Saat Lapangan Sport Competition BSI FLASH 2026 Kota Bogor Jadi Ruang Silaturahmi yang Lebih Ramai dari Grup WA Keluarga

0 35

BSINews, Bogor – Di era sekarang, ketemu anak muda Bogor paling gampang ya di lapangan. Mau futsal, voli, basket asal ada ajang kompetisi, mereka nongol rame-rame, lebih kompak daripada kalau disuruh kerja bakti di rumah. Begitulah suasana pembukaan Sport Competition BSI FLASH 2026 Kota Bogor di Sport Center Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI) kampus Cilebut Cilebut, Rabu (10/9). Riuh, penuh energi, tapi tetap ada wibawa—karena yang datang bukan cuma pemain, tapi juga pejabat pendidikan.

Salah satunya Jusup Suheri, perwakilan dari KCD Pendidikan Wilayah 2 Kota Bogor. Di tengah hiruk pikuk suara peluit dan sorakan supporter, Jusup menyampaikan kalimat yang bikin kita mikir ulang soal makna sebuah kompetisi.

Baca juga: Ketika Pelajar Bogor Menyadari, Sport Competition BSI FLASH 2026 Bukan Lagi Soal Keringat

“Kegiatan seperti Sport Competition BSI FLASH 2026 ini sangat positif. Di sini para pelajar tidak hanya bertanding, tapi juga bersilaturahmi, sekaligus bisa menunjukkan keahlian dan kemampuan mereka di bidang olahraga. Dari sini akan terlihat bibit-bibit unggul yang bisa kita dorong ke jenjang yang lebih tinggi.”

Menarik, ya. Kompetisi yang biasanya identik sama rivalitas dan gengsi justru disebut sebagai ajang silaturahmi. Mungkin karena kalau di luar, silaturahmi anak muda lebih sering lewat reply story atau chat singkat di DM. Di lapangan, mereka terpaksa ngobrol langsung, teriak, adu strategi, bahkan saling tos. Sungguh interaksi analog yang sudah jarang ditemui.

Jusup juga nggak berhenti di situ. Ia melihat olahraga bukan sekadar soal hari ini, tapi pintu ke masa depan, “Harapannya, setelah mereka juara di sini, mereka bisa melanjutkan kuliah di UBSI melalui jalur beasiswa yang ditawarkan. Di kampus ini mereka tidak hanya belajar, tapi juga difasilitasi untuk mengembangkan bakat olahraga. Dari sanalah mereka bisa mewakili Bogor di level yang lebih tinggi.”

Ada optimisme yang terasa tulus di situ. Bahwa juara bukan cuma soal piala, tapi jalan panjang yang perlu dijaga, termasuk lewat pendidikan. Karena, ya, siapa juga yang bisa main bola selamanya tanpa bekal ilmu lain?

Baca juga: BSI FLASH 2026: Ketika Anak Bogor Bertanding, Bukan Cuma Mengejar Juara

Dan sebagai penutup, Jusup melempar pesan, “Kalah itu bukan kegagalan, tapi kesuksesan yang tertunda. Sebaliknya, bagi yang juara jangan cepat puas. Pertahankan prestasi, kembangkan diri, dan berlatih lebih serius. Karena kesuksesan hari ini bisa berubah jika tidak diiringi dengan kerja keras di masa depan.”

Kalau dipikir-pikir, kalimat itu bisa dipakai di banyak konteks hidup. Dari urusan skripsi yang ditolak dosen, lamaran kerja yang belum lolos, sampai percintaan yang kandas karena “kita lebih baik jadi teman aja” Semua butuh mental nggak gampang menyerah, plus latihan sabar yang nggak ada habisnya. Dan, siapa tahu, silaturahmi yang dimulai dari lapangan oleh UBSI sebagai Kampus Digital Kreatif ini bisa lebih awet ketimbang grup WA alumni sekolah yang biasanya cuma rame pas ada yang nikahan.(ACH)

Leave A Reply

Your email address will not be published.