Hari Pertama di Tanah Baru, Cerita Lima Mahasiswa Filipina Memulai Kelas di Indonesia
BSINews, Jakarta – Hari pertama selalu punya aroma campur aduk. Antara gugup, semangat, dan rasa penasaran yang menempel di udara. Begitu pula suasana di Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI) Kampus Kramat, Jakarta. Ketika lima mahasiswa dari University of Northern Philippines (UNP) resmi memulai perkuliahan mereka dalam program International Student Mobility.
Baca juga: Dari Ilocos ke Cawang! Cerita Pertemuan Dua Dunia di Program Student Mobility
Elison, Chlyde, Merilizh, Gian, dan Kim. Lima nama yang kini jadi bagian dari cerita lintas budaya antara Indonesia dan Filipina. Mereka datang bukan hanya untuk belajar di kelas, tapi untuk memahami bagaimana dua bangsa bisa saling bertukar ilmu dan cara pandang, bahkan mungkin selera makan dan gaya bercanda.
UBSI menyambut mereka dengan hangat. Pagi itu, suasana kampus terasa sedikit berbeda, lebih ramai, lebih hidup. Bendera dua negara terpajang berdampingan, dan senyum para mahasiswa lokal jadi jembatan tanpa kata.
Dua mahasiswa UBSI, Alief dan Patricia, ditunjuk menjadi student buddy, teman resmi sekaligus penopang di hari-hari awal adaptasi. Tugas mereka bukan main enteng, yaitu menemani, menjelaskan seluk-beluk sistem pembelajaran UBSI, hingga memperkenalkan budaya Indonesia dari hal-hal kecil seperti cara menyapa dosen sampai cara memesan nasi goreng tanpa sambal terlalu pedas.
Hari pertama dimulai dengan sesi penyambutan internal, pengenalan lingkungan kampus, serta briefing ringan soal tata tertib akademik. Tapi di balik itu semua, ada semangat yang terasa di setiap percakapan, bahwa ini bukan sekadar pertukaran pelajar, tapi pertemuan dua dunia yang sama-sama ingin tumbuh.
“Kami menyambut hangat kehadiran mahasiswa UNP di UBSI. Hari pertama ini menjadi awal dari pengalaman belajar lintas negara yang memperkaya wawasan akademik dan memperkuat pemahaman antarbudaya,” ujar Jimmi selaku Ketua Kantor Urusan Internasional dalam sambutannya.
Program ini merupakan bagian dari implementasi kerja sama internasional UBSI dan UNP, sekaligus wujud nyata dukungan terhadap kebijakan Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM). Selama satu bulan, para mahasiswa UNP akan mengikuti kegiatan akademik, kolaborasi kelas internasional, serta pertukaran budaya bersama sivitas UBSI.
“UBSI sebagai Kampus Digital Kreatif berharap program ini bukan hanya soal nilai dan sertifikat, tapi tentang pengalaman manusiawi, yakni tentang saling mengenal, saling belajar, dan tumbuh bersama. Karena di era global hari ini, kampus bukan lagi sekadar tempat belajar, tapi tempat dunia bertemu dalam persahabatan yang tak mengenal batas,” papar Jimmi.
Dan mungkin, di antara tawa yang tercipta di koridor kampus dan dialog sederhana di kantin, mereka akan sadar satu hal, bahwa ilmu memang penting, tapi yang membuat perjalanan ini berharga adalah pertemuan dengan orang baru, budaya baru, dan versi diri sendiri yang belum pernah mereka kenal sebelumnya.(ACH)