Ketika IoT dan AI Diperkenalkan Lewat Bahasa Manusiawi

0 47

BSINews, Jakarta – Di era ketika kulkas bisa ngobrol sama handphone, dan mobil bisa nyetir sendiri, dunia seperti nggak kasih ruang buat orang yang nggak mau belajar. Tapi tenang, mahasiswa semester 4 di Program Studi Informatika Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI) nggak masuk kategori itu. Soalnya, baru-baru ini, mereka disuntik vitamin digital lewat acara yang bisa dibilang lebih dari sekadar seminar, yaitu Pembekalan IT Bootcamp pada Senin (16/6).

Baca juga: Mau Kota Lebih Cerdas? Mahasiswa UBSI Kampus Tegal Bikin Terobosan IoT yang Bikin Dewan Juri Krenova Tepuk Tangan

Tema acaranya mungkin bikin jidat berkerut duluan, “Transformasi Digital: Integrasi IoT dan Kecerdasan Buatan untuk Solusi Masa Depan.” Tapi percayalah, begitu narasumber mulai buka suara, yang tadinya tegang berubah jadi penasaran.

IoT alias Internet of Things, dalam bahasa anak kos itu artinya semua barang bisa jadi “pintar” asal dikasih sensor dan koneksi internet. Bayangkan kipas angin di kamar kamu bisa nyala sendiri karena tahu kamu pulang dari kampus sambil ngos-ngosan. Atau lemari es yang bisa ngingetin kamu buat beli telur karena sisa tinggal dua biji.

Nah, itulah yang dijelaskan Mugi Rahardjo. Bukan cuma teknis soal arsitektur, tapi juga aplikasinya dalam kehidupan sehari-hari. “IoT itu bukan soal robot dan pabrik aja,” katanya. “Tapi soal hidup yang lebih mudah dan efisien.”

Sementara itu, Dr. Sumanto selaku Kaprodi Informatika UBSI datang dengan senjata AI-nya. Ia menjelaskan gimana sistem cerdas bisa bantu bikin keputusan otomatis. Mulai dari rekomendasi film di Netflix sampai sistem deteksi penipuan di perbankan.

Dan yang bikin acara ini nggak kayak kuliah tiga SKS adalah moderatornya, Waeisul Bismi, dosen Informatika UBSI yang bisa ngajak diskusi tanpa bikin takut salah ngomong. Acara jadi hidup, dan mahasiswa mulai paham bahwa teknologi bukan cuma buat jagoan coding, tapi juga buat orang yang mau ngerti dunia.

Salah satu mahasiswa sempat nyeletuk, “Ternyata AI dan IoT itu nggak serumit yang saya kira ya, Pak.” Dan itulah poin penting dari acara ini, yaitu bikin yang rumit jadi masuk akal. Teknologi nggak harus dibungkus jargon-jargon asing. Cukup dijelaskan lewat pengalaman sehari-hari—kayak ganti sandi WiFi kos yang bocor, atau kenapa GPS kadang bisa nyasar ke kuburan waktu disuruh nyari Minimarket.

Acara ini mungkin berlangsung cuma tiga jam. Tapi kalau berhasil nyulut rasa ingin tahu dan bikin mahasiswa pulang dengan kepala berisik oleh ide-ide baru, maka itu lebih dari cukup. Karena dalam dunia digital yang serba cepat, bukan seberapa banyak kamu tahu hari ini, tapi seberapa besar keinginan kamu buat terus belajar besok.

Baca juga: Kolaborasi Inovatif, UBSI Kampus Fatmawati dan SMK Bakti Idhata Ciptakan Alat IoT Sensor Suhu dan Kelembapan

Dan UBSI, lewat Fakultas Teknik dan Informatikanya, tampaknya paham betul bahwa mempersiapkan masa depan bukan soal menjejalkan teori, tapi soal bikin mahasiswa percaya bahwa mereka mampu menciptakan solusi.(ACH)

Leave A Reply

Your email address will not be published.