BSINews, Solo – Kemajuan teknologi kecerdasan buatan alias AI, khususnya si ChatGPT, emang nggak ada matinya, guys! Siapa sangka kalau AI satu ini jadi hot topic di dunia pendidikan? Nah, salah satu yang punya banyak cerita soal ChatGPT ini adalah Fauzi, dosen kece dari Universitas BSI (Bina Sarana Informatika) Kampus Solo. Ia punya pandangan seru tentang manfaat dan risiko dari penggunaan ChatGPT dalam menyusun tugas kuliah.
Menurut Fauzi, ChatGPT punya banyak manfaat buat mahasiswa. “Pakai ChatGPT itu kayak punya asisten pribadi yang siap sedia kasih jawaban akurat dan cepat,” katanya. Siapa yang nggak suka dengan teknologi yang bisa bikin tugas kuliah lebih gampang dan nggak pakai ribet?
Baca juga: ChatGPT dan Bing AI: Alat Berbasis AI Untuk Mahasiswa Dalam Belajar Dan Mencari Informasi
Dengan ChatGPT, mahasiswa bisa cari referensi dan informasi dengan sekali ketik. Proses belajar jadi lebih efisien dan nggak makan waktu. Tapi bukan cuma itu, Fauzi juga bilang kalau teknologi ini bikin pembelajaran jadi lebih interaktif. “Mahasiswa bisa ngobrol sama AI, nanya apa saja, dan dapetin penjelasan yang detil. Pasti seru, kan?” ujarnya semangat.
Tapi ya, Fauzi nggak menutup mata soal risiko penggunaan ChatGPT. Ada bahaya tersembunyi yang perlu diwaspadai. “ChatGPT bisa jadi godaan besar buat mahasiswa nyontek. Gampang banget copy-paste jawaban tanpa ngerti atau kasih atribusi. Ini sih bahaya banget buat proses belajar mereka,” tegasnya.
Fauzi juga khawatir mahasiswa jadi terlalu tergantung sama AI ini. “Kita nggak boleh lupa, kemampuan kritis dan analitis itu penting. Jangan sampai mahasiswa malah malas mikir gara-gara semua tinggal tanya AI,” jelasnya sambil mengingatkan. Meskipun ChatGPT dirancang buat kasih jawaban akurat, tetep aja ada kemungkinan infonya kurang tepat, jadi mahasiswa wajib double-check biar nggak salah paham.
Nah, biar nggak kebablasan, Fauzi kasih beberapa solusi jitu buat menyikapi penggunaan AI dalam pendidikan. “Mahasiswa harus dibekali edukasi tentang etika penggunaan AI. Plagiarisme itu no-no, dan memverifikasi informasi itu wajib!” sarannya.
Ia juga menekankan bahwa AI itu alat pembelajaran tambahan, bukan pengganti dosen. “Dosen bisa pakai AI buat kasih penjelasan tambahan atau simulasi yang bikin materi kuliah lebih seru. Tapi tetep harus seimbang dengan pengembangan keterampilan kritis dan analitis mahasiswa,” tambahnya.
Fauzi akhirnya menggarisbawahi bahwa meskipun ada dampak negatif, sisi positif dari AI kayak ChatGPT dalam pembelajaran harus diambil demi kemajuan pendidikan. “Kita harus adaptif dan inovatif buat integrasikan teknologi demi kualitas pendidikan yang lebih baik,” tutupnya dengan penuh keyakinan.
Baca juga: Dosen Universitas BSI Beri Pelatihan ChatGPT dan Pengelolaan Website Desa Pangebatan
Jadi, ChatGPT bisa jadi sahabat setia buat mahasiswa, asal nggak dipakai sembarangan dan tetap kritis. Universitas BSI Kampus Solo, dengan dosen seperti Fauzi, terus mengawal penggunaan teknologi demi menciptakan generasi cerdas yang siap bersaing di era digital.
Dengan pemanfaatan yang bijak, ChatGPT bisa jadi kunci sukses dalam perjalanan pendidikan mahasiswa, bukan sekadar alat yang bikin malas berpikir. Jangan lupa, teknologi hanyalah alat, dan kitalah yang menentukan bagaimana cara menggunakannya untuk mencapai masa depan yang lebih gemilang!(ACH)