya menegangkan, tapi sangat menyenangkan!” katanya.

Dan itu sebenarnya esensi dari Entrepreneur Fair ini, yaitu tempat di mana teori akhirnya ketemu kenyataan. Tempat di mana mahasiswa belajar bahwa jualan bukan cuma soal barang bagus, tapi juga soal percaya diri, komunikasi, dan tentu saja keberanian ditolak.

Menurut Fuad Nur Hasan, Kepala BSI Entrepreneur Center (BEC), acara ini sukses tanpa kendala. Tapi suksesnya bukan cuma soal acara berjalan lancar. Suksesnya adalah ketika mahasiswa pulang dengan kepala penuh ide baru dan semangat yang tumbuh dari pengalaman langsung.

Dan mungkin itu yang paling mahal, di mana pelajaran yang nggak bisa diganti dengan nilai A di KHS. Pelajaran bahwa berwirausaha bukan sekadar gaya hidup, tapi juga latihan mental, kreativitas, dan kegigihan.

Baca juga: Universitas BSI Adakan Pelatihan Digital Marketing untuk Meningkatkan Penjualan dan Perekonomian Warga Bojong Gede

Di tengah keramaian stand, banner warna-warni, dan suara tolak-tarik pembeli, ada satu pelajaran penting bahwa anak muda Indonesia, khususnya mahasiswa, nggak kekurangan ide. Yang mereka butuhkan adalah ruang. Ruang untuk mencoba. Ruang untuk gagal. Dan tentu saja, ruang untuk bangkit lagi sambil bawa hasil jualan yang mulai laris.

Karena siapa tahu, dari booth kecil di sudut kampus itu, lahir pengusaha besar masa depan. Bukan karena dia punya modal besar, tapi karena dia pernah berani berdiri, menawarkan produk, dan menahan malu saat ditolak.(ACH)

Leave A Reply

Your email address will not be published.