Edukasi Literasi Digital, Mahasiswa UBSI Ajak Anak Panti Cerdas Menyaring Berita di Era Digital
BSINews, Jakarta — Mahasiswa Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI) menggelar kegiatan pengabdian kepada masyarakat bertema Mengenal Berita Hoax: Cara Membedakan Fakta dan Fiksi di Era Digital di Griya Yatim & Dhuafa Kemanggisan pada Selasa, 2/12. Kegiatan ini diikuti oleh puluhan anak berusia 7 hingga 15 tahun dengan tujuan meningkatkan pemahaman literasi digital sejak dini.
Edukasi Literasi Digital, Mahasiswa UBSI Ajak Anak Panti Cerdas Menyaring Berita di Era Digital
UBSI sebagai Kampus Digital Kreatif terus mendorong mahasiswa untuk berperan aktif dalam memberikan edukasi yang relevan dengan tantangan zaman. Melalui kegiatan ini, mahasiswa UBSI Kampus Slipi menghadirkan pembelajaran yang aplikatif dan mudah dipahami agar anak-anak mampu menyikapi arus informasi digital secara kritis dan bertanggung jawab.
Dalam pelaksanaannya, mahasiswa memberikan pemahaman mengenai maraknya penyebaran berita hoax di media digital yang kerap dikemas secara menarik, namun menyesatkan. Anak-anak diajak mengenali ciri-ciri berita tidak benar, mulai dari sumber informasi yang tidak jelas, judul sensasional, hingga penggunaan gambar yang tidak sesuai dengan fakta. Materi disampaikan secara interaktif agar mudah dipahami oleh peserta.
Baca juga: Dosen sebagai Penggerak Inovasi Sosial melalui Penelitian dan Pengabdian
Salah satu mahasiswa UBSI menyampaikan bahwa literasi digital menjadi kebutuhan penting bagi anak-anak di era saat ini. “Kami ingin anak-anak tidak mudah percaya pada informasi yang beredar di internet dan terbiasa melakukan pengecekan sederhana sebelum mempercayai atau menyebarkan sebuah berita,” ujarnya.
Kegiatan ini mendapat sambutan positif dari pengurus Griya Yatim & Dhuafa Kemanggisan. Edukasi literasi digital dinilai sangat dibutuhkan mengingat penggunaan gawai sudah menjadi bagian dari aktivitas belajar dan hiburan anak-anak di panti tersebut.
Melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini, mahasiswa UBSI tidak hanya berbagi pengetahuan, tetapi juga membangun kepedulian sosial terhadap lingkungan sekitar. Diharapkan, edukasi semacam ini dapat membantu anak-anak menjadi pengguna teknologi yang cerdas, kritis, dan bertanggung jawab, sekaligus memperkuat peran mahasiswa sebagai agen perubahan di tengah masyarakat.(Niken)