Ketika Teknologi Bertamu ke Panti Asuhan: Cerita dari Tegal Parang yang Nggak Sekadar Klik dan Upload

0 74

BSINews, Jakarta – Udara pagi di Tegal Parang, Mampang Prapatan, masih ramah dan nggak sok-sokan panas kayak Jakarta biasanya. Tapi di Aula Yayasan Yatim Piatu dan Sosial IRMA, suasana mulai terasa beda. Bukan karena ada artis TikTok datang, bukan juga karena ada bazar makanan. Tapi karena ada tamu yang bawa “oleh-oleh” masa depan, yaitu pelatihan website e-commerce berbasis AI, Sabtu, 3 Mei 2025.

Iya, kedengarannya serius banget. Tapi sebenarnya ini adalah bagian dari kegiatan pengabdian masyarakat dari Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI). Judulnya aja udah kayak tema skripsi, “Pembuatan Website E-Commerce Berbasis AI untuk Meningkatkan Kesadaran Digital UMKM di Yayasan IRMA”. Tapi kalau kita selami pelan-pelan, cerita di baliknya jauh lebih manusiawi dan hangat dari sekadar barisan jargon teknologi.

Baca juga: Kenalkan Teknologi ke Santri, Dosen UBSI Kampus Pontianak Gelar Workshop AI di Panti Asuhan

Yayasan IRMA ini bukan sekadar tempat penampungan anak-anak yatim piatu. Ia juga rumah bagi harapan-harapan kecil yang tumbuh diam-diam: mulai dari UMKM rumahan yang jualan makanan ringan, sabun organik, sampai kerajinan tangan yang dijual dari mulut ke mulut. Tapi ya itu dia masalahnya—semua masih serba konvensional. Promosi lewat WhatsApp grup, transaksi pakai buku catatan, dan doa-doa panjang agar dagangan laku. Belum ada toko online, apalagi fitur AI yang bisa kasih saran promosi.

Lalu datanglah tim dosen UBSI. Bukan seperti superhero pakai jubah, tapi pakai laptop, proyektor, dan semangat untuk ngajarin hal yang sering kali bikin pusing kepala, seperti teknologi.

Dipimpin oleh Andika Bayu Hasta Yanto—nama yang kalau ditulis lengkap bisa jadi password WiFi—tim UBSI hadir bukan untuk sok pamer ilmu. Mereka duduk sejajar dengan para pengurus dan ibu-ibu UMKM, ngobrol, nyatet, dan pelan-pelan memperkenalkan hal-hal seperti apa itu e-commerce, kenapa AI penting, gimana bikin website yang bisa bantu jualan tanpa harus ikut kursus coding.

Slamet Widodo, sang tutor utama, ngajarin pakai gaya bapak-bapak sabar. Bukan yang nyolot kayak dosen killer. Dibantu oleh Dahlia dan Gina yang tekun mengarahkan satu per satu peserta yang mulai bingung karena tombolnya beda.

Mereka bikin website beneran. Bukan cuma template demo, tapi situs hidup, lengkap dengan fitur rekomendasi produk otomatis, kolom testimoni, sampai integrasi sama media sosial. Semua itu dibungkus dalam pelatihan yang dikasih dengan bahasa sederhana. Bahasa manusia, bukan bahasa coding yang cuma dimengerti kaum rebahan yang doyan debug jam 3 pagi.

Tapi, yang paling ngena bukan teknisnya. Melainkan ekspresi para peserta ketika pertama kali lihat produk UMKM mereka muncul di layar, yakni rapi, elegan, dan online. Seorang ibu bahkan nyeletuk, “Wah, kayak punya toko beneran ya…” Padahal itu memang toko beneran. Cuma selama ini, dunia digital terasa terlalu jauh dari keseharian mereka.

Ketua Yayasan IRMA, H. Anas Kurdi, dengan nada haru dan semangat, bilang kalau kemampuan bikin toko online itu sekarang bukan lagi soal gaya-gayaan, tapi soal bertahan hidup. Dan H. Anas bener, di era sekarang, yang jualan es teh aja bisa kalah saing sama yang tahu cara bikin konten reels.

Makanya pengabdian masyarakat ini bukan akhir, tapi baru langkah awal. Andika bilang pendampingan akan terus dilanjutkan, bahkan ke depan bakal ada workshop digital marketing. Karena bikin website aja belum cukup. Harus tahu juga cara bikin orang mau datang dan belanja.

“Di era yang katanya serba cepat ini, kita kadang lupa bahwa teknologi seharusnya merangkul, bukan meninggalkan. Maka ketika UBSI datang ke Yayasan IRMA, kami nggak cuma ngajarin cara bikin website. Kami datang membawa pesan, bahwa setiap usaha, sekecil apapun, pantas punya panggung di dunia digital. Bahwa emak-emak pembuat keripik pun layak dikenal lebih luas dari sekadar tetangga sebelah rumah,” pungkasnya.

Baca juga: Berbagi Kebahagiaan! UBSI Kampus Pontianak Santuni Panti Asuhan Aisyiyah Tunas Harapan

Dan di sanalah letak pengabdian yang sebenarnya. Bukan soal seminar megah atau gelar panjang, tapi tentang hadir untuk mereka yang kadang merasa tak diundang oleh kemajuan.

“Siapa tahu, toko online kecil yang lahir dari aula sederhana itu suatu hari bisa jadi besar. Bukan karena teknologinya aja, tapi karena ada niat baik yang menyulut perubahan,” tandasnya.(ACH)

Leave A Reply

Your email address will not be published.