Penguatan Karakter Gotong Royong di SDIT Arroudhoh melalui Program PKM Mahasiswa UBSI Kampus Karawang
BSINews, Karawang – Sekolah Dasar Islam Terpadu (SDIT) Arroudhoh menjadi pusat kegiatan edukasi karakter ketika mahasiswa Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI) kampus Karawang melaksanakan program Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) yang bertema “Pancasila Sebagai Dasar Negara: Menanamkan Nilai Gotong Royong untuk Memperdalam Penguatan Pancasila di SDIT Arroudhoh.” pada pada Rabu (29/10).
Kegiatan ini berangkat dari temuan bahwa sebagian siswa masih kesulitan menerapkan nilai gotong royong dalam aktivitas sehari-hari, meskipun terbiasa mengikuti kegiatan rutin seperti Jum’at Bersih. UBSI kampus Karawang berupaya menghadirkan pendampingan yang relevan agar nilai Pancasila dapat lebih membumi dalam kehidupan siswa.
PKM UBSI Kampus Karawang Terapkan Pembelajaran Interaktif untuk Penguatan Karakter Siswa SDIT Arroudhoh
Tim pengabdian yang terdiri dari Khoyrotun Nisa, Ahmad Bahari Al Izzy, Nizamuddin Ash Shiam, dan Silvia Meylani Putri menilai bahwa pengaruh teknologi dan gaya hidup individualis membuat anak-anak semakin jarang terlibat dalam kerja kelompok. Karena itu, mereka merancang pembelajaran kreatif agar nilai gotong royong tidak hanya dihafal tetapi benar-benar dipraktikkan melalui aktivitas dan interaksi sosial siswa di sekolah.
Kegiatan dimulai dengan sosialisasi Pancasila menggunakan metode tebak simbol dan tebak makna sila. Siswa diminta menebak gambar, mengaitkannya dengan sila terkait, kemudian memberikan contoh sikap dalam kehidupan sehari-hari. Cara ini membuat materi Pancasila terasa lebih personal dan mudah dipahami.
Salah satu anggota tim, Nizamuddin Ash Shiam, menjelaskan bahwa tujuan metode ini adalah membangun pengalaman belajar yang konkret.
“Kami ingin siswa merasakan langsung bahwa gotong royong itu bukan teori, tetapi praktik yang bisa dilakukan bersama teman-teman mereka setiap hari,” ucapnya dalam keterangan rilis, Kamis (30/10).
Baca juga: Inspirasi Wisudawan UBSI Kampus Karawang yang Berkarier hingga Singapura
Selain itu, tim juga memberikan kuis ringan untuk melihat pemahaman siswa secara cepat. Format kuis dibuat menyenangkan sehingga anak-anak merasa percaya diri saat menjawab. Suasana kelas menjadi riuh ketika beberapa kelompok berlomba menjadi yang tercepat dalam menjawab pertanyaan tentang makna sila-sila Pancasila.
Tahapan berikutnya adalah permainan kolaboratif yang dirancang untuk melatih kerja sama dan kepedulian antarsiswa. Dalam permainan ini, mereka diminta menyusun strategi, membagi tugas, serta menyelesaikan tantangan kelompok. Aktivitas ini memancing interaksi antarsiswa yang sebelumnya cenderung pasif.
“Kerja sama ternyata bikin semuanya lebih mudah. Kalau sendiri suka bingung, tapi kalau rame-rame jadi cepat selesai,” ungkap seorang siswa.
Kegiatan berlanjut dengan sesi kreatif berupa mewarnai dan membuat karya seni bertema gotong royong. Siswa bekerja dalam kelompok kecil, saling berbagi alat mewarnai, serta membantu teman yang mengalami kesulitan. Aktivitas ini tidak hanya meningkatkan kreativitas, tetapi juga memperkuat rasa kebersamaan.
Guru SDIT Arroudhoh menyampaikan apresiasi terhadap metode yang diterapkan mahasiswa UBSI kampus Karawang.
“Pendekatan ini memberikan warna baru bagi pembelajaran karakter. Anak-anak menjadi lebih aktif dan punya kesempatan untuk benar-benar mempraktikkan nilai gotong royong,” katanya.
Berdasarkan evaluasi akhir, kegiatan PKM yang dilaksanakan di SDIT Arroudhoh menunjukkan hasil sangat positif. Tingkat partisipasi siswa meningkat signifikan, terutama saat permainan dan kuis berlangsung. Mereka terlihat lebih percaya diri, aktif bertanya, serta tidak ragu menawarkan bantuan kepada teman.
Baca juga: HIMASI UBSI Kampus Karawang Gelar Open Recruitment, Lahirkan Generasi Penerus Penuh Inovasi
Pemahaman siswa mengenai nilai gotong royong juga meningkat. Mereka mengetahui bahwa gotong royong mencakup kerja sama, tanggung jawab bersama, dan kepedulian sosial. Aktivitas kelompok membuat siswa memahami bahwa mencapai tujuan bersama membutuhkan kontribusi setiap anggota.
Efektivitas metode belajar sambil bermain menjadi salah satu temuan penting. Metode ini terbukti mampu menghubungkan nilai-nilai Pancasila dengan praktik nyata di sekolah. Guru pun mendapatkan inspirasi untuk mengintegrasikan pendekatan serupa ke dalam pembelajaran karakter di kelas.
Program PKM di SDIT Arroudhoh tidak hanya memberikan manfaat bagi siswa, tetapi juga menjadi contoh kolaborasi edukatif antara perguruan tinggi dan sekolah dasar. Melalui kegiatan yang dirancang secara interaktif, nilai gotong royong dapat dipahami lebih mendalam dan dipraktikkan secara nyata.
Kegiatan ini kembali menegaskan komitmen UBSI sebagai Kampus Digital Kreatif dalam mencetak generasi muda yang unggul, kreatif, dan berkarakter untuk menghadapi tantangan era digital. Nilai-nilai Pancasila tidak hanya diajarkan, tetapi dihidupkan sebagai bekal penting bagi siswa dalam membangun masa depan yang penuh kebersamaan dan solidaritas.(Dina Olivia)