Bukan Sekadar FOMO! Intan Leliana Ajak Mahasiswa Belajar Jadi Kreatif yang Berdampak di Postinc

0 68

BSINews, Jakarta – Hari itu, di tengah gegap-gempita Postinc Goes to Campus di Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI) Kampus Kalimalang, suara Intan Leliana—Kaprodi Ilmu Komunikasi UBSI—mungkin tak paling lantang. Tapi justru karena itulah, kalimat-kalimatnya terasa lebih mengendap. Nggak menggelegar, tapi masuk pelan-pelan, langsung ke ruang refleksi paling dalam dari kepala mahasiswa yang hadir.

“Menjadi kreatif di bidang digital bukan berarti kita FOMO atau ikut-ikutan,” katanya, membuka sesi keynote speech dengan nada yang kalem tapi bikin nyentil.

Baca juga: Jangan Lelah untuk Bertumbuh! Sepenggal Spektrum dari Postinc buat Generasi Digital

Kalimat itu, jujur aja, seperti alarm buat banyak orang—termasuk mahasiswa—yang hidupnya berputar di bawah tekanan algoritma. Tiap hari berlomba-lomba bikin konten, asal viral. Pokoknya harus tampil dulu, urusan makna bisa belakangan. Tapi di tengah semua kebisingan itu, Intan justru menyodorkan perspektif yang lebih manusiawi.

Bahwa kreativitas di era digital bukan soal kecepatan mengejar tren, tapi tentang bagaimana kita bisa menyajikan makna. Dan makna, seperti yang kita tahu, nggak bisa dibikin instan. Ia menegaskan, “Ketika kita memegang ilmu yang baik, maka itu akan jadi sesuatu yang bermakna dan berdampak.”

Ilmu itu bukan cuma koleksi slide PowerPoint dari dosen. Tapi bagaimana kita bisa menjadikan wawasan itu alat untuk memahami dunia. Jadi senjata untuk menyampaikan pesan yang bikin orang mikir, bukan cuma nge-like. Menjadi content creator yang sadar, bukan korban kebisingan digital.

Dalam lanjutan sambutannya, Intan juga menyisipkan ajakan sederhana tapi penting, “Tetaplah menjadi manusia yang adaptif dan kolaboratif.”

Karena di era sekarang, bertahan sendirian itu nyaris mustahil. Bahkan AI pun butuh input manusia. Maka jadi penting untuk tetap punya empati, kerja bareng, dan nggak sok jago sendiri. Adaptif bukan berarti berubah-ubah tanpa arah. Tapi punya kemampuan membaca zaman, tahu kapan harus belajar ulang, dan tahu kapan waktunya jalan bareng.

Yang menarik, Intan nggak mau sesi ini berakhir cuma sebagai seremoni formal. Ia menutup dengan satu ajakan yang seolah mengajak semua peserta duduk sejenak, narik napas, dan mikir: “Saya ingin mengajak semuanya untuk merefleksikan kegiatan hari ini dari Postinc x UBSI.”

Baca juga: Skill, Kreativitas, dan Kenyataan Hidup: Oleh-Oleh dari Sambutan Dekan FKB UBSI di Postinc Goes to Campus

Refleksi. Kata yang sering kita lewati karena sibuk mengejar produktivitas. Tapi tanpa refleksi, semua pencapaian cuma jadi data, bukan jadi cerita. Dan seperti yang dibuktikan hari itu oleh UBSI Sebagai Kampus Digital Kreatif, kadang, satu sesi singkat bisa jadi cermin besar buat perjalanan hidup ke depan.(ACH)

Leave A Reply

Your email address will not be published.