Mitos atau Fakta? Nanas, Kehamilan, dan Sisi Ilmiah di Baliknya
BSINews- Buah nanas manis, asam, dan menyegarkan telah lama menjadi primadona di meja makan tropis. Kandungan vitamin C-nya yang tinggi menjadikannya simbol kesegaran alami dan penambah daya tahan tubuh. Namun, di tengah manfaat tersebut, nanas justru sering mendapat “cap merah” di kalangan masyarakat Indonesia, terutama bagi ibu hamil. Konon, buah ini bisa menyebabkan keguguran. Benarkah klaim tersebut memiliki dasar ilmiah, atau sekadar mitos yang diwariskan turun-temurun?
Baca juga: Hujan-Hujanan sebagai Terapi Alami untuk Jiwa, Tubuh, dan Kesuburan
Menelusuri Kandungan dan Manfaat Nanas
Dalam 100 gram buah nanas segar, terkandung energi sekitar 50 kkal, vitamin C sebanyak 47,8 mg, serta vitamin B6, folat, mangan, serat pangan, dan air dalam jumlah tinggi. Tak hanya itu, nanas juga mengandung enzim khas bernama bromelain. Kombinasi zat gizi ini menjadikan nanas bermanfaat bagi sistem imun, pencernaan, serta metabolisme tubuh.
Sayangnya, justru enzim bromelain inilah yang menjadi alasan di balik ketakutan sebagian masyarakat terhadap nanas. Bromelain diketahui mampu memecah protein dan, dalam kadar tinggi, dapat memengaruhi kontraksi otot polos termasuk otot rahim. Dari sinilah muncul anggapan bahwa mengonsumsi nanas bisa memicu keguguran, terutama pada awal kehamilan.
Antara Fakta dan Mitos
Namun, jika ditelaah lebih jauh, kandungan bromelain dalam buah nanas matang sebenarnya sangat kecil. Sebagian besar enzim tersebut justru berada pada batang nanas, bukan pada daging buahnya. Selain itu, enzim bromelain juga akan rusak oleh asam lambung saat proses pencernaan, sehingga kecil kemungkinannya memberikan efek langsung terhadap rahim.
Hingga kini, belum ada bukti ilmiah kuat yang membuktikan bahwa konsumsi nanas dalam jumlah wajar dapat menyebabkan keguguran. Sebaliknya, berbagai penelitian justru menunjukkan manfaatnya bagi ibu hamil. Kandungan vitamin C membantu pembentukan kolagen pada janin, mangan mendukung metabolisme energi dan kesehatan tulang, sementara serat alaminya membantu mengatasi sembelit—masalah yang umum dialami ibu hamil.
Namun, tentu saja, segala sesuatu yang berlebihan tidak baik. Mengonsumsi nanas muda atau dalam jumlah besar dapat menimbulkan rasa perih di lambung akibat kadar asam dan bromelain yang lebih tinggi, bahkan menimbulkan kontraksi ringan pada sebagian orang yang sensitif.
Bijak Menikmati Nanas di Masa Kehamilan
Kunci utamanya adalah kebijaksanaan dalam porsi. Ibu hamil dapat menikmati nanas matang dalam jumlah wajar—sekitar dua hingga tiga potong kecil saja tanpa harus merasa khawatir. Hindari nanas muda yang rasanya terlalu asam, dan bila memiliki riwayat kontraksi dini atau perdarahan, sebaiknya konsultasikan terlebih dahulu dengan tenaga kesehatan.
Dengan demikian, nanas bukanlah “buah terlarang” bagi ibu hamil. Justru, dengan pemahaman yang tepat, buah tropis ini dapat menjadi bagian dari pola makan sehat yang seimbang. Mitos tentang nanas dan keguguran semestinya dipahami sebagai bentuk kehati-hatian tradisional, bukan ketakutan tanpa dasar ilmiah.
Di era informasi digital saat ini, penting bagi masyarakat untuk membedakan antara mitos dan fakta ilmiah, terutama yang berkaitan dengan kesehatan. Edukasi berbasis bukti (evidence-based) menjadi kunci agar masyarakat tidak terjebak pada ketakutan yang tidak berdasar. Nanas adalah buah yang menyegarkan sekaligus menyehatkan selama dikonsumsi dengan bijak.
Baca juga: Rahasia Kesuburan dari Sepiring Toge, Kecil Bentuknya Besar Manfaatnya
Dan bagi Anda yang ingin memahami lebih dalam dunia kesehatan dan menjadi perawat profesional yang berlandaskan ilmu dan empati, Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI) siap membimbing melalui Program Studi Sarjana Keperawatan, Fakultas Ilmu Kesehatan. Daftar sekarang di Kampus UBSI Salemba, Jalan Salemba Tengah No. 45, Jakarta Pusat, atau hubungi layanan pendaftaran online di Mau kuliah? Ya di BSI aja!
Oleh: Ns. Nina sunarti, S.Kep M.Kep Dosen Fakultas Kesehatan, Akper Bina Insan (Saat ini sedang dalam penyatuan dengan Universitas Bina Sarana Informatika Menjadi Fakultas Ilmu Kesehatan UBSI)