Rektor UBSI Ajak Ribuan Wisudawan Mendoakan Korban Bencana Sumatera dalam Wisuda ke 62

0 46

BSINews, Bekasi – Suasana Wisuda ke 62 Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI) pada Rabu (3/12) mendadak hening dan khidmat. Di tengah gegap gempita perayaan kelulusan ribuan mahasiswa, Rektor UBSI Prof. Dr. Ir. Mochamad Wahyudi mengajak seluruh wisudawan, orang tua, hingga tamu undangan untuk mengheningkan cipta dan memanjatkan doa bagi korban bencana yang terjadi di Sumatera.

Doa bersama itu bukan sekadar formalitas. Dari cara sang rektor menyampaikannya, ada nada empati yang menyelinap di balik deretan pesan akademik yang biasanya mengisi podium wisuda. “Hari ini adalah hari bahagia, tetapi kebahagiaan tidak pernah boleh memutus kita dari rasa kemanusiaan,” ucapnya dalam sambutan yang menjadi payung utama acara tersebut.

Baca juga: Hari Ketika Kepala LLDikti Menyuruh Wisudawan Jangan Cuma Bangga Punya Ijazah

Momen itu menjadi salah satu titik paling emosional dalam rangkaian wisuda periode Semester Gasal 2025/2026 yang diikuti oleh ribuan wisudawan dari berbagai kota. UBSI tahun ini menggelar wisuda secara bertahap di Pontianak, Semarang, hingga Bekasi, dengan total peserta mencapai lebih dari 7.800 wisudawan dari kampus utama maupun PSDKU di beberapa wilayah Indonesia.

Dalam sambutannya, Rektor UBSI kembali menegaskan bahwa wisuda bukanlah garis akhir. Ia menggambarkan perjalanan kuliah bak pelaut yang ditempa di pusat pelatihan sebelum dilepas ke samudera luas ekosistem digital, penuh peluang fintech, big data, e-commerce, sekaligus ancaman disrupsi dan keamanan siber yang selalu berubah arah angin.

Selain menekankan pentingnya literasi teknologi, Prof. Wahyudi juga mengingatkan para wisudawan untuk tidak melupakan akar keberhasilan. Ia menyebut keluarga sebagai “tiang penopang sesungguhnya” yang membuat toga hari itu bisa dikenakan dengan penuh bangga. Pesan itu meluncur seperti grounding yang lembut setelah deretan optimisme digital yang menggelegar di awal pidatonya.

Sang rektor juga menyampaikan perkembangan UBSI, termasuk keberadaan lima fakultas dan penyatuan Akademi Keperawatan Bina Insan ke dalam Fakultas Ilmu Kesehatan UBSI, yang masih berproses pada Direktorat Kelembagaan Kemdiktisaintek. Ia menegaskan bahwa UBSI akan terus memperluas program studi dan memperkuat kualitas pendidikan sesuai kebutuhan era teknologi.

Dengan suasana haru yang belum benar-benar reda, acara kemudian kembali mengalir ke jalur perayaan. Para wisudawan, yang sebelumnya larut dalam sunyi doa, kembali bersorak ketika nama-nama mereka dipanggil satu per satu. Beberapa orang tua bahkan tampak menyeka mata. Mungkin karena bangga, mungkin karena baru saja teringat bagaimana perjuangan anaknya selama kuliah tidak selalu mulus.

Baca juga: Bekerja di Balik Tirai Wisuda, Cerita Dokter Nadia Menjaga Ribuan Wisudawan

Wisuda kali ini, pada akhirnya, bukan sekadar panggung penyerahan ijazah. Ada kemanusiaan yang dirayakan bersama, ada duka yang ditautkan ke dalam suka, dan ada peringatan lembut bahwa ilmu tanpa empati hanya akan menjadi mesin tanpa arah.

Dan dari podium, sang rektor menutup pesannya dengan sebuah tuntunan klasik tetapi relevan, “jadilah cahaya dan garam bagi masyarakat digital Indonesia, apa pun medan yang akan kalian jelajahi setelah hari ini.”(ACH)

Leave A Reply

Your email address will not be published.