Otak di Era Digital: Antara Berkah AI dan Ancaman ‘Demensia

0 24

BSINews, Tasikmalaya — Di tengah pusaran inovasi teknologi, Artificial Intelligence (AI) menjelma menjadi pedang bermata dua. Di satu sisi, ia menawarkan kemudahan dan efisiensi yang luar biasa. Namun, di sisi lain, tersimpan potensi ancaman yang mengintai kemampuan kognitif kita. Fenomena inilah yang oleh Bambang Kelana Simpony, seorang dosen Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI) sebagai Kampus Digital Kreatif diperingatkan sebagai “Demensia Digital”. Sebuah kondisi di mana otak kita terancam “lumpuh” akibat terlalu bergantung pada kecerdasan buatan.

Otak di Era Digital: Antara Berkah AI dan Ancaman ‘Demensia

“Demensia Digital” bukanlah diagnosis medis, melainkan sebuah sindrom kebiasaan yang merongrong. Bayangkan, kita terlalu sering mengandalkan GPS untuk menavigasi jalan yang sebenarnya familiar, menyerahkan perhitungan sederhana pada kalkulator, atau bahkan membiarkan AI merangkai email atas nama kita. Tanpa disadari, setiap kemudahan yang ditawarkan teknologi mengikis kemampuan dasar kita: memori spasial, numerasi, dan keterampilan berbahasa. Lebih jauh lagi, fondasi berpikir kritis dan kemampuan memecahkan masalah dari nol pun terancam runtuh.

Generasi muda, yang tumbuh dan bernapas dalam ekosistem digital, menjadi kelompok yang paling rentan. Terbiasa dengan gratifikasi instan, mereka mungkin kurang terlatih untuk menavigasi proses berpikir yang panjang dan kompleks. Akankah kita menciptakan generasi yang mahir mengoperasikan teknologi, namun tak berdaya tanpanya? Konsumen teknologi yang pasif, alih-alih inovator yang mampu menciptakan solusi baru? Pertanyaan ini menggantung, menuntut jawaban dari kita semua.

Menghadapi tantangan ini, UBSI mengambil peran garda depan. UBSI menyadari bahwa solusi bukanlah menolak teknologi, melainkan mendidik generasi muda untuk menjadi penguasa teknologi. Di sinilah pentingnya pendidikan yang memberdayakan, bukan yang memperbudak.

Baca Juga:Your Passion, Your Path! Inspirasi Menemukan Jurusan Tepat di Era Digital

Di UBSI, teknologi digunakan sebagai alat untuk mempercepat dan memperkaya proses belajar, bukan untuk memotong jalur pemikiran mahasiswa. Pembelajaran berbasis proyek menjadi andalan, di mana mahasiswa dihadapkan pada masalah nyata dan ditantang untuk merancang solusi dari awal hingga akhir. AI boleh dimanfaatkan untuk riset, tetapi analisis, sintesis, dan penciptaan kode atau desain tetap menjadi ranah kemandirian. Fokus pada logika dan algoritma menjadi landasan, membiasakan mahasiswa berpikir algoritmik menggunakan logika sehari-hari sebelum menyelami bahasa pemrograman yang kompleks.

Baca Juga:Rektor UBSI Ajak Wisudawan Siap Hadapi Era Transformasi Digital

Kita tidak ingin menciptakan robot yang hanya bisa mengoperasikan teknologi. Kita ingin menciptakan manusia utuh: kritis, kreatif, adaptif. Manusia yang menjadikan teknologi sebagai perpanjangan dari kecerdasannya, bukan penggantinya. Inilah benteng terkuat melawan “Demensia Digital”. Sebuah refleksi yang mengajak kita untuk bijak dalam memanfaatkan teknologi, menjaga otak kita tetap aktif, dan terus mengasah kemampuan berpikir kritis. Karena di era digital ini, kemampuan berpikir adalah aset yang tak ternilai harganya. (Sfkrhm)

Leave A Reply

Your email address will not be published.