Dorong Profesionalisme Akademik, Strategi JFA Jadi Kunci Karier Dosen UBSI di Era Digital
BSINews, Yogyakarta — Di tengah percepatan transformasi digital pendidikan tinggi, peran dosen tidak lagi terbatas pada aktivitas mengajar di ruang kelas. Dosen kini dituntut adaptif, produktif dalam riset, serta konsisten menjalankan Tri Dharma Perguruan Tinggi. Salah satu indikator profesionalisme tersebut tercermin melalui kepemilikan Jabatan Fungsional Akademik (JFA).
Dorong Profesionalisme Akademik, Strategi JFA Jadi Kunci Karier Dosen UBSI di Era Digital
Sebagai salah satu perguruan tinggi swasta terbesar di Indonesia, Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI) Sebagai kampus Digital Kreatif terus mendorong peningkatan mutu dosen sebagai fondasi kualitas pendidikan. Pengurusan JFA dipandang bukan sekadar kewajiban administratif, melainkan langkah strategis dalam membangun reputasi akademik dosen sekaligus mendukung visi UBSI sebagai universitas unggul di bidang ekonomi kreatif berbasis teknologi.
Di lingkungan UBSI yang dinamis dan berorientasi pada teknologi informasi, JFA memiliki peran penting dalam menjawab tantangan transformasi digital. JFA menjadi bentuk pengakuan resmi atas kepakaran dosen, tidak hanya sebagai praktisi, tetapi juga sebagai akademisi yang diakui negara. Selain itu, peningkatan jenjang JFA dosen turut berkontribusi besar terhadap capaian akreditasi program studi maupun institusi oleh BAN-PT dan Lembaga Akreditasi Mandiri (LAM).
Vadlya Maarif Kepala kampus UBSI kampus Yogyakarta menegaskan bahwa penguatan jabatan fungsional dosen merupakan bagian dari strategi jangka panjang institusi.
“Jabatan fungsional bukan sekadar urusan administratif, tetapi instrumen penting untuk menjaga mutu akademik. Dosen yang aktif meningkatkan JFA menunjukkan komitmen terhadap Tri Dharma dan kualitas pendidikan di UBSI,” ujarnya, kepada media di Yogyakarta, pada Selasa (20/1).
Baca Juga : Tanamkan Profesionalisme Sejak Dini, Prodi Manajemen UBSI Gelar Seminar Profesionalisme
UBSI juga telah menyiapkan berbagai fasilitas pendukung untuk mempermudah dosen dalam pengurusan JFA, mulai dari optimalisasi sistem SISTER, akses jurnal internal untuk publikasi ilmiah, hingga pendampingan melalui unit pengembangan dosen. Seluruh fasilitas tersebut dirancang agar dosen dapat fokus pada pengembangan kapasitas akademik tanpa terkendala aspek teknis.
Jenjang karier dosen di UBSI dirancang bertahap dan berkelanjutan, dimulai dari Asisten Ahli sebagai tahap awal setelah memiliki NIDN, dilanjutkan ke Lektor yang menuntut konsistensi penelitian dan publikasi, kemudian Lektor Kepala sebagai simbol kematangan akademik, hingga Profesor sebagai puncak karier yang membawa nama institusi ke level nasional dan internasional.
Pada akhirnya, Jabatan Fungsional Akademik bagi dosen UBSI merupakan cerminan profesionalisme dalam menjalankan Tri Dharma Perguruan Tinggi. Dengan peningkatan JFA secara berkelanjutan, dosen tidak hanya mengembangkan karier dan kesejahteraan pribadi, tetapi juga berkontribusi nyata dalam memperkuat reputasi UBSI sebagai institusi pendidikan tinggi yang adaptif, unggul, dan berdaya saing nasional. (Sfkrhm)