Dari Kursi Tukang Cukur ke Layar Kode: Memanusiakan Teknologi Ala Kampus Digital Kreatif

0 16

BSINews, Tasikmalaya — Di tengah hingar bingar inovasi digital, di mana kecerdasan buatan dan algoritma canggih menjadi mantra sehari-hari, sebuah pertanyaan menggelitik muncul: dari manakah sebenarnya sumber kebijaksanaan sejati bagi seorang programmer? Bukan dari buku-buku tebal atau seminar berbayar, melainkan dari interaksi sederhana di kursi tukang cukur kampung. Ya, Anda tidak salah baca.

Dari Kursi Tukang Cukur ke Layar Kode: Memanusiakan Teknologi Ala Kampus Digital Kreatif

Bambang Kelana Simpony, seorang dosen dari Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI) sebagai Kampus Digit, dengan berani menantang paradigma yang ada. Beliau berpendapat bahwa terlalu sering produk digital gagal bukan karena kurangnya kecanggihan kode, tetapi karena hilangnya sentuhan manusiawi. Para pencipta terlalu asyik dengan teknologi dan melupakan siapa sebenarnya yang akan menggunakan karya mereka.

Coba renungkan sejenak. Tukang cukur langganan Anda, dengan segala kesederhanaannya, adalah seorang ahli UX, CRM, dan product manager ulung. Ia hafal gaya rambut favorit Anda, ingat cerita tentang anak Anda yang baru masuk sekolah, dan tahu persis topik obrolan yang akan membuat Anda nyaman. Ia tidak hanya memotong rambut, tetapi juga memahami *mengapa* Anda ingin rambut Anda dipotong. Apakah untuk meningkatkan kepercayaan diri, mencari pujian, atau sekadar relaksasi? Pemahaman mendalam akan kebutuhan “user” inilah yang seringkali luput dari perhatian para programmer. Mereka terlalu fokus pada apa yang diminta, tanpa menggali mengapa hal itu dibutuhkan.

Selain itu, tukang cukur juga memberikan feedback loop yang instan dan personal. Jika hasil potongan kurang memuaskan, ia akan segera memperbaikinya. Ia membaca ekspresi wajah dan bahasa tubuh Anda secara real-time, sesuatu yang jarang kita temukan di dunia digital yang serba anonim. Kita terlalu sering bersembunyi di balik data dan analitik, melupakan pentingnya percakapan nyata dengan pengguna. Lebih dari sekadar transaksi, tukang cukur membangun kepercayaan. Anda mempercayakan leher Anda pada pisau cukur di tangannya, sebuah simbol kepercayaan yang dibangun dari konsistensi, keahlian, dan sentuhan personal. Aplikasi atau platform digital yang sukses seharusnya juga mampu membangun kepercayaan serupa, di mana pengguna merasa aman, dipahami, dan dihargai.

Baca Juga : Dosen UBSI: Pentingnya Menyaring Informasi di Era Viral dan Clickbait

UBSI memahami betul pentingnya keseimbangan antara keahlian teknis dan pemahaman manusiawi. Pendekatan pembelajaran di kampus ini dirancang untuk “menurunkan” mahasiswa dari menara gading mereka. Melalui proyek pengabdian masyarakat dan kerjasama industri, mahasiswa didorong untuk berinteraksi langsung dengan UMKM, pedagang pasar, dan berbagai lapisan masyarakat. Mereka belajar mendengar, mengamati, dan merasakan masalah dari sudut pandang orang lain. Dengan demikian, mereka tidak hanya menjadi ahli kode, tetapi juga ahli dalam memahami kebutuhan manusia.

Teknologi yang hebat bukanlah yang paling canggih, melainkan yang paling memahami manusia. Pelajaran terbaik tentang kemanusiaan seringkali ditemukan di tempat-tempat yang paling sederhana, seperti di kursi tukang cukur kampung. Mari kita belajar dari kearifan lokal, dan menciptakan teknologi yang benar-benar bermanfaat bagi kehidupan. (Sfkrhm)

Leave A Reply

Your email address will not be published.