Bosan ke Museum? Saatnya Sejarah Lokal “Naik Level” Lewat Teknologi AR

0 32

BSINews, Tasikmalaya – Bagi sebagian generasi muda, museum dan situs sejarah masih identik dengan ruangan sunyi, papan informasi panjang, dan suasana yang terasa kaku. Padahal, tempat-tempat tersebut menyimpan cerita besar tentang perjalanan peradaban.

Di era digital seperti sekarang, tantangannya bukan pada kurangnya nilai sejarah, melainkan pada cara penyampaiannya. Generasi yang tumbuh dengan gawai dan pengalaman visual interaktif tentu membutuhkan pendekatan yang berbeda.

Melihat peluang ini, Bambang Kelana Simpony, dosen Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI) kampus Tasikmalaya, mendorong pemanfaatan teknologi Augmented Reality (AR) untuk menghadirkan pengalaman sejarah yang lebih hidup dan relevan.

“Kita tidak bisa memaksa Generasi Z menikmati cara lama. Justru sejarah harus masuk ke dunia mereka. AR bisa menjadi jembatan antara warisan budaya dan gaya hidup digital,” ujar Bambang dalam rilis yang diterima di Tasikmalaya pada Rabu (4/3).

Sejarah Tak Lagi Statis, Tapi Interaktif

Menurut Bambang, teknologi AR mampu mengubah cara orang menikmati situs sejarah. Bayangkan saat mengunjungi bangunan bersejarah, pengunjung cukup mengarahkan kamera ponsel, lalu muncul tampilan visual tiga dimensi yang menunjukkan kondisi bangunan tersebut puluhan atau ratusan tahun lalu.

Bukan hanya gambar, tetapi juga animasi aktivitas masyarakat pada zamannya, lengkap dengan narasi penjelasan. Pengalaman seperti ini tentu membuat sejarah terasa lebih dekat dan mudah dipahami.

Di dalam museum, artefak yang sebelumnya hanya dilihat dari balik kaca bisa tampil dalam bentuk model 3D yang interaktif. Pengunjung dapat melihat detailnya, memutar objek secara virtual, bahkan memahami fungsi dan proses pembuatannya melalui penjelasan digital.

Pendekatan ini membuat sejarah tidak lagi terasa sebagai materi hafalan, melainkan sebagai pengalaman eksploratif.

Baca juga: Hangatnya Ramadhan di UBSI Kampus Tasikmalaya, Ormawa Bersatu dalam BIRU 2026

Bukan Sekadar Tren, Sudah Terbukti Efektif

Pemanfaatan AR bukan hal baru di tingkat global. Institusi seperti Smithsonian Institution di Washington D.C. dan British Museum di London telah lebih dulu mengintegrasikan teknologi ini untuk meningkatkan kualitas pengalaman pengunjung.

Artinya, konsep ini bukan sekadar ide futuristik, tetapi sudah terbukti mampu meningkatkan minat dan pemahaman terhadap sejarah.

Bambang juga menilai bahwa pengembangan aplikasi AR sederhana sangat memungkinkan dilakukan oleh mahasiswa perguruan tinggi. Kampus memiliki peran strategis dalam menyiapkan talenta digital yang tidak hanya terampil secara teknis, tetapi juga peduli pada pelestarian budaya lokal.

Menurutnya, UBSI kampus Tasikmalaya, berkomitmen mencetak lulusan yang mampu menghadirkan inovasi teknologi yang berdampak nyata bagi masyarakat.

Pada akhirnya, teknologi bukan untuk menggantikan sejarah, melainkan untuk menghidupkannya kembali dengan cara yang lebih relevan. Jika pendekatan ini diterapkan secara konsisten, museum dan situs sejarah tidak lagi dipandang membosankan, tetapi menjadi ruang belajar yang interaktif dan bermakna bagi generasi masa kini.(Siti Hafizah)

Leave A Reply

Your email address will not be published.