Dapat Gaji Pertama tapi Cepat Habis? Dosen UBSI Ingatkan Pentingnya Keterampilan Mengatur Uang

0 28

BSINews, Tasikmalaya — Menerima gaji pertama kerap menjadi momen euforia bagi lulusan baru. Rasa bangga dan kebebasan finansial seolah berada di genggaman. Namun, euforia itu tidak jarang berubah menjadi kebingungan saat pertengahan bulan tiba dan saldo rekening mulai menipis.

Fenomena ini, menurut Bambang Kelana Simpony, dosen Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI) kampus Tasikmalaya, merupakan masalah klasik yang berakar pada satu kesalahan mendasar. Banyak orang terlalu fokus pada cara mendapatkan uang, tetapi mengabaikan cara mengelola uang itu sendiri.

“Banyak mahasiswa yang hebat secara akademis, memiliki keterampilan mumpuni, dan akhirnya mendapat pekerjaan dengan gaji yang baik. Sayangnya, mereka tidak pernah dididik menjadi manajer keuangan pribadi yang cakap. Akibatnya, mereka terjebak dalam apa yang saya sebut treadmill finansial, bekerja keras hanya untuk menutup pengeluaran,” ujar Bambang dalam rilis yang diterima, Kamis (12/2).

Baca juga: Mahasiswa UBSI Kampus Tasikmalaya Siap Taklukkan Bisnis Digital Berbekal AI

Menurut Bambang, di era modern literasi keuangan bukan lagi sekadar pengetahuan tambahan, melainkan soft skill fundamental yang sangat menentukan keberlanjutan hidup seseorang. Besarnya penghasilan tidak selalu sejalan dengan kestabilan finansial apabila tidak dibarengi kebiasaan mengatur uang yang sehat.

Ia mencontohkan, seseorang yang berpenghasilan besar tetapi boros justru berada dalam posisi yang lebih rapuh dibandingkan mereka yang berpenghasilan lebih kecil namun disiplin dalam mengelola keuangan. Penghasilan dapat meningkat seiring waktu, tetapi kebiasaan buruk akan terus menciptakan “kebocoran” finansial jika tidak diperbaiki.

Untuk membantu lulusan muda menghindari jebakan tersebut, Bambang membagikan tiga langkah praktis yang dapat langsung diterapkan sejak gaji pertama diterima.

1. Bayar Diri Sendiri di Masa Depan

Langkah awal yang disarankan adalah menyisihkan minimal 20 persen dari gaji untuk tabungan atau investasi segera setelah menerima penghasilan. Dana ini diperlakukan sebagai “tagihan wajib” untuk diri sendiri, sebelum uang digunakan untuk kebutuhan lain.

Pendekatan ini memaksa seseorang menyesuaikan gaya hidup dengan sisa penghasilan yang ada. Selain membangun kebiasaan menabung sejak dini, cara ini juga melatih disiplin finansial yang sangat penting untuk jangka panjang.

2. Terapkan Aturan Anggaran 50/30/20

Setelah menyisihkan tabungan di awal, sisa penghasilan dapat dikelola dengan aturan 50/30/20. Sebanyak 50 persen dialokasikan untuk kebutuhan pokok seperti makan, transportasi, dan tempat tinggal. Kemudian 30 persen digunakan untuk kebutuhan hiburan atau keinginan pribadi, sementara 20 persen sisanya ditujukan untuk tabungan tambahan atau dana darurat.

Aturan ini memberi batasan yang jelas tanpa menghilangkan ruang untuk menikmati hasil kerja. Dengan kerangka yang terukur, pengeluaran impulsif yang kerap merusak anggaran dapat ditekan.

Baca juga: Grogi Saat Presentasi? Dosen UBSI Ungkap 3 “Cheat Code” Ampuh Kuasai Panggung

3. Bangun Dana Darurat Sejak Awal

Selain tabungan rutin, Bambang menekankan pentingnya membangun dana darurat secepat mungkin. Idealnya, dana ini setara dengan tiga hingga enam bulan pengeluaran pokok dan disimpan di rekening terpisah yang tidak mudah diakses.

Dana darurat berfungsi sebagai pelindung ketika terjadi kondisi tak terduga, seperti sakit atau kehilangan pekerjaan. Dengan cadangan ini, seseorang tidak perlu panik atau terpaksa berutang saat menghadapi situasi genting.

Kesadaran mengelola keuangan sejak gaji pertama menjadi langkah kecil yang berdampak besar bagi perjalanan karier seseorang. Tanpa kebiasaan tersebut, kenaikan penghasilan justru berisiko hanya memperlebar pengeluaran, bukan meningkatkan kesejahteraan.

Dengan memahami bahwa mengatur uang adalah keterampilan yang dapat dilatih, lulusan muda memiliki peluang lebih besar untuk membangun stabilitas finansial secara bertahap. Bukan soal seberapa besar penghasilan di awal karier, melainkan seberapa bijak uang itu dikelola untuk menopang masa depan.

Oleh: Bambang Kelana Simpony, dosen UBSI kampus Tasikmalaya

Leave A Reply

Your email address will not be published.