Ketika Kader LMK Bertemu AI: Dari Curhat Warga sampai Bicara Pakai Yoodli
BSINews, Jakarta – Pernah bayangin nggak, gimana jadinya kalau kader-kader Lembaga Musyawarah Kelurahan (LMK)—yang sehari-hari bergelut dengan keluhan warga, jalanan rusak, dan harga sembako—tiba-tiba belajar public speaking bareng Artificial Intelligence? Serius. Ini bukan plot film fiksi ilmiah. Ini beneran kejadian, dan tempatnya bukan di Silicon Valley, tapi di Kelurahan Bambu Apus, Jakarta Timur.
Sabtu pagi, 17 Mei 2025 kemarin. Matahari masih malu-malu, tapi para pengurus LMK udah siap duduk rapi. Biasanya mereka ngumpul buat bahas aspirasi warga, sekarang mereka siap mendengar suara baru, yaitu suara teknologi.
Di sinilah dosen Fakultas Teknik dan Informatika Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI) turun gunung. Lewat kegiatan Pengabdian Masyarakat (PM), mereka bawa satu tema yang—jujur aja—kesannya agak “ajaib” buat telinga warga, yakni pelatihan pemanfaatan Artificial Intelligence untuk meningkatkan public speaking Kader LMK.
Iya, betul. AI dan public speaking. Dua hal yang bahkan sebagian anak kampus aja masih suka ngerasa pusing, apalagi kader kelurahan yang sehari-hari akrabnya sama data warga dan musyawarah RT/RW. Tapi justru di situlah menariknya.
Dipimpin oleh Roida Pakpahan sebagai ketua pelaksana, tim ini datang dengan semangat Tri Dharma Perguruan Tinggi, lengkap dengan empat dosen dan dua mahasiswa, termasuk Cinta Puspita dan Yusril Iza, yang kayaknya udah kenyang ikut PM sambil ngos-ngosan nyari sinyal di wilayah-wilayah perbatasan kota.
Acara dibuka hangat oleh Ketua LMK, Ahmad Royali. Gaya bicaranya tenang dan bersahaja—ciri khas orang yang biasa nyambungin suara warga ke telinga pemerintah. Tapi siapa sangka, hari itu Royali dan 15 kader lainnya bakal belajar bicara lebih “tajam” dengan bantuan teknologi yang biasanya cuma wara-wiri di berita teknologi, yaitu Yoodli.AI.
Kalau kamu belum kenal, Yoodli itu semacam “pelatih public speaking” digital. Dia bisa kasih kamu feedback soal kecepatan ngomong, kata-kata yang gak perlu, sampai bahasa tubuh. Singkatnya, kamu dilatih ngomong sama mesin, supaya pas ngomong ke manusia nggak bikin ngantuk.
Materinya dibawain oleh Sriyadi, dosen sekaligus Kaprodi Sistem Informasi UBSI. Ia ngomongnya runut, tapi nggak ngawang-ngawang. Penjelasan tentang bagaimana AI bisa bantu orang biasa jadi pembicara luar biasa, dibikin gampang dicerna. Dan yang bikin acara makin hidup, ada sesi praktik langsung pakai Yoodli. Beberapa peserta sempat bengong, mungkin mikir, “Lha, ini kok komputer bisa lebih jago ngoreksi cara ngomong saya daripada mantu saya?”
Tapi ya gitu, manusia itu adaptif. Setelah sesi praktik, pertanyaan mulai bermunculan. Ada yang nanya gimana kalau jaringan internetnya lemah, ada juga yang penasaran, “Kalau kita ngomong pakai logat Betawi, Yoodli bisa ngerti gak, Pak?” Pertanyaan-pertanyaan sederhana tapi jujur—menunjukkan semangat belajar yang nggak kalah sama anak-anak Gen Z.
Di balik semua ini, ada hal yang patut kita renungkan. Bahwa transformasi digital bukan cuma buat korporasi gede atau start-up unicorn. Di lorong-lorong kelurahan, teknologi juga bisa punya tempat.
Baca juga: Masa Depan Dimulai di Sini! UBSI Tangerang Gelar Workshop AI Kreatif Bersama Siswa SMA/SMK
Bukan buat gaya-gayaan, tapi buat alat perjuangan. Karena di zaman sekarang, kadang suara rakyat juga perlu dikuatkan dengan speaker yang lebih canggih. Dan kenapa enggak? AI bisa jadi salah satu jalannya.
Kalau dulu kader LMK menyampaikan aspirasi lewat musyawarah duduk melingkar sambil ngopi, sekarang mungkin sambil latihan vokal di depan laptop. Siapa tahu, lima tahun lagi, ada kader kelurahan jadi pembicara TEDx. Modalnya? Satu pelatihan dan keberanian buat ngomong dari hati—dengan sedikit bantuan AI.(ACH)