Cerita Anak Akuntansi yang Jatuh Cinta pada Data dan Bertahan dengan Kepala Tegak
BSINews, Bekasi – Di antara lautan wisudawan yang sibuk merapikan toga sambil memastikan poni tetap rapi, ada satu kisah yang terasa seperti perjalanan panjang seorang pekerja keras yang hidup di dua dunia sekaligus. Dunia kuliah. Dunia kerja. Dua dua menuntut, tapi dua dua juga membentuk seseorang menjadi versi dirinya yang paling tahan banting.
Kisah itu milik Akmal Iskandar, alumni Program Studi Sistem Informasi Akuntansi D3 Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI) yang datang jauh-jauh dari Cikampek dengan tas penuh mimpi dan tangan yang tidak pernah benar-benar berhenti bekerja
Baca juga: Wisudawan Terbaik yang Menjejak Karawang hingga Singapura
Siang hari Akmal bekerja paruh waktu mengurusi akuntansi dan pajak. Malam ia menjadi freelancer yang menangani SPT Masa PPN, SPT Tahunan Badan, bukti potong PPh, dan segala hal yang biasanya bikin orang awam ingin pura-pura pingsan. Di tengah itu semua, ia tetap kuliah. Tetap hadir. Tetap nyicil masa depan pelan-pelan dengan ritme yang sering kali hanya ia sendiri yang paham.
Kesan pertamanya tentang kampus tidak rumit. Bukan soal gedung megah atau fasilitas kekinian. Yang ia ingat adalah ruang yang mendukung perkembangan diri. Sistem hybrid yang membuatnya bisa mengejar ilmu tanpa harus menukar jam kerjanya. Dosen yang mengajar teori tanpa melupakan realita dunia kerja. Ada ruang bertumbuh di situ. Ruang yang membesarkan mental dan kemampuan.
Jurusan yang ia pilih bukan pilihan random. Sistem Informasi Akuntansi adalah titik temu antara ketelitian akuntansi dan logika teknologi. Jurusan yang membuatnya bukan hanya paham angka, tapi juga paham sistem yang menggerakkan angka itu. Ia tidak ingin sekadar menjadi pencatat. Ia ingin jadi pengelola data. Orang yang mampu menerjemahkan logika bisnis dan pergerakan digital dalam satu tarikan napas.
Mata kuliah yang ia sukai pun mencerminkan karakternya. Logika dan Algoritma membuatnya terbiasa berpikir runtut dan menyelesaikan masalah tanpa drama. Mata kuliah Akuntansi mengajarinya memahami alur bisnis dari jurnal hingga laporan keuangan. Dua dunia yang berbeda tetapi saling mendukung. Keduanya membentuk fondasi Akmal dalam menghadapi tantangan profesional.
Selama kuliah, kegiatannya bukan sekadar dokumentasi untuk Instagram. Ia mengikuti BSI Explore Program Pengabdian Masyarakat selama satu bulan. Ia menyelesaikan pelatihan Brevet Pajak empat bulan. Ia mengambil pelatihan BNSP dan pelatihan profesional lainnya. Semua itu dijalani bersamaan dengan pekerjaan paruh waktu yang menuntut ketelitian dan tanggung jawab. Hidupnya tidak glamor. Tapi jelas. Teratur. Dan terus bergerak.
Saat namanya tercatat sebagai peraih Wisudawan Terbaik UBSI, Akmal merasa bangga dan bersyukur. Tanpa euforia berlebihan. Predikat itu seperti bisikan kecil yang berkata bahwa semua upayanya selama ini tidak sia sia. Kuliah sambil bekerja bukan hanya soal tenaga, tapi soal manajemen waktu yang cermat dan komitmen yang tidak boleh goyah.
Tips belajarnya pun sederhana dan realistis. Ia memanfaatkan waktu luang untuk membaca modul. Ia mengerjakan studi kasus. Ia menggunakan AI sebagai alat bantu pemahaman. Belajar bagi Akmal bukan harus lama, tapi harus tepat. Harus bisa diserap dan langsung diterapkan dalam dunia kerja.
Rencana setelah lulus pun sudah matang. Ia ingin bekerja sambil melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Ia ingin teori dan praktik berjalan beriringan. Ia ingin menginjak tanah sambil menatap langit. Karena hanya dengan cara itu seseorang bisa memahami dunia profesional secara menyeluruh.
Jika melanjutkan pendidikan, Akmal ingin fokus pada bidang yang sama. D3 memberinya dua fondasi kuat yaitu sistem informasi dan akuntansi. Bekal yang ia bawa sebagai modal naik ke S1 Akuntansi. Ia ingin memperdalam ilmu. Ingin meningkatkan kompetensi profesional. Ingin siap menghadapi industri yang makin cepat berlari.
Tentang sistem pengajaran di kampus, Akmal merasa cukup cocok. Fleksibel. Kombinasi teori dan praktiknya terasa pas. Administrasi kampus digital membuat urusan dokumen lebih mudah. Pelatihan-pelatihan yang dibuka BNSP dan lembaga profesional lain memberi kesempatan mahasiswa memperluas kemampuan. Kampus memberi jalan. Mahasiswa menjaga langkah.
Harapan Akmal untuk lulusan UBSI juga sederhana tetapi penuh makna. Ia ingin para lulusan tidak hanya pintar teori tetapi punya keterampilan profesional yang kuat. Akmal berharap lulusan siap bersaing, siap berubah, dan siap memberi kontribusi nyata di dunia kerja.
Baca juga: Rektor Kampus dan Deg-degan yang Tidak Pernah Diceritakannya di Depan Wisudawan
“Kuliah bukan hanya soal ilmu, tetapi soal karakter. Pengalaman kampus membentuk cara berpikir dan cara bekerja. Ambil kesempatan. Ikut pelatihan. Lakukan praktik. Pastikan pengalaman dan pengetahuan berdiri seimbang dalam diri kalian,” pesannya kepada adik tingkat seperti tepukan lembut di bahu.
Kisah Akmal Iskandar bukan tentang seseorang yang hidup luar biasa. Ini kisah seseorang yang tekun dalam diam. Yang percaya bahwa kerja keras tidak perlu diumumkan. Yang yakin bahwa hasil akan berbunyi ketika waktunya tiba. Dan hari wisuda ini adalah salah satu bunyi terindah itu.(ACH)