Ketika Prabowo Belajar Mengatur Kamera, Komunitas, dan Hidupnya Sendiri
BSINews, Bekasi – Ada satu momen di wisuda ketika nama Ardianto Prabowo dipanggil dan orang-orang di sekitar ikut menoleh. Mungkin karena namanya terdengar gagah, mungkin karena toga-nya miring sedikit, atau mungkin karena aura “aku capek tapi bangga” yang memancar jelas dari raut wajahnya.
Anak Depok ini lulus dari Ilmu Komunikasi Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI) Kampus Ciputat dengan gelar cum laude, tapi perjalanan yang ia bawa ke panggung jauh lebih panjang daripada sekadar angka IPK.
Baca juga: Jalan Sunyi Anak IT yang Diam-Diam Melampaui Banyak Hal
Ardi membuka ceritanya sambil tersenyum tipis. “Saya anak Depok, dari Cabang Ciputat, peminatan Digital Broadcast. Akhir-akhir ini saya aktif ngurus komunitas Guna Ulang Aja, jadi koordinatornya juga. Selain itu masih ambil job freelance fotografer event dan ngurus konten UMKM langbolen.” Satu kalimat yang langsung menguak kenyataan, anak ini sibuk bukan main.
Kesan pertamanya berkuliah di UBSI justru kedengaran kayak seseorang yang menemukan game baru. Seru. Menantang. Dan cukup chaos dalam cara yang menyenangkan. Ia bertemu teman-teman yang unik, dosen yang kompeten, dan mata kuliah yang akhirnya bikin minatnya di digital broadcast punya tempat pulang. Yang paling menantang adalah tugas model workshop, proyek nyata, hasil nyata, tekanan nyata. Bukan tugas “kumpulkan PDF, lalu selesai”.
Soal jurusan, Ardi memilih Ilmu Komunikasi bukan karena ikut-ikutan. Ia punya rasa ingin tahu tentang bagaimana pesan disampaikan dengan tepat sasaran. Bagaimana konten bisa bergerak membawa makna. Bagaimana komunikasi bisa mengubah cara orang melihat dunia. Ia bukan sekadar memotret atau bikin video. Ia ingin memahami kenapa sebuah konten bisa menggugah hati atau bahkan mempengaruhi perilaku.
Dari semua mata kuliah yang ia ambil, ada satu yang bikin adrenalin dan mentalnya meledak dalam cara paling positif. Semester 6. Mata kuliah Produksi Program Televisi. Tugasnya? Membangun stasiun TV dari nol. Bukan metafora, tapi literally stasiun TV. Lima kampus digabung, perannya: Manager Teknis. Ia mengatur SOP produksi, mengawas proses tapping dan live, dan memimpin traffic siaran selama enam jam nonstop. Tidak ada jeda. Tidak ada napas panjang. Tidak ada ruang panik.
Dan siaran itu, jalan mulus. Tidak ada hambatan berarti. Sebuah pencapaian yang bahkan produser TV sungguhan pun kadang masih gagal meniru. Momen itu jadi titik balik bahwa kerja keras, logika teknis, dan kolaborasi bisa membangun sesuatu yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.
Ketika pengumuman Wisudawan Terbaik UBSI disampaikan, Ardi merasakan tiga hal sekaligus yaitu gembira, bangga, dan syukur. “Usaha keras itu tak akan mengkhianati,” katanya, mengutip lirik JKT48 yang selama ini diam-diam jadi mantra penyemangatnya. Perjalanan delapan semester itu tidak ringan. Tapi pencapaian hari ini terasa seperti pelukan kecil dari semesta.
Soal tips belajar, Ardi tidak membungkusnya dengan teori berat. Ia percaya belajar harus fun dan relevan. Cari materi tambahan di YouTube, pilih lingkungan yang bikin kepala adem, dan praktikkan semua yang dipelajari. Belajar tanpa praktik itu seperti kamera mahal tanpa memori card. Cantik, tapi nggak berguna.
Rencananya setelah wisuda cukup sederhana tapi matang. Ia ingin melanjutkan S2, tapi sambil menabung dari freelance. Ia juga membesarkan usaha kuliner kecil-kecilannya, karena tidak ada salahnya menjadi orang yang jago komunikasi sekaligus jago goreng-goreng.
Tentang sistem pengajaran di UBSI, ia menyebutnya modern, praktis, dan memudahkan mahasiswa untuk fokus pada proses, bukan keribetan administratif. MyBest memudahkan presensi, tugas, dan ujian. Efisiensi yang membuat mahasiswa bisa mengalokasikan energi ke hal yang lebih penting, berkarya.
Untuk lulusan UBSI hari ini dan yang akan datang, ia berharap mereka bisa langsung terjun ke dunia kerja, berkarya, bahkan menciptakan lapangan kerja baru. Ia percaya lulusan UBSI punya daya saing, tinggal keberanian untuk melangkah yang harus diperbesar.
Baca juga: Cerita Anak Akuntansi yang Jatuh Cinta pada Data dan Bertahan dengan Kepala Tegak
Sementara untuk adik-adik tingkat yang masih berkutat dengan tugas dan kebingungan masa awal kuliah, ia titipkan kalimat pendek tapi powerfull, “Fokus sama jalan yang kamu pilih, tetap semangat, asah skill tanpa jeda, dan bangun jaringan seluas-luasnya. Dunia kerja itu luas, dan kamu nggak boleh datang tanpa bekal.
Cerita Ardi adalah bukti bahwa kuliah bukan sekadar mengejar nilai. Ini tentang membangun diri, satu proyek, satu komunitas, satu konten, dan satu keberanian dalam satu waktu. Dan hari ini, di ruang wisuda itu, perjalanan panjangnya terasa pantas dipanggil ke panggung.(ACH)