Sistem Informasi Geser Ribuan Pekerjaan Manual

0 14

BSINews — Kemajuan teknologi sistem informasi kini mengubah wajah dunia kerja di Indonesia. Seiring meningkatnya penggunaan sistem digital di berbagai sektor, sejumlah pekerjaan manual mulai tergeser bahkan hilang. Dari petugas administrasi hingga teller bank, otomatisasi perlahan mengambil alih peran manusia.

Menurut pengamat teknologi informasi, Dr. Andi Wijaya dari Universitas Muhammadiyah Surakarta, perubahan ini merupakan konsekuensi logis dari efisiensi sistem digital. “Pekerjaan tidak benar-benar hilang, tetapi bergeser bentuknya. Yang dulu dikerjakan manual kini dilakukan oleh sistem. Tantangannya adalah manusia harus bisa beradaptasi,” ujarnya.

Profesi yang paling terdampak adalah staf tata usaha, petugas arsip, dan kasir manual. Sistem seperti Enterprise Resource Planning (ERP) dan Point of Sale (POS) mampu menggantikan pekerja dalam pencatatan transaksi, pengarsipan, hingga pelaporan secara otomatis.

Geser Ribuan Pekerjaan Manual

Di dunia perbankan, nasabah kini lebih banyak menggunakan mobile banking dan e-wallet seperti BCA Mobile, BRImo, DANA, atau OVO. Akibatnya, jumlah transaksi di teller bank menurun drastis.

“Dulu antre di bank bisa setengah jam. Sekarang semua transaksi bisa dari ponsel,” kata Rina, staf keuangan ritel asal Surakarta yang kini beralih ke sistem digital.

Tak hanya sektor jasa, industri manufaktur juga terdampak signifikan. Sistem Internet of Things (IoT) dan Manufacturing Information System (MIS) kini memonitor mesin dan proses produksi tanpa pengawasan manusia secara langsung. Di sektor logistik, sistem pelacakan otomatis dan aplikasi kurir digital seperti Grab, Gojek, JNE, dan SiCepat menggantikan peran dispatcher manual dalam mengatur rute dan pengiriman.

Meski banyak pekerjaan lama tergeser, dunia digital juga melahirkan profesi baru dengan peluang besar. Beberapa di antaranya adalah data analyst, system developer, digital marketing specialist, cybersecurity expert, dan AI engineer, posisi yang kini sangat dicari perusahaan di berbagai sektor.

“Sistem informasi memang menggantikan banyak hal, tapi juga membuka lapangan kerja baru yang lebih strategis dan bernilai tinggi,” jelas Andi.

Baca juga: Bukan Sekadar Coding! Analisis Data Jadi Senjata Utama Mahasiswa Sistem Informasi

Perubahan cepat ini menuntut dunia pendidikan beradaptasi. Sejumlah kampus di Indonesia kini mulai memperkuat kurikulum berbasis transformasi digital dan analitik data agar lulusan siap menghadapi kebutuhan industri baru.

“Era sistem informasi bukan untuk ditakuti, tapi dipelajari,” tegas Andi. Ia menambahkan, kemampuan analisis data, logika berpikir sistematis, dan penguasaan teknologi menjadi kunci utama untuk bertahan di dunia kerja modern.

Revolusi digital melalui sistem informasi tidak hanya menggantikan pekerjaan, tetapi juga mengubah cara manusia bekerja dan berpikir. Dalam dunia yang terus terhubung, bukan lagi kekuatan fisik yang menentukan, melainkan kemampuan beradaptasi dan belajar teknologi.

Menurut Supriyanta, Kaprodi Sistem Informasi Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI) kampus Solo, “Kami memiliki visi keilmuan mengembangkan sistem informasi untuk mendukung pengambilan keputusan dalam mewujudkan ekonomi kreatif melalui inovasi teknologi. Melalui kurikulum yang up to date, kami mendorong mahasiswa agar aktif dan kreatif mengikuti perkembangan teknologi, terutama di bidang sistem informasi.”(Tiara Sari)

Leave A Reply

Your email address will not be published.