Ketika Seorang Anak Bogor Membuktikan bahwa Konsistensi Bisa Mengalahkan Keberuntungan

0 191

BSINews, Bekasi – Di tengah lautan toga yang sibuk dikejar angin AC dan keluarga yang bergantian ambil foto, ada satu kisah yang tumbuh tanpa sorotan besar. Kisah milik Herdiansyah Kurniawan, anak Bogor yang datang dengan langkah kecil tapi tekad yang keras, lalu pulang sebagai wisudawan terbaik Sistem Informasi Akuntansi (D3) Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI) Kampus Bogor.

Herdi tidak pernah berusaha terlihat hebat. Ia hanya berkata pelan, “Saya bersyukur bisa kuliah dan dikelilingi orang-orang yang suportif.” Kalimat sederhana itu merangkum titik awalnya, rasa syukur yang dibawa sepanjang perjalanan.

Baca juga: Cerita Wisudawan yang Mengalir, Menemukan Diri, dan Akhirnya Menang Tanpa Niat Menang

Awalnya ia ingin mengambil administrasi perkantoran, tapi karena pilihan jurusan terbatas, ia mengikuti alur yang sudah dikenalnya dari bangku sebelumnya. Kadang hidup memang tidak perlu dramatis, yang dibutuhkan hanya keputusan yang diterima dengan lapang dada.

Salah satu titik baliknya terjadi di mata kuliah Pemrograman Akuntansi. Di semester 3 dan 4 itulah ia pertama kali membuat aplikasi berbasis web, pengalaman yang, menurutnya, “menakjubkan dan bikin percaya diri.” Dari sana, Herdi mulai menyadari bahwa ia tidak hanya belajar angka, tapi juga membangun sesuatu yang hidup.

Perjalanan kuliahnya bukan kisah begadang heroik atau tragedi skripsi yang ingin dibakar. Itu cerita seseorang yang hadir tepat waktu, mengerjakan tugas tanpa drama, aktif diskusi, ikut workshop, seminar, sertifikasi, dan menjaga nilainya tetap stabil. Konsisten tanpa perlu diumumkan ke publik.

Ketika namanya dipanggil sebagai wisudawan terbaik, ia hanya tersenyum kecil. Baginya, penghargaan ini bukan panggung, tapi pengingat. “Motivasi untuk terus berkembang,” ucapnya tenang, tapi penuh keyakinan.

Dalam belajar, Herdi memegang satu prinsip lakukan sedikit, tapi lakukan setiap hari. Membaca materi sebelum kelas, berlatih di rumah, mengerjakan tugas tepat waktu, dan yang paling penting bertahan dalam ritme itu.

Ia kini melanjutkan studi S1 di UBSI Kampus Kramat sambil bekerja di Klinik Pratama Pakuan. Tidak ada jeda. Tidak ada “istirahat dulu.” Ia memilih tetap berjalan. Jurusannya pun tetap linier, ia ingin memperdalam apa yang sudah ia bangun sejak awal.

Herdi memuji sistem pengajaran UBSI yang fleksibel dan ramah mahasiswa karyawan. Hybrid learning, materi digital, dosen berpengalaman, sampai praktikum yang membuat teori terasa nyata, semuanya menjadi alasan ia mampu bertahan di dua dunia sekaligus.

Baca juga: Kisah Lulusan yang Menyimpan Mimpi Jauh dan Bahasa Inggris yang Selalu Siap Menemani

Untuk lulusan lain, ia berharap sesuatu yang sederhana tapi penting, yaitu menjadi pribadi yang berkompeten, berintegritas, dan bermanfaat. Dan untuk adik-adik tingkatnya, ia memberikan pesan yang seperti tepukan lembut di bahu, “Tetap semangat belajar. Jangan mudah menyerah. Konsistensi pasti ada hasilnya.”

Perjalanan Herdi bukan tentang menjadi yang paling cepat atau paling bersinar. Ini cerita tentang seseorang yang berjalan pelan tapi tidak pernah berhenti. Di hari wisuda itu, dunia seolah mengatakan satu hal padanya, langkah-langkah kecil yang jujur memang selalu menemukan jalannya sendiri.(ACH)

Leave A Reply

Your email address will not be published.