Jajanan Pasar yang Mengajarkan Cara Bertahan di Dunia Manajemen
BSINews, Bekasi – Nama Irin Cahyaning Tias mungkin terdengar lembut, tapi perjalanan hidupnya justru punya ritme yang rajin dan cekatan, kayak orang yang sudah terbiasa bangun subuh buat nyiapin jajanan pasar sambil balapan dengan waktu.
Ia datang dari Tangerang, kuliah Program Studi Manajemen di Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI), dan belakangan ini sibuk juggling antara melamar kerja dan jualan kue basah. Bukan hustle culture yang dipaksakan, tapi cara sederhana untuk tetap produktif dan nambah pengalaman hidup.
Baca juga: Ketika Prabowo Belajar Mengatur Kamera, Komunitas, dan Hidupnya Sendiri
“Saat masuk UBSI cukup hangat. Kampusnya ramah, suasananya mudah bikin betah, dosennya komunikatif, dan pembelajarannya nggak muter-muter. Praktis. Langsung to the point. Cocok untuk mahasiswa yang ingin belajar sambil nyicil mimpi realistik. Biaya kuliah yang terjangkau juga jadi alasan lain kenapa adaptasinya berjalan mulus,” tuturnya bercerita.
Soal jurusan, Irin mengaku Manajemen terasa seperti rumah. Ia suka hal-hal yang berhubungan sama perencanaan dan pengaturan, hal-hal yang menuntut ketelitian tapi tetap fleksibel. Ilmu manajemen juga luas, bisa dibawa ke banyak lini kerja, dan itu yang membuatnya percaya dirinya memilih jalur ini.
Matkul favoritnya adalah Pengembangan dan Pelatihan SDM. Di sana ia merasa ilmu yang ia pelajari langsung bersinggungan dengan realita kerja. Manajemen bukan cuma angka di buku atau teori rapih di slide. Ada manusia di balik semua itu. Ada dinamika, ada karakter, ada tantangan untuk membantu orang berkembang. Dan itu yang bikin Irin merasa ilmunya hidup.
Selama kuliah, Irin bukan tipe yang hanya pulang–kuliah–pulang. Ia ikut organisasi HIMA, ikut jadi relawan pajak di KPP Jakarta Barat Cengkareng, dan sempat ikut pengabdian masyarakat bareng dosen di Kelurahan Sukasari. Pengalaman yang pelan-pelan membentuk rasa percaya dirinya. Bahwa belajar nggak harus selalu dari catatan kuliah, kadang justru dari orang-orang yang ditemui di lapangan.
Ketika namanya diumumkan sebagai peraih Wisudawan Terbaik UBSI, Irin cuma bisa tersenyum lebar sambil menahan haru. Rasanya campur aduk. Bangga. Lega. Dan sedikit nggak percaya. Semua begadang, semua catatan singkat, semua tugas yang dikerjakan sambil ngejar orderan jajan pasar, ternyata dibayar tuntas oleh pengakuan kecil di panggung wisuda.
Tips belajarnya sederhana tapi efektif. Atur waktu biar tugas nggak numpuk. Catat poin penting. Review sebentar-sebentar. Bukan soal belajar lama, tapi belajar rutin. Ia percaya konsistensi adalah senjata paling underrated yang dimiliki mahasiswa.
Untuk masa depan, Irin ingin fokus masuk dunia kerja dulu. Ia merasa waktunya pas untuk menambah pengalaman. Kalau nanti naik ke jenjang yang lebih tinggi, ia tetap ingin di Manajemen. “Sudah cocok,” katanya singkat, penuh keyakinan.
Tentang pengajaran di UBSI, ia bilang sistemnya jelas, dosennya komunikatif, dan materinya praktis. Cocok untuk mahasiswa yang suka langsung praktik daripada teori berlapis-lapis.
Harapannya untuk para lulusan UBSI cukup sederhana tapi tajam. Ia ingin mereka siap terjun, berani mencoba, dan terus upgrade skill. Dunia kerja berubah cepat, dan cuma orang yang mau terus belajar yang bisa bertahan.
Baca juga: Cerita Wisudawan yang Mengalir, Menemukan Diri, dan Akhirnya Menang Tanpa Niat Menang
Untuk adik-adik tingkat, Irin memberikan pesan hangat. “Nikmati prosesnya. Jangan takut mencoba. Jangan malu bertanya. Jaga ritme biar nggak burnout, jalani kuliah dengan santai tapi bertanggung jawab.”
Cerita Irin bukan kisah mahasiswa yang hidupnya mulus, tapi kisah seseorang yang memilih tetap bergerak. Antara kuliah, organisasi, relawan, jualan kue, dan melamar pekerjaan, ia belajar satu hal, bahwa manajemen terbaik adalah manajemen diri sendiri. Dan hari ini, di panggung wisuda, Irin berdiri sebagai bukti bahwa konsistensi yang tenang sering kali menghasilkan kemenangan yang paling manis.(ACH)