Etika, Empati, dan Ilocano! Pelajaran tentang Bekerja dengan Hati dari Sir Jhonniño
BSINews, Bekasi – Masih di ruang yang sama, tapi atmosfer hari itu lebih hangat. Bukan karena AC-nya mati, tapi karena yang bicara kali ini bukan sekadar akademisi, melainkan sosok yang bicara dari hati pada Rabu (5/11).
Sir Jhonniño A. Serdenia, MBA, dari University of Northern Philippines, membuka materinya dengan kalimat yang menempel di kepala, “People don’t leave bad jobs. They leave workplaces that forget they’re human”.
Baca juga: Kelas yang Menyatukan Dunia, Saat Dosen Filipina Mengajar di Kaliabang
Materinya berjudul Ilocano Workplace Values and Social Exchange: A Cross-Cultural HRM Perspective. Tapi yang ia bicarakan lebih dalam dari sekadar manajemen sumber daya manusia, ia bicara tentang jiwa di balik setiap profesi.
Sir Jhonniño menceritakan nilai-nilai kerja masyarakat Ilocano di Filipina, seperti nagaget (rajin), nasalimetmet (hemat), naanus (sabar), dan dayaw (bermartabat). Empat kata sederhana yang membentuk pondasi budaya kerja mereka.
Saat ia menjelaskan, beberapa mahasiswa Manajemen UBSI kelihatan saling melirik, mungkin sedang membandingkan, apakah mereka sudah “nagaget” hari ini, atau malah masih rebahan sambil buka e-wallet.
Yang menarik, ia mengaitkan nilai-nilai itu dengan teori Social Exchange bahwa hubungan di tempat kerja bukan sekadar kontrak, tapi pertukaran rasa saling menghargai. “Engagement is not built by policies. It is built by people who care,” katanya.
Kalimat itu bikin ruang jadi hening. Tidak ada istilah HR yang lebih jujur dari itu. Sir Jhonniño sempat menyinggung juga bahwa nilai-nilai Ilocano mirip dengan budaya kerja orang Indonesia yaitu gotong royong, harmoni, dan rasa hormat.
“Our values cross the sea, and remind us that the best workplace is not the one with the best system, but the one with the most empathy,” ungkapnya.
Baca juga: Antara Teori, Tabel, dan Kenyataan! Catatan dari Kelas Dr. Glenn Briones
Jimmi selaku Kepala Kantor Urusan Internasional UBSI, yang hadir mendampingi, menimpali dengan senyum lebar. “Kegiatan ini luar biasa. Mahasiswa UBSI jadi belajar bahwa riset dan nilai budaya bisa berjalan berdampingan dan dari sinilah semangat untuk melakukan penelitian tentang manusia bisa tumbuh.”
Kelas hari itu mungkin berakhir di jam pelajaran, tapi pesannya akan lama tinggal. Karena di dunia kerja yang makin digital, ternyata yang paling mahal bukan skill coding atau analisis data. Yang paling langka adalah manusia yang tetap tahu caranya jadi manusia.(ACH)