Ketika Orang Tua Diajak Ngobrolin Masa Depan, UBSI Kampus Margonda Bikin BKOT Serasa Talkshow Dunia

0 34

BSINews, Depok – Matahari Margonda masih malu-malu muncul, tapi di Gedung Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI) Kampus Margonda, semangatnya sudah lebih dulu menyala. Bukan karena ada bazar dadakan atau gebyar diskon dadakan, tapi karena ada yang lebih penting, BKOT alias Bincang Kampus Bersama Orang Tua pada Sabtu, 21 Juni 2025 mendatang.

Sebuah ritual tahunan yang lebih mirip temu kangen antar generasi, mahasiswa baru, orang tua, dan kampus — dalam satu forum yang nggak cuma membahas soal jurusan dan uang kuliah, tapi juga masa depan yang kadang terlalu luas buat dibayangkan.

Baca juga: Jelang Perkuliahan, UBSI Kampus Bogor Gelar BKOT untuk Bangun Sinergi dengan Orang Tua

Tahun ini, temanya ambisius banget, “Our Best Future.” Judulnya terdengar seperti bab terakhir dari novel coming-of-age, tapi justru di sinilah serunya. UBSI Sebagai Kampus Digital Kreatif nggak cuma ngomongin masa depan dari kacamata kurikulum dan SKS, tapi juga dari cerita-cerita nyata yang bikin hati nyut-nyutan antara kagum dan minder.

Coba bayangin, kamu lagi duduk bareng orang tua, dengerin kisah dua anak muda yang dulunya mungkin juga sama-sama bingung pas lulus SMA — dan sekarang? Satu kuliah di Spanyol, satu lagi di Filipina.

Shafa Callista Raihana Arif, mahasiswa Sastra Inggris semester 4, dengan santainya akan cerita soal pengalamannya kuliah di Universitat Pompeu Fabra, Barcelona, lewat program beasiswa IISMA 2024.

Dari belajar bahasa asing, ngobrol sama dosen yang pakai aksen Catalunya, sampai belajar budaya lokal sambil makan tapas — semuanya dirangkum dalam satu kisah yang bikin orang tua di ruangan itu mulai mikir, “Anak saya bisa juga nggak ya sampai ke sana?”

Sementara itu, ada Nur Badarul Nashiroh, mahasiswa Manajemen, juga nggak kalah keren. Ia baru aja pulang dari program pertukaran pelajar ke University of Northern Philippines. Dengan logat yang masih khas Indonesia banget, Nur akan cerita gimana dia harus menyesuaikan diri di kampus luar negeri, dari makanan yang bikin kangen pecel lele, sampai cara belajar yang kadang bikin otak kebalik.

Di panggung BKOT itu, yang terdengar bukan cuma cerita sukses, tapi juga kisah keberanian. Berani daftar, berani gagal, berani ninggalin zona nyaman. Dan UBSI, lewat BKOT, pengin bilang bahwa kampus ini bukan cuma tempat nyari IPK, tapi juga tempat belajar bermimpi lebih jauh. Bahkan ke luar negeri.

Taat Kuspriyono, Kepala Kampus UBSI Kampus Margonda, bilang kalau kehadiran Shafa dan Nur bukan sekadar ajang pamer. Ini semacam kode keras bahwa UBSI serius soal pengembangan potensi.

Baca juga: Bukan Sekadar Kuliah: Mahasiswi UBSI Ini Tembus Program Internasional dan Siap Berbagi di BKOT

“Nggak setengah-setengah. Dikasih sayap, diajarin terbang, dan kalau jatuh pun tetap disemangatin. Karena setiap mahasiswa, berhak punya panggungnya sendiri, entah itu di Margonda atau di Madrid,” pungkasnya.

Karena sebenarnya, BKOT ini bukan ajang kampus menunjukkan betapa kerennya mereka. Tapi ruang bersama, di mana kampus, mahasiswa, dan orang tua bisa duduk bareng dan sepakat: bahwa masa depan itu bukan sesuatu yang ditakuti, tapi disambut, sama-sama, dengan semangat dan keberanian.(ACH)

Leave A Reply

Your email address will not be published.