Di Tengah Gempuran AI, Satu Keterampilan Ini Akan Membuat Anda ‘Anti-Pecat’
BSINews, Tasikmalaya — Kecemasan akan kehilangan pekerjaan akibat kecerdasan buatan (AI) terus meningkat. Setiap hari, muncul berita tentang AI yang mampu menulis kode, membuat desain, atau menganalisis data lebih cepat dari manusia. Namun, di tengah gempuran tersebut, Bambang Kelana Simpony, seorang dosen dari Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI) kampus Tasikmalaya, menawarkan jawaban yang menenangkan. Menurutnya, ada satu keterampilan fundamental yang membuat seseorang hampir tidak tergantikan dan “anti-pecat”.
“Banyak orang berlomba-lomba mempelajari software atau bahasa pemrograman tertentu karena takut ketinggalan. Padahal, keterampilan teknis itu seperti mode, akan usang. Satu keterampilan yang tidak akan pernah usang dan menjadi senjata paling ampuh di era AI adalah kemampuan belajar cara belajar atau metakognisi,” ujar Bambang dalam rilis yang diterima, Rabu (11/2).
Baca juga: Strategi “Insider” Biar Lolos BUMN & MT: Bukan Cuma Pintar, Tapi Harus Punya Taktik
Ia menjelaskan bahwa AI merupakan mesin pembelajar yang luar biasa, tetapi bekerja berdasarkan data yang diberikan. Berbeda dengan manusia yang mampu belajar secara sadar, menyesuaikan strategi, serta mempelajari hal-hal baru yang belum pernah ada sebelumnya.
“Orang yang ‘anti-pecat’ bukanlah yang tahu segalanya hari ini, melainkan orang yang bisa dengan cepat menjadi ahli dalam hal apa pun yang dibutuhkan pasar besok. Ia tahu cara memecah topik baru yang rumit, menemukan sumber belajar yang tepercaya, dan menerapkan pengetahuan baru itu untuk memecahkan masalah,” tambahnya.
Metakognisi, Keterampilan yang Tak Lekang oleh AI
Menurut Bambang, pendekatan pendidikan yang menekankan kemampuan belajar secara adaptif menjadi fondasi penting dalam menyiapkan lulusan menghadapi perubahan teknologi. Ia menilai, Universitas BSI memposisikan diri bukan sekadar sebagai tempat transfer pengetahuan, tetapi sebagai ruang pembentukan cara berpikir mahasiswa agar mampu terus berkembang.
“Kami menyadari bahwa tugas kami bukan lagi mengisi kepala mahasiswa dengan sebanyak mungkin informasi yang mungkin akan usang dalam lima tahun. Tugas kami adalah melatih ‘otot’ belajar mereka. Kami tidak menciptakan ‘database berjalan’, melainkan ‘pemecah masalah’ yang mampu belajar apa saja. Karena itu, jangan takut pada AI. Anggap sebagai mitra agar kita bisa fokus belajar, beradaptasi, dan berkarya,” pungkas Bambang.
Oleh: Bambang Kelana Simpony, dosen UBSI kampus Tasikmalaya