Vibe Coding di Kalangan Mahasiswa Sistem Informasi, Tren Santai yang Penuh Tantangan

0 38

BSINews,Cikampek – Cara belajar pemrograman di kalangan mahasiswa mengalami perubahan seiring perkembangan teknologi. Jika sebelumnya coding identik dengan buku tebal dan teori mendalam, kini banyak mahasiswa mengenal pendekatan belajar yang lebih santai dan fleksibel yang dikenal dengan istilah vibe coding. Gaya belajar ini dinilai selaras dengan karakter mahasiswa Sistem Informasi yang akrab dengan praktik langsung dan eksplorasi mandiri.

Vibe Coding di Kalangan Mahasiswa Sistem Informasi, Tren Santai yang Penuh Tantangan

Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI) sebagai Kampus Digital Kreatif, UBSI memandang fenomena vibe coding sebagai bagian dari dinamika pembelajaran digital. Pendekatan ini tidak hanya menekankan pada penulisan kode, tetapi juga pada suasana belajar yang nyaman, pemanfaatan tutorial singkat, diskusi komunitas, hingga penggunaan alat bantu berbasis teknologi.

Dosen Program Studi Sistem Informasi UBSI Cikampek, Mohamad Syamsul Aziz, menilai bahwa vibe coding memiliki dampak positif jika digunakan secara proporsional. “Vibe coding bisa menjadi pintu masuk yang baik untuk menumbuhkan minat dan keberanian mahasiswa dalam belajar pemrograman, terutama bagi pemula yang sering merasa takut terlebih dahulu dengan kode,” ujarnya.

Baca juga: Galau Kerja atau Kuliah? UBSI Kampus Kaliabang Tunjukkan Cara Riset Karier Pakai AI

Dari sisi positif, vibe coding mampu meningkatkan motivasi dan kreativitas mahasiswa. Suasana belajar yang tidak menegangkan mendorong mahasiswa lebih berani mencoba, memodifikasi kode, serta berkolaborasi dalam menyelesaikan proyek berbasis aplikasi. Efisiensi waktu juga menjadi keunggulan karena mahasiswa dapat memanfaatkan contoh dan template untuk mempercepat pengerjaan tugas.

Namun demikian, pendekatan ini juga memiliki tantangan. Ketergantungan berlebihan pada contoh kode siap pakai berisiko membuat pemahaman konsep menjadi kurang mendalam. Selain itu, kualitas kode, efisiensi, dan aspek keamanan sering kali luput dari perhatian jika fokus hanya tertuju pada hasil akhir.

Menurut MAziz, keseimbangan menjadi kunci utama. “Mahasiswa tetap perlu memahami logika, algoritma, dan konsep dasar agar tidak hanya bisa menulis kode yang berjalan, tetapi juga mampu menjelaskan dan mengembangkan solusi secara mandiri,” tegasnya.

Melalui pengelolaan belajar yang terarah, vibe coding diharapkan dapat menjadi metode pendukung yang efektif tanpa mengesampingkan fondasi keilmuan, sehingga mahasiswa Sistem Informasi siap menghadapi tantangan dunia digital secara profesional.(Niken)

Leave A Reply

Your email address will not be published.