Malam, Zoom, dan Mimpi Jadi Network Administrator: Kisah Mahasiswa Teknologi Informasi Mengejar Kompeten
BSINews, Jakarta – Pernah nggak sih, kalian duduk di depan laptop malam-malam, bukan buat nonton drakor atau main game, tapi buat nyimak webinar yang penuh istilah teknis, sambil sesekali ngecek koneksi internet takut buffering? Nah, itulah yang dialami sekitar 350 mahasiswa Prodi Teknologi Informasi Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI) pada Rabu malam, 24 Juni 2025 kemarin.
Di saat sebagian orang sibuk ngopi sambil nonton bola atau rebahan nungguin sahur (iya, walaupun bukan Ramadan), para mahasiswa semester 6, 7, dan 8 ini justru memilih nongkrong virtual via Zoom. Bukan Zoom cinta-cintaan, ya, tapi pembekalan sertifikasi Network Administrator Madya. Keren kan? Biar nggak cuma jago ngoding, mereka juga siap tempur buat dapat pengakuan resmi dari negara lewat sertifikasi keahlian dari BNSP.
Dipandu oleh Wati Erawat selaku staf Prodi Teknologi Informasi UBSI yang kayaknya udah khatam dunia server dan jaringan. Webinar malam itu terasa seperti kuliah tambahan yang penuh makna. Dan nggak tanggung-tanggung, narasumbernya langsung Firmansyah, instruktur CISCO sekaligus asesor kompetensi keahlian. Dari gaya bicaranya, kelihatan kalau ia udah ngurusin kabel LAN sejak zaman warnet masih jadi tempat nongkrong anak muda.
Firmansyah menjelaskan bahwa sertifikasi itu bukan cuma selembar kertas atau kartu yang bisa dipajang di dompet buat pamer ke calon mertua. Tapi, itu adalah bukti pengakuan bahwa seseorang emang beneran ngerti dan bisa kerja sesuai bidangnya. Nggak cuma paham teori, tapi juga bisa praktik. Dan jangan salah, prosesnya nggak semudah install ulang Windows.
Ada tiga tahap yang harus dilewati, yaitu ujian tertulis, wawancara, dan praktik. Nah, di tahap praktik ini, mahasiswa wajib punya software Tracer versi terbaru. Bayangin aja, lagi simulasi jaringan, tiba-tiba laptop lemot atau nge-hang. Bisa-bisa stres duluan sebelum dinyatakan “kompeten”.
Selain itu, mahasiswa UBSI juga harus login ke situs lsp.bsi.ac.id, buat ngisi berbagai dokumen pendukung. Di dalamnya, ada 9 unit yang wajib dikuasai. Sembilan, sob! Bukan dua atau tiga. Dan itu bukan sembarang unit, tapi unit kompetensi yang bisa bikin otak ngepul kalau nggak dibarengi kopi.
Kalau dipikir-pikir, ini bukan sekadar pembekalan. Ini bentuk nyata dari tekad mahasiswa yang nggak mau sekadar dapat ijazah, tapi juga pengakuan keahlian. Karena di zaman sekarang, ijazah doang kadang belum cukup buat bersaing. Perlu skill, dan lebih penting lagi yaitu perlu bukti kalau kita emang punya skill itu.
Jadi, buat kalian yang mungkin masih males ngikutin pelatihan atau ngerasa sertifikasi itu cuma beban tambahan, ingatlah bahwa dunia kerja makin kejam. Dan usaha ekstra kayak gini bisa jadi pembeda antara kamu yang dilirik HRD atau yang dilewati begitu aja di tumpukan CV.
Lagian, siapa tahu dari jadi network administrator madya, kamu bisa naik kelas jadi chief IT officer. Atau minimal, bisa benerin Wi-Fi rumah kalau error, tanpa harus manggil teknisi tiap minggu.(ACH)