Di Balik Gelar Cum Laude, Ada Seseorang yang Berani Berhenti Sebentar

0 86

BSINews, Bekasi – Ada nama yang manis di daftar wisudawan terbaik tahun ini, Tasya Kyranie Noor Annisa. Asalnya dari Garut, kuliah di Prodi Sistem Informasi Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI), dan sekarang sedang menjalani fase hidup yang jarang dibahas orang tapi sangat manusiawi ‘career break’.

Setelah bertahun-tahun berlari ngebut antara tugas, deadline, organisasi, dan perantauan, Tasya memilih berhenti sebentar untuk bernapas. Istirahat bukan kemunduran, tapi upaya recharge biar nggak tumbang di tengah jalan.

Baca juga: Jajanan Pasar yang Mengajarkan Cara Bertahan di Dunia Manajemen

Kesan pertamanya saat masuk kampus sederhana tapi jujur “Kampusnya chill banget. Beda sama cerita-cerita chaos dari teman-teman di kampus lain.” Lingkungannya terasa dinamis dan suportif, bikin adaptasi nggak kerasa berat. Dari kelas sampai interaksinya, semuanya serasa bikin nyaman.

Soal jurusan, Tasya nggak asal pilih. Ia masuk Sistem Informasi karena percaya satu hal dunia sekarang ditenagai data. “Aku tertarik banget gimana data itu diolah dan sistem dirancang untuk solusi nyata, bukan cuma bikin aplikasi,” katanya. Jurusan ini memberinya pemahaman tentang analisis, desain, dan implementasi sistem yang relevan buat masa depan yang makin digital dan makin aneh.

Dari semua matkul, Interaksi Manusia dan Komputer (IMK) jadi favoritnya. Bukan karena mudah, tapi karena seru. IMK meminta mahasiswa merancang desain web atau aplikasi yang user-friendly. Bahasa simpelnya bikin hal rumit terasa dekat “Pokoknya seru sih,” katanya santai.

Perjalanannya selama kuliah lumayan warna-warni. Tasya aktif di HIMASI, lolos MBKM Kampus Mengajar di semester lima, terus lanjut Magang & Studi Independen Bersertifikat di semester tujuh. Di sela-sela itu, ia masih sempat mengikuti berbagai online course. Belajar baginya bukan soal memenuhi SKS, tapi memperluas wawasan.

Saat namanya diumumkan sebagai peraih Wisudawan Terbaik UBSI, Tasya cuma bisa campur aduk antara haru, bangga, dan rasa tanggung jawab yang tiba-tiba naik level. Ia bilang, “Aku merasa makin punya beban baik. Kayak harus terus berkontribusi di lingkungan mana pun.”

Tips belajarnya jauh dari teknik ekstrem. Ia fokus memahami konsep inti, mengatur waktu sesuai kondisi, aktif bertanya, dan menjaga keseimbangan. “Belajar itu penting, tapi kepala juga perlu relaxing time,” ucapnya. Biar otak nggak kriting karena memikirkan hal-hal rumit sepanjang semester.

Untuk rencana ke depan, Tasya ingin masuk dunia kerja dulu. Kalau ada rezeki dan timing yang cocok, ia terbuka untuk lanjut kuliah lagi. Pilihan jurusan untuk studi lanjut pun masih fifty-fifty antara tetap di jalur yang sama atau mencoba hal baru.

Tentang sistem pengajaran di UBSI, Tasya bilang satu hal “Platform belajar terintegrasi dan kurikulumnya selalu update. Dosen juga sering bawa studi kasus nyata, membuat kelas nggak cuma teori tapi pengalaman yang bisa disentuh.”

Harapannya untuk lulusan UBSI terasa seperti push yang lembut tapi tegas “Jangan cuma puas punya ijazah. Upgrade skill, kembangkan soft skill. Kita harus jadi game changer yang adaptif dan inovatif.” Kalimatnya mengalir seperti seseorang yang benar-benar sadar dunia kerja makin cepat berubah.

Baca juga: Ketika Prabowo Belajar Mengatur Kamera, Komunitas, dan Hidupnya Sendiri

Untuk adik-adik tingkat, Tasya memberi pesan sederhana yang ditinggalkan menggantung dengan aura penting, “Kamu boleh lelah, boleh bingung, boleh ragu. Tapi jangan berhenti.”

Cerita Tasya adalah bukti bahwa perjalanan kuliah bukan tentang siapa yang paling cepat sampai, melainkan siapa yang berani berhenti sejenak untuk memahami hidupnya. Dan hari ini, di panggung wisuda, ia berdiri sebagai pengingat bahwa jeda pun bisa jadi bentuk kedewasaan.(ACH)

Leave A Reply

Your email address will not be published.