Mahasiswa UBSI Tanamkan Pemahaman Mazhab Lewat Ngaji Santai: Kenapa Mazhab Bisa Berbeda

0 71

BSINews, TangerangUniversitas Bina Sarana Informatika (UBSI) sebagai Kampus Digital Kreatif melalui mahasiswa Program Studi Sistem Informasi melaksanakan kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat bertema “Ngaji Santai: Kenapa Mazhab Bisa Berbeda, Tapi Islam Tetap Satu?” di SMA Muhammadiyah 2 Cipondoh, dengan peserta siswa kelas 12 IPA 3 pada Kamis (20/11). Kegiatan ini menjadi bagian dari tugas mata kuliah Pendidikan Agama yang digarap oleh Kelompok 2 Kelas 19.7A.03.

Mahasiswa UBSI Tanamkan Pemahaman Mazhab Lewat Ngaji Santai: Kenapa Mazhab Bisa Berbeda

Meskipun mengangkat tema fiqh yang cukup kompleks, penyuluhan dikemas dengan gaya santai, dialogis, dan penuh contoh yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Sejak awal, siswa menunjukkan antusiasme terhadap persoalan praktik ibadah seperti perbedaan sedekap, qunut Subuh, jumlah rakaat tarawih, hingga tata cara wudhu. Banyak di antara mereka mengaku sering bingung dan menganggap perbedaan itu sebagai bentuk kesalahan pihak lain. Temuan tersebut menunjukkan masih adanya kesalahpahaman umum terkait khilafiyah dan mazhab di kalangan remaja.

Berangkat dari hal itu, tim pemateri menyusun materi berdasarkan literatur fiqh dan ushul fiqh dari empat mazhab besar: Imam Syafi’i, Imam Malik, Imam Abu Hanifah, dan Imam Ahmad bin Hanbal. Penyampaian dibuat sederhana melalui cerita, diskusi ringan, serta contoh konkret yang sering ditemui masyarakat. Ketua pelaksana, Ahmad Khalifah Al Fath, menegaskan pentingnya memahami perbedaan tersebut. “Perbedaan mazhab itu bukan perpecahan. Justru bukti bahwa Islam fleksibel dan bisa menyesuaikan dengan kondisi yang berbeda-beda,” jelasnya.

Baca juga: Mahasiswa UBSI Kampus Karawang Kuatkan Kompetensi DDL dan DML Siswa SMK Sehati

Kegiatan berlangsung dari pukul 09.10 hingga 11.00 WIB dengan metode ceramah singkat, tanya jawab, dan penayangan slide. Interaksi berlangsung aktif, salah satunya ketika siswa bernama Kemal Shidiq Renel bertanya, “Bagaimana cara menilai perbedaan mazhab tanpa bersikap fanatik, dan apakah boleh berpindah mazhab?”. Pertanyaan ini memicu diskusi mendalam mengenai pentingnya toleransi dan keluasan fiqh dalam memandang perbedaan.

Seluruh rangkaian kegiatan juga direkam dan dipublikasikan melalui YouTube agar dapat diakses lebih luas. Acara ditutup dengan dokumentasi bersama dan pemberian hadiah kepada peserta aktif. Sebelum penutupan, pemateri kembali mengingatkan nilai utama kegiatan ini. “Yang bikin umat berpecah bukan mazhabnya, tetapi ego manusianya. Kalau kita pegang akhlak dan toleransi, perbedaan justru jadi rahmat,” tutupnya.(Niken)

Leave A Reply

Your email address will not be published.