Wisuda yang Menyisakan Kursi Kosong

0 57

BSINews, Bekasi – Ada satu momen di Wisuda ke-62 Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI) pada Rabu (3/12) yang membuat ribuan orang di gedung itu berhenti sejenak. Musik latar yang biasanya riang berubah lirih, dan suasana mendadak menunduk. Di antara toga, senyum, dan lampu panggung, nama seorang wisudawan disebut dengan cara yang berbeda. Namanya Tezar Adryan.

Hari itu seharusnya ia berdiri bersama teman-temannya, menerima gelar dan bangga dengan perjalanan panjang yang berhasil diselesaikan. Namun hidup, seperti biasa, kadang memutuskan jalannya sendiri. Tezar wafat pada 19 Oktober 2025 akibat sakit, hanya beberapa minggu sebelum hari yang selama ini ia nantikan.

Baca juga: Suasana Wisuda UBSI Semakin Berkesan, Aksi DISCO’NAN Beri Warna Baru dalam Prosesi Formal

MC wisuda membacakan namanya dengan suara yang ditahan agar tetap tegar. “Hadirin yang berbahagia, seharusnya hari ini merupakan hari bahagianya wisudawan atas nama Tezar Adryan… Namun Tuhan berkehendak lain.” Kalimat itu meluruhkan riuh gedung menjadi keheningan yang hanya bisa dijelaskan sebagai duka yang dibagi bersama.

Seluruh hadirin kemudian diminta untuk menundukkan kepala. Untuk beberapa belas detik, lebih dari tiga ribu orang di ruangan itu memanjatkan doa untuk seseorang yang mungkin tidak mereka kenal secara pribadi, tetapi tetap terasa dekat, karena ia bagian dari perjalanan yang sama, almamater yang sama, mimpi yang sama. Doa itu tidak panjang, namun cukup untuk membuat sebagian orang tua di barisan belakang menghapus air mata kecil di sudut mata mereka.

Setelah doa selesai, momen yang paling menyentuh pun dimulai. Prosesi wisuda Tezar tidak dibiarkan menghilang begitu saja. Pada kesempatan itu, Ayahanda tercinta naik ke atas mimbar untuk mewakili putranya. Langkahnya pelan, namun penuh martabat, seperti seorang ayah yang ingin memastikan bahwa putranya tetap mendapat penghormatan terakhir yang layak.

Rektor UBSI, Prof. Dr. Ir. Mochamad Wahyudi bersama Kaprodi Manejemen Eka Dyah Setyaningsih, berdiri menyambutnya. Gelar yang seharusnya diterima Tezar diberikan kepada orang yang paling mencintainya, sekaligus paling kehilangan. Suasana kembali hening, bukan karena upacara menuntut begitu, tetapi karena seluruh ruangan tersentuh oleh peristiwa itu. Tidak ada sorak-sorai. Tidak ada tepuk tangan berlebihan. Hanya penghormatan yang pelan, tulus, dan sama-sama dipahami.

Baca juga: Penampilan Perdana ORI Warnai Wisuda ke-62 UBSI dengan Nuansa Kreatif dan Inspiratif

Di tengah perayaan kelulusan yang biasanya identik dengan euforia dan foto-foto ceria, wisuda kali ini mengingatkan semua orang bahwa perjalanan setiap mahasiswa tidak selalu berujung di panggung dengan senyum mengembang. Ada cerita-cerita yang terhenti lebih cepat, ada mimpi-mimpi yang diselesaikan oleh keluarga, dan ada nama-nama seperti Tezar yang tetap layak mendapatkan panggungnya.

Hari itu, UBSI bukan hanya melepas ribuan lulusan ke dunia yang menunggu. UBSI juga menghantar satu nama kembali ke tempat yang lebih tinggi dengan penuh hormat, penuh cinta, dan penuh doa. Selamat jalan, Tezar Adryan. Gelarmu disematkan, mimpimu diteruskan, dan namamu tetap hidup di tengah kami.(ACH)

Leave A Reply

Your email address will not be published.