Sandro Arnesto dan Perjalanan Sunyi Seorang Karyawan yang Tidak Menyerah Pada Lelah

0 80

BSINews, Bekasi – Di antara para wisudawan yang datang dengan cerita masing-masing, Sandro Arnesto berdiri sebagai sosok yang tenang. Tidak meledak-meledak. Tidak berusaha paling menonjol. Tapi justru dari ketenangan itu muncul kisah yang diam-diam menginspirasi.

Sandro berasal dari Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI) kampus Kramat. Jurusan Teknologi Komputer. Siang bekerja sebagai Head of Property Operation di PT IAS Property Indonesia yang menjadi bagian dari Injourney Group. Malamnya kembali menjadi mahasiswa yang menata masa depannya lewat layar kelas.

Baca juga: Wisudawan Terbaik yang Menjejak Karawang hingga Singapura

Saat mengenang pertama kali kuliah di UBSI, ia tersenyum kecil. Bagi Sandro, kampus ini bukan soal gedung atau ruang kelas yang mewah. UBSI baginya adalah tempat yang membuat hidupnya mungkin. Fleksibilitas waktu. Itu kata kunci.

Ia bisa bekerja penuh tanpa harus menelantarkan pendidikan. Bagi seseorang yang memikul tanggung jawab pekerjaan dan beasiswa sekaligus, ruang fleksibel bukan sekadar fasilitas. Itu penyelamat.

Jurusan Teknologi Komputer ia pilih bukan karena ikut arus. Ada dua alasan yang saling berkait. Pertama, ia menerima beasiswa dari perusahaan dengan batas studi sampai D3. Kedua, ia memang punya darah teknik yang mengalir dari pengalaman kerja. Pilihan itu tidak rumit tetapi penuh kesadaran.

Satu mata kuliah yang paling menempel di benaknya adalah IOT. Ia menyebutnya mata kuliah yang membuatnya terkesan. Ada ketertarikan personal terhadap teknologi kendali jarak jauh yang menurutnya seperti memegang masa depan di ujung jari. Dari kelas itu, ia menyadari betapa luas dunia yang bisa disentuh oleh seseorang yang mau belajar.

Tidak seperti mahasiswa lain yang aktif berorganisasi, Sandro menjalani kuliah dengan fokus penuh. Bukan karena tidak ingin ikut kegiatan, tetapi karena ritme pekerjaannya tidak memberi ruang. Deadlinenya sering berlapis. Tanggung jawabnya sebagai karyawan dan penerima beasiswa membuat ia harus bijak mengatur napas.

Ketika dinyatakan sebagai peraih Wisudawan Terbaik UBSI, ada kilatan rasa excited di wajahnya. Predikat itu bukan sekadar angka di atas kertas. Itu hasil dari malam-malam menyelesaikan laporan pekerjaan sambil membuka materi kuliah. Itu hasil dari weekend yang lebih sering dipakai untuk tugas akhir daripada istirahat. Itu hasil dari tanggung jawab yang ia pegang kuat. Tidak heran jika ia menyebut pencapaian ini sebagai sesuatu yang luar biasa.

Untuk tips belajar, ia menyampaikan sesuatu yang sederhana tetapi penting. Pahami materi. Baca ulang setelah kelas selesai. Belajar yang tidak terburu-buru. Kadang betul bahwa kesuksesan bukan hasil trik pintar, tetapi kebiasaan kecil yang dilakukan setiap hari.

Rencananya setelah ini adalah melanjutkan ke jenjang S1. Jurusan yang sama. Ia tidak berniat berbelok arah. Teknologi sudah menjadi rumahnya. Dan ia ingin menapaki lantai berikutnya dari rumah itu dengan mantap.

“Tentang sistem pengajaran di UBSI, saya menilai bahwa metode hybrid memberikan ruang bernapas bagi karyawan yang ingin kuliah. Ada rasa dihargai. Tidak semua kampus memberi fleksibilitas seperti ini,” ungkap Sandro.

Harapan Sandro untuk lulusan UBSI sederhana tetapi berbobot. Ia ingin para lulusan memakai ilmu, pengalaman, dan nilai yang sudah ditanamkan untuk memberi manfaat. Untuk bekerja keras. Untuk membawa perubahan positif bagi diri sendiri dan orang sekitar. Kalimat yang terasa seperti doa yang tidak diucapkan formal tetapi lahir dari perjalanan seorang pekerja keras.

Baca juga: Rektor Kampus dan Deg-degan yang Tidak Pernah Diceritakannya di Depan Wisudawan

“Untuk adik tingkat, terus berjuang. Perbaiki attitude. Perbanyak pengalaman dan ilmu. Karena masa depan tidak datang dari keberuntungan, tetapi dari versi terbaik diri sendiri yang ditempa setiap hari.

Dalam setiap wisuda selalu ada tokoh yang kisahnya tenang tetapi dalam. Sandro adalah salah satunya. Tidak banyak bicara, tetapi perjalanan hidupnya membuktikan bahwa orang yang bekerja dengan diam sering kali yang paling jauh melangkah.(ACH)

Leave A Reply

Your email address will not be published.