Kisah Lulusan yang Menyimpan Mimpi Jauh dan Bahasa Inggris yang Selalu Siap Menemani
BSINews, Bekasi – Di balik keramaian wisuda yang penuh toga dikibas dan orang tua yang sibuk merekam dari angle yang terlalu dekat, ada satu cerita yang terasa seperti perjalanan panjang seorang perantau yang keras kepala terhadap mimpinya sendiri. Cerita itu milik Andre Pratama, mahasiswa Teknologi Informasi yang datang jauh dari Solok Selatan dengan tas penuh tekad dan kemampuan bahasa Inggris yang ia rawat seperti tanaman hias yang tidak boleh layu.
Andre bukan sosok yang jalurnya lurus dan rapi. Sebelum menjadi mahasiswa teknologi informasi, ia sudah menyelesaikan D2 Akuntansi dengan gelar A.ma.Akt. Siang harinya ia bekerja sebagai guru bahasa Inggris. Malamnya ia melatih anak-anak agar berani bicara dalam conversation. Hidupnya seperti dua tab yang selalu terbuka bersamaan. Satu tentang bahasa. Satu tentang teknologi.
Baca juga: Wisuda Panjang Kayak Dracin dan Rektor yang Datang Membawa Kabar Baik
Kesan pertamanya saat masuk UBSI cukup sederhana. Ia senang. Ia merasa lingkungan kampusnya mempertemukan dia dengan orang-orang hebat. Dosen yang mau membimbing tanpa menghakimi. Teman-teman yang tidak pelit kerja sama. Kuliah bagi Andre adalah ruang yang membuatnya merasa punya tempat untuk tumbuh, bukan sekadar ruang untuk absen.
Jurusan yang ia pilih bukan keputusan impulsif. Awalnya ia kira teknologi informasi dan teknik informatika itu bedanya jauh. Setelah masuk, ternyata batasnya setipis layar smartphone. Dua-duanya bicara komputer. Dua-duanya bicara logika. Dua-duanya bicara tentang dunia yang membuat Andre merasa “ini rumah gue.”
Mata kuliah yang berkesan bagi Andre pun menggambarkan identitas gandanya. Akuntansi lewat excel pernah membuatnya jatuh hati pada struktur dan logika. Teknik informatika memicu imajinasinya untuk menciptakan hal baru lewat program. Keduanya membentuk Andre yang hari ini berdiri di panggung wisuda dengan kepala tegak.
Kegiatan kampusnya tidak banyak, karena pekerjaan menuntut waktu. Namun ada satu momen yang ia kenang yaitu debat Bahasa Inggris tahun 2022. Rivalnya adalah Salma Dwi Zahwa, yang kini menempuh pendidikan S2 di Korea Selatan. Andre finish di posisi tiga grand final. Kalah di final, tetapi menang dalam mimpi. Sejak itu ia menyimpan keinginan untuk bisa studi luar negeri suatu hari nanti.
Saat namanya dipanggil sebagai peraih Wisudawan Terbaik UBSI, Andre merasa sangat bangga. Ia mengatakan dirinya “pemegang tahta wisudawan terbaik UBSI di jurusan teknologi informasi.” Kalimat yang terdengar seperti bercanda, tapi isinya serius dan penuh rasa syukur.
Tips belajarnya cukup membumi. Pahami materi dosen. Kuasai presentasi. Bukan sekadar membaca slide, tetapi menjelaskan dengan bahasa sendiri. “Menurut saya, memahami jauh lebih kuat daripada menghafal apalagi untuk mahasiswa yang harus membagi waktunya bekerja.”
Rencana ke depannya pun jelas seratus persen. Ia ingin lanjut S2. Ia berharap ada dukungan pembiayaan, baik dari instansi internal maupun eksternal. Ia sangat ingin studi luar negeri. Kemampuannya berbahasa Inggris sudah kuat. Mimpinya juga. Tinggal mencari jembatan yang bisa membawanya ke sana.
Jurusan yang ingin ia ambil pun tetap teknologi informasi. Ia punya satu proyek yang ia jaga seperti rahasia kecil yaitu alat pembaca gestur berbasis SIBI untuk membantu komunikasi teman-teman Tuli. Bukan hanya teknologi yang keren, tapi teknologi yang menyentuh manusia.
Tentang sistem pengajaran di UBSI, Andre menyebut sudah bagus. Tapi ia berharap praktik diperbanyak dan dibuat lebih mudah dipahami. Ia bicara sebagai mahasiswa yang ingin kampusnya tumbuh lebih kuat dari dalam.
Harapannya untuk lulusan UBSI mengambil bentuk pepatah yang ia ulang dengan yakin
“Once you’re born, do what you can.” Kalimat sederhana yang, entah kenapa, justru sering menjadi bensin banyak orang dalam menghadapi kenyataan hidup.
Baca juga: Selebrasi Lulusan UBSI, Wisuda Modern yang Menghubungkan Dunia Akademik dan Kreatif
Untuk adik tingkat, pesannya tidak bertele-tele. Tetap semangat. Jangan minder cuma karena kampusmu bukan kampus favorit versi orang lain. Kesuksesan datang dari niat dan ambisi. Dan UBSI, kata Andre, adalah tempat yang cukup untuk menumbuhkan niat itu menjadi sesuatu yang lebih besar.
Kisah Andre Pratama adalah cerita tentang seseorang yang tidak menunggu waktu ideal untuk mulai. Ia mulai saja. Ia bergerak sambil bekerja. Ia belajar sambil memikul tanggung jawab. Dan hari ini, toga di kepalanya adalah bukti bahwa jalan yang rumit bukan berarti jalan yang salah.(ACH)