Kopi Gerobak vs Kafe Estetik, Siapa yang Menang di Era Gen Z?
BSINews- Siapa bilang menikmati kopi harus selalu di kafe estetik dengan harga selangit? Kini, cukup berjalan beberapa langkah, kita bisa menemukan booth atau gerobak kopi di pinggir jalan yang menawarkan es kopi susu gula aren hingga matcha latte dengan harga ramah di kantong.
Baca juga: Antara Firewall dan Kopi Pahit, Cerita dari Balik Pelatihan Keamanan Jaringan
Ngopi Nggak Harus di Kafe Mewah
Fenomena kopi gerobak ini bukan sekadar soal minum kopi, melainkan gaya hidup baru Gen Z yang serba praktis, fleksibel, dan tetap ingin tampil stylish. Dengan modal Rp10.000 sampai dengan Rp15.000, mereka bisa ngopi sambil kerja, hangout, atau sekadar jalan santai. Data mendukung tren ini studi Snapcart (2023) mengungkap 79% masyarakat Indonesia adalah peminum kopi, sebagian besar rutin menikmatinya setiap hari.
Bagaimana dengan Gen Z? Survei JakPat (2024) menunjukkan 31% Gen Z minum kopi 1–2 kali seminggu, 19% setiap hari, dan bahkan ada yang lebih dari tiga kali sehari. Waktu favorit mereka? Malam hari, pukul 18.00–21.00. Pilihan kopinya pun bervariasi: kopi instan berbagai rasa (57%), kopi seduhan murni (38%), kopi dari kafe (35%), kopi siap minum (27%), dan kopi keliling (20%).
Menariknya, setiap gelas kopi yang mereka beli bukan cuma memuaskan selera, tapi juga menggerakkan roda ekonomi kreatif lokal. Para penjual, baik anak muda maupun paruh baya, berjuang di balik gerobak atau sepeda kopi, bersaing sehat dalam jarak yang saling berdekatan. Sebuah ekosistem sederhana yang tumbuh karena antusiasme konsumen muda.
Ngopi Boleh Hits, Tapi Jangan Lupa Sehat
Di balik kepraktisan dan keseruan tren ini, ada sisi yang tidak boleh diabaikan kesehatan dan higienitas. Tidak semua gerobak kopi memperhatikan kebersihan, ada pula yang berjualan di lokasi rawan, bahkan mengganggu lalu lintas. Komposisi minuman juga kerap tak terkontrol, dengan tambahan gula berlebih yang dapat memicu obesitas, diabetes, atau gangguan lambung.
Gen Z yang punya lambung sensitif harus lebih waspada. Kopi dengan kadar asam tinggi bisa memicu maag, mual, atau nyeri. Apalagi kalau dikombinasikan dengan pola makan yang buruk dan kurang istirahat. Nikmatnya kopi bisa berubah menjadi derita jika tidak ada batasan.
Ini bukan ajakan untuk meninggalkan kopi gerobak. Sebaliknya, mari lebih bijak. Pilih tempat yang bersih, tanyakan bahan jika perlu, kurangi gula, dan batasi konsumsi harian. Imbangi dengan air putih, makan sehat, dan cukup istirahat. Karena sejatinya, ngopi bukan cuma soal rasa tapi juga soal rasa sayang pada diri sendiri.
Baca juga: Sertifikasi, Skripsi, dan Segelas Kopi! Cerita Mahasiswa UBSI yang Tak Cuma Ngejar Ijazah
Jika kamu tertarik mendalami kesehatan masyarakat dan ingin menjadi perawat profesional, Universitas Bina Sarana Informatika siap membentuk perawat unggul masa depan. Daftar sekarang di Prodi Sarjana Keperawatan, Fakultas Ilmu Kesehatan UBSI Kampus Salemba, Jalan Salemba Tengah No. 45 Jakarta Pusat.
Oleh: Silvana Evi Linda Dekan Fakultas Ilmu Keperawatan Akper Bina Insan (Saat ini sedang dalam penyatuan dengan Universitas Bina Sarana Informatika Menjadi Fakultas Ilmu Kesehatan UBSI)