Dari Air Kolam ke Arus Digital: Menganyam Literasi dan Harapan Bersama UBSI

0 13

BSINews, Bekasi — Seringkali, teknologi dibayangkan sebagai menara gading yang menjulang, hanya bisa dijangkau oleh segelintir elite industri dan korporasi besar. Paradigma ini mengakar, menciptakan jurang pemisah antara kemajuan inovasi dan realitas masyarakat akar rumput. Namun, benarkah demikian? Pengalaman saya dalam Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI) Sebagai kampus Digital Kreatif baru-baru ini menyajikan narasi yang sama sekali berbeda. Melalui program “Penerapan Platform Perangkat Lunak Bisnis Terpadu Aplikasi Odoo pada Mitra Kelompok Tani Lele“, saya menyaksikan sebuah transformasi yang meruntuhkan stereotip tersebut, membuktikan bahwa teknologi sesungguhnya adalah sahabat potensial bagi siapa saja, bahkan bagi kelompok tani yang kesehariannya bergelut dengan air kolam dan pakan ikan.

Dari Air Kolam ke Arus Digital: Menganyam Literasi dan Harapan Bersama UBSI

Sebagai bagian dari tim dosen UBSI, peran saya bukan sekadar mentransfer pengetahuan teknis. Lebih dari itu, kami ingin menanamkan pemahaman fundamental tentang pentingnya pengelolaan administrasi dan keuangan yang terstruktur. Pengenalan modul Expense (pengeluaran) dan Invoice (penagihan) dari aplikasi Odoo bukan hanya tentangklik dan ketik“; melainkan tentang membuka mata para petani terhadap potensi efisiensi dan transparansi yang selama ini mungkin terabaikan. Bagi Kelompok Tani Lele BP. Sumberjaya, ini adalah titik awal perubahan besar, sebuah jembatan menuju pengelolaan usaha yang lebih modern dan akuntabel.

Namun, intisari dari pengalaman ini sesungguhnya terletak pada semangat yang membara dari anggota kelompok tani. Meskipun di awal banyak yang mengaku awam dengan gawai dan antarmuka digital, antusiasme mereka tak terbendung. Setiap sesi pelatihan menjadi saksi bisu transformasi: dari keraguan yang terpancar di wajah, perlahan berganti dengan sorot mata penuh optimisme dan rasa percaya diri. Mereka tidak hanya belajar mengoperasikan, tetapi juga memahami esensi bahwa teknologi adalah alat pemberdaya, bukan penggantisebuah katalis untuk mempermudah dan meningkatkan kualitas kerja, bukan untuk menggeser peran manusia.

Bagi saya pribadi, PkM ini lebih dari sekadar transfer pengetahuan; ia adalah jalinan kemanusiaan yang kaya makna. Kami, para dosen dari UBSI, belajar banyak tentang ketekunan, kesederhanaan, dan semangat pantang menyerah dari para petani lele. Sebaliknya, mereka menemukan cakrawala baru dalam pengelolaan usaha melalui sentuhan digital. Inilah esensi mengapa UBSI  senantiasa berupaya menjadi jembatan antara inovasi teknologi dan kebutuhan nyata masyarakat. Kami percaya, ilmu akan mencapai puncak maknanya ketika ia mampu menyentuh dan meningkatkan kualitas hidup sesama secara nyata.

Baca Juga : Opini Siswa SMK Global Merin tentang Program Beasiswa UBSI

Melalui kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat seperti inilah, UBSIsecara konsisten mengukuhkan komitmennya sebagai institusi yang responsif terhadap dinamika sosial. Harapan saya, riak semangat literasi digital yang kini telah bergelora di Kelompok Tani Lele BP. Sumberjaya ini dapat menjadi inspirasi, bahkan gelombang perubahan, bagi komunitas-komunitas lain di pelosok negeri. Sebab, di tengah arus disrupsi yang tak terhindarkan, keberlanjutan sebuah usaha dan kemandirian masyarakat tidak lagi hanya bertumpu pada kerja keras semata, melainkan pada keberanian untuk merangkul dan beradaptasi dengan kemajuan teknologi(Iin)

Leave A Reply

Your email address will not be published.