Belajar atau Bermain? Dilema Mahasiswa di Tengah Demam Esport

0 38

BSINews, Jakarta- Dunia kampus hari ini sedang menghadapi fenomena baru yang datang bukan dari ruang kelas, melainkan dari layar gim esport. Bagi sebagian mahasiswa, ini adalah panggung prestasi yang menggairahkan. Tapi bagi yang lain, esport justru dipandang sebagai jebakan digital yang menggerus fokus belajar dan disiplin akademik. Maka, pertanyaan penting pun muncul  di tengah semangat kampus digital yang kian berkembang, apakah esport menjadi peluang kemajuan, atau justru ancaman tersembunyi bagi masa depan mahasiswa?

Baca juga: Mahasiswa UBSI Kampus BSD Ciptakan Game Sensor Tangan Berbasis Python

Esport Lebih dari Sekadar Bermain Game

Kita tidak bisa menutup mata bahwa esport telah menjadi ekosistem besar yang menawarkan berbagai peluang nyata. Di balik kompetisi dan layar komputer, mahasiswa sebenarnya sedang mengasah keterampilan strategis, kemampuan berpikir kritis, kerja sama tim, hingga manajemen waktu semua ini merupakan soft skill yang sangat dibutuhkan di dunia kerja.

Lebih dari itu, esport membuka ruang jejaring global. Mahasiswa yang aktif dalam komunitas esport sering kali terhubung dengan pemain dari berbagai negara, membangun koneksi lintas budaya yang memperluas wawasan. Tak sedikit pula yang menjadikan esport sebagai batu loncatan karier menjadi atlet profesional, caster, content creator, atau bahkan mengembangkan gim sendiri. Di tengah transformasi digital yang pesat, kehadiran esport juga mendorong inovasi di bidang teknologi informasi dan industri kreatif.

Sisi Gelap yang Tidak Boleh Diabaikan

Namun, seperti dua sisi mata uang, esport juga memiliki konsekuensi yang perlu dicermati. Tak jarang mahasiswa terjebak dalam rutinitas bermain berlebihan, hingga mengorbankan waktu belajar dan perkuliahan. Laporan dari sejumlah dosen menunjukkan penurunan motivasi belajar, tugas yang terbengkalai, serta kehadiran yang menurun di kelas akibat begadang demi menyelesaikan pertandingan daring.

Dampaknya tidak berhenti di ranah akademik. Budaya konsumtif pun tumbuh subur, mulai dari pengeluaran untuk kuota internet, perangkat gaming mahal, hingga item digital yang tak jarang dibeli demi prestise dalam gim. Dari sisi kesehatan, gaya hidup sedentari dan kurang tidur akibat bermain berlebihan berpotensi memicu gangguan penglihatan, kelelahan kronis, bahkan tekanan mental karena tuntutan kompetisi yang tinggi.

Antara Prestasi dan Pelarian

Esport hari ini memang menjadi simbol kemajuan digital, tapi kita juga harus bertanya apakah esport benar-benar menjadi jalur prestasi yang terarah, atau hanya pelarian dari tanggung jawab akademik? Fakta di lapangan menunjukkan bahwa hanya segelintir mahasiswa yang benar-benar mampu berkompetisi di tingkat profesional. Sisanya, terjebak dalam aktivitas bermain yang sekadar menghibur, namun tidak memberi nilai tambah jangka panjang.

Membentuk Ekosistem Sehat di Kampus Digital

Di sinilah kampus digital harus mengambil peran strategis. Esport tidak harus ditolak, tapi perlu diwadahi secara bijak. Pembentukan unit kegiatan mahasiswa (UKM) esport resmi bisa menjadi langkah awal untuk memberikan pembinaan yang terarah. Literasi digital juga penting diperkuat, agar mahasiswa mampu menyeimbangkan antara hobi dan tanggung jawab akademik.

Lebih jauh, kampus bisa menjalin kerja sama dengan industri gim untuk menciptakan ruang praktik dan inovasi. Mahasiswa bisa dilibatkan dalam pengembangan aplikasi gim, riset teknologi interaktif, atau menyelenggarakan turnamen internal yang membangun kreativitas sekaligus semangat kompetisi sehat. Dengan pendekatan ini, esport tidak berhenti pada aktivitas bermain, melainkan menjadi bagian dari proses pembelajaran, penciptaan, dan pemberdayaan.

Menjadikan Esport Sebagai Jalan, Bukan Halangan

Esport di era kampus digital adalah realitas yang tak bisa dihindari. Namun, apakah ia menjadi peluang emas atau batu sandungan, sangat bergantung pada bagaimana kita menyikapinya. Mahasiswa, dosen, dan institusi perlu bersinergi untuk menciptakan ekosistem digital yang sehat di mana esport bukan sekadar hiburan, tapi menjadi medium untuk tumbuh, berprestasi, dan bersaing di era global.

Baca juga: Games Interaktif Meriahkan Stand UBSI Kampus BSD di Indonesia Favorite Campus Expo 2025

Jika dikelola dengan cerdas, esport bisa menjadi gerbang bagi generasi muda untuk tidak hanya bermain di dunia digital, tapi juga menciptakan masa depan dari dalamnya.

Oleh: Bambang Sucipto dari Unit Sistem  Informasi, Keilmuan Bahasa Akper Bina Insan (Saat ini sedang dalam penyatuan dengan Universitas Bina Sarana Informatika Menjadi Fakultas Ilmu Kesehatan UBSI)

Leave A Reply

Your email address will not be published.