Salah Kaprah Soal Mental Gen Z, Antara Dunia yang Berubah dan Cara Bertahan yang Baru

0 77

BSINews-Dalam beberapa tahun terakhir, label “rapuh” kerap disematkan kepada Generasi Z. Mereka dianggap mudah cemas, cepat stres, dan kurang tahan menghadapi tekanan hidup. Narasi ini terdengar berulang, seolah menjadi kesimpulan tunggal tentang generasi muda hari ini. Namun, sebelum kita terburu-buru memberi cap tersebut, ada baiknya kita berhenti sejenak dan bertanya: benarkah mereka lebih rapuh, ataukah mereka hidup dalam tekanan yang memang jauh lebih kompleks dibanding generasi sebelumnya?

Baca juga: Di Era Serba Cerdas, Gen Z Tak Bisa Jalan Tanpa AI

Perubahan zaman membawa perubahan bentuk tekanan. Remaja masa lalu menghadapi tantangan sosial secara langsung dan terbatas ruang serta waktu. Sementara itu, Gen Z tumbuh dalam dunia digital yang beroperasi 24 jam tanpa henti. Arus informasi yang deras, paparan berita negatif, standar kesuksesan yang sering kali tidak realistis, serta tuntutan untuk selalu terlihat “baik-baik saja” membuat beban psikologis menjadi lebih berat. Otak mereka bekerja lebih keras untuk menyaring informasi, menyesuaikan diri, dan tetap bertahan dalam kompetisi global yang kian ketat. Tekanan ini bukan hal sepele, dan wajar jika berdampak pada kesehatan mental.

Yang kerap disalahpahami, Gen Z justru lebih berani mengungkapkan perasaan. Apa yang dianggap sebagai tanda “kerapuhan” sering kali adalah keberanian untuk jujur terhadap diri sendiri. Jika generasi sebelumnya diajarkan untuk memendam demi terlihat kuat, Gen Z belajar bahwa berbicara tentang kecemasan, kelelahan emosional, atau kebutuhan akan bantuan bukanlah aib. Kesadaran diri dan keberanian mencari pertolongan adalah bentuk kekuatan baru, bukan kelemahan yang patut diremehkan.

Lingkungan sosial yang dihadapi Gen Z pun semakin kompleks. Mereka tumbuh di tengah pandemi global, ketidakpastian ekonomi, perkembangan teknologi yang sangat cepat, serta perubahan struktur sosial yang signifikan. Media sosial memperluas ruang perbandingan tanpa batas tentang pencapaian, penampilan, gaya hidup yang sering kali tampak sempurna, meski tidak selalu nyata. Akibatnya, rasa kurang, cemas, dan tekanan untuk selalu tampil ideal menjadi bagian dari keseharian banyak anak muda.

Ironisnya, di tengah dunia digital yang serba terhubung, banyak Gen Z justru merasa kesepian. Interaksi lebih sering berlangsung melalui layar, sementara kedekatan emosional tidak selalu terbangun. Jika remaja dulu memiliki ruang bermain, berbagi cerita, dan bertemu secara langsung, Gen Z harus menavigasi relasi yang lebih rumit mulai dari perundungan digital, komentar anonim yang menyakitkan, hingga ekspektasi sosial yang datang dari berbagai arah sekaligus. Ruang aman di dunia nyata pun terasa semakin terbatas.

Di sisi lain, dunia yang mereka hadapi bergerak lebih cepat dan tidak stabil. Beban akademik meningkat, persaingan semakin ketat, biaya hidup melonjak, dan peluang kerja terus berubah mengikuti perkembangan zaman. Kompleksitas ini tidak sepenuhnya dialami generasi sebelumnya pada tingkat yang sama. Maka wajar jika tekanan mental yang dirasakan Gen Z terasa lebih besar. Namun, di balik semua itu, Gen Z juga tumbuh sebagai generasi yang kritis, adaptif, dan semakin melek akan pentingnya kesehatan mental. Mereka aktif mencari informasi, mempelajari strategi coping, dan berupaya memahami diri sendiri dengan lebih baik.

Ketika kita mengatakan Gen Z lebih rapuh, sejatinya kita sedang membandingkan dua generasi yang hidup dalam lanskap tantangan yang sangat berbeda. Alih-alih menyederhanakan dengan label, kita perlu melihat mereka sebagai generasi yang sedang berjuang bertahan dan tumbuh di dunia yang bergerak cepat dan penuh ketidakpastian. Gen Z bukan lemah mereka manusia. Sama seperti generasi lainnya, mereka membutuhkan ruang aman, dukungan, dan pemahaman. Tugas kita bukan memaksa mereka menjadi seperti masa lalu, melainkan menciptakan lingkungan yang memungkinkan mereka berkembang menjadi versi terbaik dari diri mereka sendiri.

Baca juga: Gen Z: Arsitek Masa Depan Digital, Bukan Sekadar Penonton Layar!

Jika Anda tertarik mendalami isu kesehatan mental dan ingin berkontribusi sebagai perawat profesional di masa depan, Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI) siap mendidik dan mencetak tenaga perawat yang kompeten dan berdaya saing. Bergabunglah bersama Program Studi Sarjana Keperawatan, Fakultas Ilmu Kesehatan UBSI Kampus Salemba, Jalan Salemba Tengah No. 45, Jakarta Pusat.

Oleh: Ns. Nina sunarti, S.Kep M.Kep Dosen Fakultas Kesehatan, Akper Bina Insan (Saat ini sedang dalam penyatuan dengan Universitas Bina Sarana Informatika Menjadi Fakultas Ilmu Kesehatan UBSI)

Leave A Reply

Your email address will not be published.