Cerita Gen Z dan Sepotong Gorengan yang Viral
BSINews-Di tengah derasnya arus digital dan budaya instan, istilah FOMO atau Fear of Missing Out semakin sering dibicarakan, terutama di kalangan Generasi Z. FOMO menggambarkan rasa takut tertinggal dari tren atau pengalaman yang sedang ramai di sekitar, apalagi jika itu disaksikan lewat media sosial seperti TikTok, Instagram, dan YouTube.
Baca juga:GERD, Ancaman Senyap di Balik Meja Kerja: Pahami dan Atasi Sebelum Terlambat
Gen Z yang tumbuh bersama internet dan teknologi sangat terbiasa melihat kehidupan orang lain secara real time. Sayangnya, tekanan sosial dan kebutuhan akan pengakuan membuat mereka merasa harus terus tampil, eksis, dan relevan. Ukuran diri sering kali dinilai dari jumlah like followers atau views. Maka tak heran jika muncul rasa cemas ketika tidak mengikuti apa yang sedang viral
Salah satu fenomena unik sekaligus memprihatinkan adalah munculnya istilah FOMO Gorengan. Ini bukan sekadar soal makanan ringan tetapi menyangkut gaya hidup konsumtif dan kurang sehat. Banyak Gen Z yang tergoda mencoba jajanan viral seperti gorengan kekinian es krim viral hingga street food lainnya hanya karena muncul di FYP media sosial.
Kalimat seperti belum nyobain berarti nggak gaul atau ketinggalan zaman jadi alasan kuat untuk ikut-ikutan tanpa memikirkan dampaknya. Ditambah lagi dengan gaya hidup instan yang makin menguat Gen Z cenderung memilih yang serba cepat mudah dan praktis. Prinsipnya sederhana cepat kenyang cepat senang tanpa perlu repot berpikir panjang
Data dari Survei Kesehatan Indonesia tahun 2023 menunjukkan bahwa kelompok usia 20 sampai 24 tahun mencatatkan angka konsumsi makanan berlemak dan gorengan sebesar 52,5 persen. Laki-laki sebesar 52,4 persen dan perempuan 51 persen. Bahkan lulusan SLTA pun mencatat angka tinggi yaitu 53,1 persen dan di pedesaan mencapai 53,4 persen. Artinya kebiasaan mengonsumsi makanan tidak sehat ini bukan hanya terjadi di kota tetapi juga merata di daerah. Padahal sebagian besar remaja tidak memenuhi kebutuhan konsumsi buah dan sayur tetapi tinggi dalam konsumsi kalori terutama dari gorengan
Gorengan memang enak dan mudah didapat tapi kandungan lemak trans serta kolesterolnya sangat tinggi. Jika dikonsumsi terus menerus bisa memicu berbagai gangguan kesehatan mulai dari obesitas kolesterol tinggi diabetes tipe dua masalah pencernaan hingga gangguan reproduksi. Sayangnya banyak dari Gen Z yang belum menyadari atau bahkan tidak peduli dengan dampak tersebut. Beberapa justru menganggap makanan tidak sehat sebagai bentuk hadiah atas usaha atau pelarian dari stres
Langkah penanganan perlu dilakukan segera Edukasi gizi yang menyeluruh bisa dimulai dari keluarga sekolah hingga lingkungan kampus. Gen Z perlu diberikan pilihan makanan yang lebih sehat edukasi tentang pola makan seimbang dan pentingnya aktivitas fisik. Peran keluarga juga sangat penting sebagai pendukung utama pola hidup sehat. Selain itu lembaga pendidikan dan fasilitas kesehatan bisa bekerja sama dalam melakukan skrining dini untuk mendeteksi risiko tekanan darah tinggi obesitas dan penyakit metabolik lainnya.
Baca juga:ย Remaja Harus Waspada! Seminar Keperawatan UBSI Buka Fakta Mengejutkan soal Makanan Pedas
Gaya hidup sehat adalah investasi jangka panjang. Apa yang dikonsumsi hari ini akan berdampak pada tubuh di masa depan. Maka penting bagi Gen Z untuk tidak terjebak dalam tren sesaat yang justru bisa membahayakan masa depannya sendiri. Jangan sampai demi viral dan pengakuan kesehatan justru dikorbankan.
Oleh : ย Silvana Evi Linda., Nina Sunarti Akper Bina Insan (Saat ini sedang dalam penyatuan dengan Universitas Bina Sarana Informatika Menjadi Fakultas Ilmu Kesehatan UBSI)