Rapat Dosen dan Persamaan Persepsi, Biar Nggak Kayak Warung Nasi Padang
BSINews, Karawang – Ada satu tradisi yang nggak pernah lekang oleh waktu di dunia akademik, rapat dosen. Nah, Kamis (18/9) kemarin, Program Studi (Prodi) Sistem Informasi Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI) ngadain yang namanya persamaan persepsi matakuliah. Kedengarannya kaku, ya? Tapi kalau mau dibawa ke obrolan warung kopi, intinya simple, biar para dosen nggak ngajarin mahasiswa dengan versi masing-masing.
Soalnya, kalau nggak ada penyamaan persepsi, kelas bisa kayak warung nasi padang. Mahasiswa yang satu dapet gulai lebih banyak, mahasiswa lain kebagian kuah doang. Sama-sama bayar SKS, tapi rasanya beda.
Makanya, para dosen pengampu enam matkul, mulai dari Metodologi Penelitian, Statistika, sampai Tata Kelola IT, kumpul via Zoom. Mereka diskusi soal RPS, metode ngajar, sistem penilaian, bahkan strategi praktikum.
Kaprodi Sistem Informasi, Sriyadi, sempet bilang dalam sambutannya, “Kegiatan persamaan persepsi bukan hanya formalitas, tetapi sarana untuk menyelaraskan strategi pengajaran. Dengan adanya keseragaman, mahasiswa akan memperoleh pengalaman belajar yang lebih terarah, sistematis, dan sesuai dengan capaian pembelajaran.”
Bahasanya akademis banget, tapi kalau dibikin lebih santai, seperti jangan sampai mahasiswa bingung, satu dosen bilang “pakai metode A”, dosen lain ngotot “harus metode B”. Lah, mahasiswa jadi korban split personality.
Sepanjang acara, para dosen UBSI nggak cuma bahas teori, tapi juga berbagi pengalaman ngajar. Ada yang cerita susahnya bikin mahasiswa melek statistik, ada yang curhat kalau ngajarin data science kadang kayak ngajarin kucing berenang. Tapi dari curhatan itulah muncul strategi baru gimana biar materi nggak cuma masuk telinga kiri keluar telinga kanan, tapi bisa nempel dan kepake buat hidup mereka.
Hasil akhirnya? Kesepakatan bareng buat bikin pengajaran lebih konsisten, relevan dengan industri, dan tentu aja nggak bikin mahasiswa tidur di kelas. Karena pada akhirnya, tujuan kuliah bukan cuma lulus ujian, tapi juga biar bisa survive di dunia kerja atau minimal nggak bingung pas disuruh bikin analisis data di kantor nanti.
Kalau dipikir-pikir, rapat persamaan persepsi ini semacam latihan demokrasi kecil-kecilan di dunia kampus. Semua orang punya suara, semua pendapat dipertimbangkan, lalu dicari jalan tengah. Bedanya dengan politik, di sini targetnya jelas yaitu bikin mahasiswa jadi paham, bukan bikin mahasiswa tambah bingung.
Baca juga: UBSI Gelar Persamaan Persepsi Dosen Pembimbing dan Penguji Tugas Akhir Secara Daring
Dan kalau dosen bisa satu suara, mahasiswa pun jadi lebih tenang. Nggak lagi ngerasa kuliah kayak main tebak-tebakan, “Hari ini saya belajar apa, ya?” Mungkin terdengar sederhana, tapi di situlah makna sebenarnya, menyamakan persepsi bukan cuma soal RPS dan metode pengajaran. Lebih dari itu, ini tentang komitmen bareng buat ngasih yang terbaik buat mahasiswa.
Karena, pada akhirnya, kuliah yang baik itu kayak kopi yang pas, nggak terlalu pahit, nggak terlalu manis, tapi bikin melek dan siap menghadapi dunia.(ACH)