Ketika Ibu-Ibu Menari, Mengedit Caption, dan Mengubah Dunia dari Pasar Kota

0 91

BSINews, Bekasi – Sabtu pagi (19/7), Pasar Kota di Pondok Gede, Bekasi, kelihatan biasa saja. Tapi di salah satu sudutnya, tepatnya di tempat komunitas Kreatif Muda Gemilang Indonesia berkumpul, ada yang luar biasa sedang terjadi. Bukan flash mob, bukan demo minyak goreng turun harga, tapi sebuah acara yang diam-diam bisa jadi revolusi, yaitu pengabdian masyarakat dari para dosen Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI), bareng ibu-ibu yang luar biasa aktif.

Pengabdian masyarakat ini berfokus pada “Sosialisasi Manfaat dan Tantangan Penggunaan Media Sosial Sebagai Sarana Informasi dan Edukasi”. Tapi jangan bayangin ini kayak seminar formal dengan pointer dan slide menjemukan. Karena begitu masuk, suasananya lebih mirip arisan RT yang kebanyakan ngemil insight ketimbang kue sus.

Baca juga: Dosen Universitas BSI Gelar Pelatihan Pembuatan Caption Fotografi Mobile untuk Ibu-Ibu Kp. Lio

Dipimpin oleh Eni Saeni, bareng tim dosen keren yaitu Dr. Evvy Silalahi, Deby Puspitaningrum, Dani Chandra, dan dibantu dua mahasiswa tangguh, Krisna dan Diva, para ibu-ibu komunitas yang biasanya sibuk aerobic dan line dance, hari itu diajak menari di medan baru yaitu dunia konten digital.

“Media sosial itu bukan cuma buat stalking mantan atau lihat resep kolak ubi. Tapi juga bisa jadi panggung untuk menyebar kebaikan,” kata Eni, dengan gaya bicara yang bikin betah. Para ibu-ibu manggut-manggut, sebagian sambil merapikan hijab, sebagian lagi sambil membenahi tripod kecil tempat biasanya mereka bikin video TikTok gerakan baris-baris.

Eni juga bilang, ibu-ibu nggak cuma bisa ngajarin anaknya sikat gigi yang bener atau bikin pastel isi bihun. Mereka juga bisa jadi influencer, bahkan tanpa ribet pake ringlight. “Cukup dari kegiatan yang biasa dilakuin aja. Menari, aerobic, line dance itu semua bisa jadi konten positif. Tinggal difoto, dikasih caption singkat, udah. Simpel tapi impactful.”

Caption-nya pun nggak usah ribet. “Ayo Bu Ibu, line dance yuk. Gerakannya sederhana, stres pun kabur,” ujar Eni, sambil kasih contoh gaya narasi. Seketika semua peserta terlihat tercerahkan, dan mungkin sudah kepikiran bikin reels baru begitu pulang.

Masalah terbesar mereka, kata Emma, instruktur aerobic yang juga pendiri komunitas, bukan di kameranya. Tapi… di caption-nya. “Susah banget, Bu, nyari kata-katanya,” katanya jujur. Dan di sinilah para dosen UBSI hadir bukan sebagai guru, tapi sebagai teman ngobrol yang ngajarin pakai bahasa manusia.

Deby juga ikut nimbrung, memberi penguatan soal pentingnya konten positif. Karena, katanya, algoritma medsos ini mirip anak kecil, mudah dipengaruhi. “Semakin banyak konten negatif, makin rusak pola pikir orang. Tapi kalau ibu-ibu bisa konsisten bikin konten edukatif, itu bisa ubah cara orang mikir. Bahkan, cara mereka ambil keputusan hidup.”

Iya sih, kedengerannya dalem. Tapi emang bener. Di zaman sekarang, caption bisa lebih dipercaya daripada khutbah. Story bisa lebih didengar daripada siaran radio. Jadi, ketika ibu-ibu mulai sadar kalau mereka bisa jadi content creator of change, di situlah cerita jadi berubah.

Komunitas Kreatif Muda Gemilang Indonesia sendiri memang bukan komunitas sembarangan. Berdiri sejak 2021, mereka punya visi mulia yaitu mencetak manusia kreatif, inovatif, dan kompetitif. Dan mereka memulainya dari ibu-ibu yang tadinya cuma ingin hidup sehat dan punya teman senam, tapi ternyata punya potensi jadi agen perubahan digital.

Baca juga: Dari Bedak ke Digital: Ibu-Ibu PKH Rangkapan Jaya Kini Jago Promosi Lewat Gawai 

Jadi, kalau besok kamu lihat video ibu-ibu menari di reels lengkap dengan caption inspiratif, jangan langsung skip. Siapa tahu, itu hasil pengabdian masyarakat yang lebih berdampak daripada konten prank atau drama rumah tangga selebgram.

Karena masa depan media sosial itu bisa jadi bukan di tangan para seleb. Tapi justru, di tangan ibu-ibu yang tiap Sabtu pagi lebih milih bikin konten edukatif daripada nonton sinetron ulangan.(ACH)

Leave A Reply

Your email address will not be published.