Paradoks Generasi Digital, Tantangan Literasi Generasi Z di Tengah Dominasi Kecerdasan Buatan
BSINews-Kemajuan teknologi digital bergerak jauh lebih cepat daripada kesiapan manusia mengelolanya. Generasi Z yang kerap disebut sebagai generasi paling melek teknologi kini hidup di tengah banjir informasi, media sosial yang tak pernah tidur, serta dominasi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) yang semakin mengaburkan batas antara fakta dan rekayasa. Di balik segala kemudahan tersebut, muncul persoalan mendasar yang kerap luput dari perhatian: problem literasi digital yang kian mengkhawatirkan. Kedekatan Gen Z dengan teknologi ternyata tidak selalu berbanding lurus dengan kemampuan mereka memahami, memilah, dan memaknai informasi secara kritis.
Baca juga: Tingkatkan Literasi Visual, UBSI Kampus BSD Gelar Seminar Gratis “Creative News & Design”
Gen Z memang tumbuh sebagai generasi yang lincah mengoperasikan gawai, aplikasi, dan berbagai platform digital. Namun, kecakapan teknis ini sering kali tidak diiringi dengan kedalaman literasi. Banyak di antara mereka yang masih kesulitan membedakan informasi kredibel dan manipulatif, terutama di tengah maraknya hoaks, misinformasi, hingga konten berbasis AI seperti deepfake. Ketergantungan pada mesin pencari dan aplikasi berbasis kecerdasan buatan juga melahirkan pola pikir instan jawaban cepat menjadi tujuan, sementara proses memahami konteks dan berpikir kritis kerap terabaikan.
Fenomena ini menjadikan Gen Z rentan menjadi konsumen informasi tanpa filter. Informasi dikonsumsi dalam kecepatan tinggi, tetapi dengan daya cerna yang dangkal. Akibatnya, batas antara fakta, opini, dan rekayasa digital semakin kabur. Jika dibiarkan, kondisi ini bukan hanya berdampak pada kualitas pengetahuan, tetapi juga pada cara generasi muda membentuk sikap, mengambil keputusan, dan berpartisipasi dalam kehidupan sosial maupun demokrasi.
Di sisi lain, intensitas interaksi digital yang berlebihan juga membawa dampak pada kesehatan mental. Paparan layar yang terus-menerus, tekanan media sosial, serta tuntutan untuk selalu “terhubung” memicu kelelahan digital. Keluhan seperti stres, kecemasan, gangguan tidur, hingga menurunnya kemampuan fokus kini semakin sering ditemukan, terutama di kalangan remaja. Dalam konteks inilah konsep digital detox menjadi relevan, bukan sebagai bentuk penolakan terhadap teknologi, melainkan sebagai upaya menata ulang hubungan manusia dengan dunia digital.
Digital detox melalui pembatasan waktu layar, jeda dari media sosial, atau penggunaan teknologi secara lebih sadar dapat menjadi langkah kesehatan digital yang penting. Ketika remaja mengambil jarak sejenak dari hiruk-pikuk dunia maya, mereka memiliki ruang untuk berpikir lebih reflektif, memperkuat literasi, serta menyadari dampak penggunaan teknologi yang berlebihan. Jeda ini bukan kemunduran, melainkan strategi untuk kembali menggunakan teknologi secara lebih bijak dan bermakna.
Di tengah derasnya arus informasi dan dominasi AI, Gen Z membutuhkan lebih dari sekadar kemampuan menggunakan teknologi. Mereka memerlukan literasi digital yang kuat, ketahanan mental, serta kebiasaan digital yang sehat. Upaya ini tidak dapat dibebankan pada individu semata. Kolaborasi antara keluarga, sekolah, komunitas, dan lembaga kesehatan menjadi kunci dalam membangun ekosistem literasi yang kritis sekaligus manusiawi. Digital detox bukanlah solusi tunggal, tetapi dapat menjadi pintu masuk penting untuk melahirkan generasi muda yang lebih sadar, cerdas, dan seimbang dalam menghadapi tantangan dunia digital masa kini.
Oleh: Bambang Sucipto dari Unit Sistem Informasi, Keilmuan Bahasa Akper Bina Insan (Saat ini sedang dalam penyatuan dengan Universitas Bina Sarana Informatika Menjadi Fakultas Ilmu Kesehatan UBSI)