Begadang Gen Z Antara Kebebasan Diri dan Perangkap Produktivitas Semu

0 78

BSINews-Di tengah dunia yang seolah tak pernah benar-benar tidur, begadang kini menjadi bagian dari gaya hidup, terutama di kalangan Gen Z. Malam hari sering dihabiskan untuk mengejar tugas kuliah yang menumpuk, menyelesaikan pekerjaan freelance dengan deadline menekan, atau sekadar larut dalam scroll TikTok hingga dini hari. Yang menarik, sebagian besar sebenarnya sadar bahwa begadang tidak sehat, tetapi tetap melakukannya. Lalu, mengapa fenomena ini terus berulang?

Baca juga: Cerita Gen Z dan Sepotong Gorengan yang Viral

Bagi sebagian Gen Z, begadang bukan sekadar kebiasaan, melainkan ruang “pelarian” dan sarana untuk menemukan ketenangan. Setelah seharian dijejali tuntutan akademik, sosial, hingga finansial, malam hari justru terasa sebagai momen “me time”. Waktu yang seharusnya dipakai untuk beristirahat sering dialihkan menjadi ajang menikmati series, berbincang lewat Discord, atau menuliskan curahan hati di notes ponsel. Ironisnya, istirahat yang terampas itu dianggap harga yang pantas demi kebebasan sesaat.

Padahal, begadang menyimpan konsekuensi serius bagi tubuh dan jiwa. Data dari Australian Sleep Health Foundation (2019) menunjukkan bahwa 33–45 persen orang dewasa dengan durasi tidur kurang dari ideal mengalami penurunan signifikan dalam kesehatan. Dampaknya nyata: konsentrasi berkurang, emosi lebih labil, bahkan produktivitas bukannya meningkat justru semakin merosot. Banyak yang mengalami burnout tanpa menyadari akar masalahnya sederhana tubuh yang lelah tidak diberi kesempatan untuk pulih. Penelitian lain di Inggris tahun 2000 yang melibatkan lebih dari 433 ribu remaja usia 15–25 tahun juga menunjukkan hasil mencengangkan: dari 10 ribu lebih responden yang meninggal, 10 persen di antaranya adalah mereka yang memiliki kebiasaan begadang.

Di sisi lain, budaya hustle yang masih kental menanamkan perasaan bersalah ketika tidur terlalu cepat. Tidur dianggap kemewahan, bahkan kemalasan. Paradigma inilah yang harus kita ubah. Tidur bukanlah musuh produktivitas, melainkan fondasi utama agar tubuh dan pikiran mampu bekerja optimal. Mengabaikan tidur demi terlihat sibuk hanyalah jebakan ilusi produktivitas.

Kini saatnya kita bertanya pada diri sendiri apakah begadang sungguh-sungguh memberi ruang hidup, atau justru diam-diam menggerogoti energi dan semangat kita? Menghargai tidur sejatinya bukan bentuk kelemahan, melainkan wujud cinta terhadap diri sendiri.

Baca juga: Jangan Hanya Aktif di Layar, Saatnya Gen Z Aktif Bergerak!

Tidur lebih awal mungkin terlihat sederhana, tetapi di era serba cepat ini, ia bisa menjadi bentuk perlawanan paling radikal sebuah langkah kecil namun berarti untuk menjaga kesehatan, kebahagiaan, dan masa depan.

Oleh: Silvana Evi Linda Dekan Fakultas Ilmu Keperawatan Akper Bina Insan (Saat ini sedang dalam penyatuan dengan Universitas Bina Sarana Informatika Menjadi Fakultas Ilmu Kesehatan UBSI)

Leave A Reply

Your email address will not be published.