Ketika Mahasiswa UBSI Diuji Bukan Lagi di Kelas, tapi di Medan Tempur Industri Lewat Uji Kompetensi
BSINews, Karawang – Ada yang beda dari suasana kampus Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI) Kampus Karawang, Selasa 1 Juli 2025 kemarin. Bukan karena kantin mendadak jual seblak level neraka atau dosen ngajar sambil cosplay anime. Tapi karena hari itu, kampus biru ini menggelar ritual yang bikin jantung mahasiswa dag-dig-dug kayak nunggu pengumuman SNBP, yaitu Uji Kompetensi Berbasis Industri.
Iya, uji kompetensi. Bukan sekadar kuis dadakan dari dosen killer, tapi ini semacam gladi resik sebelum beneran nyemplung ke dunia kerja yang kerasnya bisa ngalahin skripsi bab 4. Kali ini, yang diuji adalah kemampuan mahasiswa dalam Sistem Basis Data. Coba bayangin, kamu selama ini ngoding di lab, lalu tiba-tiba ditantang bikin sistem basis data ala industri, dinilai langsung sama profesional dari perusahaan teknologi. Merinding, kan?
Baca juga: UBSI Dorong Pembelajaran Kolaboratif Lewat Uji Kompetensi Lapangan
Mahasiswa yang ikut datang dari dua generasi sekaligus, yaitu semester 2 yang masih unyu-unyu dan semester 6 yang sudah mulai galau nulis skripsi. Tapi di hadapan penguji dari PT Jidoka System Indonesia, semua status semester lenyap. Yang dilihat cuma satu, seberapa kompeten kamu? Bisa bikin skema relasional atau cuma bisa relasi online doang?
Buat yang belum tahu, PT Jidoka System Indonesia itu bukan perusahaan kaleng-kaleng. Mereka ini pemain lama di bidang pengembangan sistem informasi. Jadi ketika mereka duduk di hadapan para mahasiswa dengan wajah penuh ekspektasi, itu bukan sekadar sok tegas. Mereka tahu persis dunia kerja kayak apa.
Abdussomad, M.Kom, sang Kaprodi Sistem Informasi UBSI Kampus Karawang, menyebut kegiatan ini sebagai bagian dari kurikulum berbasis industri. Intinya, UBSI Sebagai Kampus Digital Kreatif pengin mahasiswa nggak cuma jago teori dan bisa ngoding buat tugas doang, tapi juga sanggup survive di lapangan, di dunia kerja yang nggak kenal SKS tapi kenal deadline dan revisi mendadak.
Serunya lagi, ujiannya bukan kaya ujian pilihan ganda ala CBT. Ini lebih mirip kayak reality show MasterChef, tapi bidangnya basis data. Mahasiswa dikasih studi kasus yang nyata, bukan soal “buatlah ERD penjualan buah di pasar tradisional”, tapi kasus riil dari dunia industri. Mereka ditantang bikin solusi sendiri, bukan bareng tim. Jadi kalau gagal, ya tanggung jawab sendiri. Nggak bisa ngandelin teman sebelah yang jago bikin query.
Dan jangan kira kegiatan ini cuma soal coding dan bikin ERD doang. Uji kompetensi ini juga nyentil banyak aspek lain, seperti komunikasi, manajemen waktu, kemampuan berpikir kritis, bahkan bagaimana caramu menjelaskan solusi ke orang lain. Karena kenyataannya, skill teknis itu penting, tapi soft skill lah yang bikin kamu bisa naik level dari “programmer biasa” jadi “talenta digital masa depan”.
Seorang penguji bahkan sempat nyeletuk, “Sekarang itu ijazah doang nggak cukup. Yang dicari industri adalah yang punya nilai lebih. Sertifikasi keahlian adalah bukti kamu nggak cuma ngerti, tapi juga bisa.”
Dan itu bener banget. Dunia kerja hari ini bukan sekadar tentang lulus, tapi lulus plus-plus. Plus pengalaman. Plus kemampuan. Plus sertifikasi.
Yang menarik, UBSI nggak mau berhenti di satu kegiatan ini aja. Mereka berencana memperluas kerja sama dengan lebih banyak perusahaan di bidang lain. Jadi siapa tahu, ke depan bakal ada uji kompetensi di bidang UX, data analyst, sampai cloud computing. Dan mahasiswa nggak cuma lulus bawa ijazah, tapi juga sertifikat kompetensi yang bisa langsung ditodongin ke HRD waktu wawancara kerja.
Baca juga: Mahasiswa UBSI Asah Kemampuan Analisis Data Lewat Uji Kompetensi Riset Pasar
Ujung-ujungnya, kegiatan kayak gini bukan cuma ajang uji kemampuan. Tapi juga soal nyiapin mental. Biar mahasiswa nggak kaget begitu masuk dunia kerja. Karena hidup setelah wisuda itu, kawan, adalah kenyataan tanpa kunci jawaban.
Dan seperti biasa, UBSI Sebagai Kampus Digital Kreatif membuktikan lagi bahwa mereka bukan cuma mencetak sarjana, tapi juga melahirkan talenta yang siap kerja, siap bersaing, dan yang terpenting, siap menghadapi dunia nyata yang kadang lebih ribet dari coding error di tengah malam.(ACH)