Ketika Seorang Anak Tasik Membuktikan bahwa Tekad + Konsistensi Bisa Mengubah Hidup
BSINews, Bekasi – Di tengah riuh wisuda yang penuh bunga plastik, kilatan kamera, dan toga yang terus-menerus melorot ke pundak, ada satu cerita yang tumbuh bukan dari keberuntungan, tapi dari keberanian untuk menanggung prosesnya.
Cerita itu milik Ari Zainal Fauziah, anak Tasikmalaya yang kini berdiri sebagai salah satu wisudawan terbaik Sistem Informasi Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI) kampus Tasikmalaya dengan IPK sempurna 4.00, angka yang terdengar seperti mitos bagi sebagian mahasiswa lain.
Baca juga: Cerita Wisudawan yang Mengalir, Menemukan Diri, dan Akhirnya Menang Tanpa Niat Menang
Ari memperkenalkan dirinya dengan tenang, tanpa nada pamer sedikit pun. Ia bilang, “Setelah sidang skripsi, saya fokus meningkatkan skill dan mempersiapkan diri masuk dunia kerja.” Jawaban yang sederhana, tapi terasa dari orang yang tahu persis ke mana ia akan melangkah. Tidak berputar-putar, tidak bingung, hanya fokus.
Kesan pertamanya berkuliah di UBSI terasa seperti seseorang yang menemukan tempat yang pas. Kurikulum yang langsung ke inti, praktik yang tidak basa-basi, dan relasi antar-dosen yang terasa lebih seperti keluarga daripada formalitas akademik. Lingkungan yang memberi ruang aman untuk tumbuh sekaligus mendorong mahasiswa agar siap kerja sejak awal.
Jurusan yang ia pilih pun bukan sekadar ikut-ikutan tren teknologi. Ari punya rasa ingin tahu yang tajam, bagaimana data disimpan, bagaimana server bekerja, bagaimana sebuah website bisa berlari tanpa tersandung, dan bagaimana arsitektur sistem disusun dari nol hingga berdiri kokoh. Sistem Informasi menjawab semua itu, jalur yang menggabungkan kemampuan teknis dan logika bisnis dalam satu napas. Di sanalah ia merasa pulang.
Dua mata kuliah mencetak jejak paling dalam, Perancangan Basis Data dan Web Programming. Keduanya mengajarkan efisiensi dan keamanan, dua hal yang selalu ia tekankan sebagai fondasi seorang developer. Di situlah ia belajar mengoptimalkan query agar sistem tidak megap-megap, dan membangun API yang siap dipakai, siap diuji, siap dibanting, tapi tidak gampang tumbang.
Selama kuliah, Ari bukan tipe yang hanya duduk diam mengumpulkan nilai. Ia Ketua HIMASI UBSI Kampus Tasikmalaya, aktif di BSI Explore dan Kampus Mengajar, mengambil proyek freelance di luar kampus, sekaligus terus mengasah kemampuan Full-Stack Development lewat pekerjaan nyata. Kuliah baginya bukan ruang tunggu, tetapi landasan untuk melompat lebih jauh.
Ketika namanya disebut sebagai peraih IPK sempurna, ia hanya menunduk sebentar, menahan rasa haru. “IPK 4.00 ini bukan hanya soal nilai,” katanya, “tapi semua malam tanpa tidur dan dukungan keluarga.” Tidak ada kesombongan. Yang ada justru rasa syukur yang besar, seakan angka itu adalah catatan kecil dari perjalanan panjang yang jarang dilihat orang.
Prinsip belajarnya pun tidak muluk. Pahami inti konsep, bukan hafalannya. Konsisten belajar meski sedikit. Berani bertanya. Dan yang paling menarik, ia selalu menggunakan internet dan AI sebagai alat bantu, bukan tongkat untuk bersandar buta. Baginya, teknologi adalah partner, bukan jawaban absolut yang harus ditelan mentah.
Ke depan, Ari ingin masuk dunia kerja terlebih dahulu, merasakan langsung tekanan dan tantangan industri. Ia ingin membuktikan ilmunya bukan hanya di atas kertas, tetapi di tengah sistem yang benar-benar hidup. Setelah itu, ia akan mengejar beasiswa untuk melanjutkan pendidikan, tetap di jalur teknologi, jalur yang sejak awal membuatnya merasa punya pijakan kuat.
Tentang sistem pengajaran di UBSI, ia menilai pendekatan hands-on dan kurikulum berbasis industri sebagai dua alasan utama lulusan UBSI tidak gagap menghadapi kenyataan. Sertifikasi profesi sebagai “modal tambahan di luar ijazah” membuat mahasiswa punya nilai jual sejak awal.
Harapan Ari untuk para lulusan lain pun gamblang, “jangan hanya jadi lulusan, jadilah produk siap pakai. Dunia kerja butuh problem-solver, bukan penghafal modul. Butuh portofolio, bukan janji.
Baca juga: Wisudawan Terbaik yang Menjejak Karawang hingga Singapura
Dan untuk adik-adik tingkatnya, ia meninggalkan pesan yang terasa seperti roadmap kecil menuju kedewasaan, Fokus membangun diri, bukan sekadar indeks prestasi. Kuasai konsep inti, manfaatkan peluang kampus, bangun portofolio, dan jadikan PKL sebagai pintu pertama menuju dunia profesional. Di luar sana, sikap dan integritas jauh lebih mahal daripada nilai A.
Kisah Ari bukan tentang kecerdasan yang tiba-tiba bersinar. Ini kisah seseorang yang bermain maraton ketika orang lain memilih sprint. Ia berjalan jauh, konsisten, dan tahu kapan harus menantang dirinya sendiri. Pada hari wisuda itu, dunia seperti mengangguk padanya bahwa dedikasi yang dijaga diam-diam selalu menemukan cara paling elegan untuk muncul ke permukaan.(ACH)