Dosen UBSI: Beda Tipis antara Lulusan “Siap Kerja” dan “Dicari Kerja”, Ini Kuncinya
BSINews, Tasikmalaya — Setiap tahun, puluhan ribu lulusan baru memasuki pasar kerja Indonesia dengan harapan yang sama: segera mendapatkan pekerjaan. Namun realitas di lapangan menunjukkan cerita yang berbeda. Banyak lulusan ber-IPK baik dan berijazah rapi tetap kesulitan menembus seleksi perusahaan.
Dosen UBSI: Beda Tipis antara Lulusan “Siap Kerja” dan “Dicari Kerja”, Ini Kuncinya
Menurut Bambang Kelana Simpony, dosen Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI) Sebagai kampus Digital Kreatif , masalahnya bukan semata soal kemampuan akademik, melainkan pada cara lulusan memosisikan dirinya di hadapan industri.
“Ada perbedaan yang sangat tipis, tapi dampaknya besar, antara lulusan yang siap kerja dan lulusan yang benar-benar dicari kerja oleh perusahaan,” ujar Bambang.
“Siap Kerja” Itu Pasif, “Dicari Kerja” Itu Terbukti
Bambang menjelaskan bahwa banyak lulusan masih terjebak dalam pola pikir lama: ijazah dan IPK tinggi dianggap cukup untuk bersaing. Padahal, di era kompetisi terbuka seperti sekarang, status siap kerja justru terlalu pasif.
Lulusan yang hanya “siap kerja” umumnya datang dengan satu senjata utama: CV dan transkrip nilai. Sebaliknya, lulusan yang “dicari kerja” hadir dengan paket lengkap yang langsung menarik perhatian rekruter.
Tiga Kunci Pembeda yang Menentukan
Bambang merinci tiga faktor utama yang membedakan kedua tipe lulusan tersebut.
1. Portofolio Proyek Nyata
Inilah pembeda paling kuat. Portofolio menunjukkan bahwa seorang lulusan tidak hanya memahami teori, tetapi mampu menerapkannya untuk menyelesaikan masalah nyata.
Portofolio berbicara lebih keras daripada klaim.
2. Sertifikasi Keahlian Spesifik
Di tengah banyaknya lulusan dengan kompetensi umum, sertifikat keahlian menjadi sinyal keseriusan dan kedalaman minat.
Sertifikasi di bidang seperti cloud computing, digital marketing, data analytics, atau cyber security menunjukkan bahwa lulusan tidak sekadar mengikuti kurikulum, tetapi aktif menyiapkan diri sesuai kebutuhan pasar kerja.
3. Pengalaman dan Jaringan (Network)
Pengalaman magang, keterlibatan dalam proyek industri, atau aktif di komunitas profesional memberi dua keuntungan sekaligus: pemahaman dunia kerja dan jaringan karir.
Baca Juga :Menggali 7 Peluang Karier Lulusan Akuntansi di Luar Jalur Keuangan Tradisional
Strategi Kampus Menjawab Tantangan Industri
Bambang menegaskan bahwa inilah alasan mengapa UBSI merancang pendidikannya untuk mencetak lulusan yang dicari kerja, bukan sekadar siap kerja.
Pendekatan ini membuat mahasiswa terbiasa berpikir sebagai problem solver, bukan hanya pencari kerja.
Dari Pelamar Menjadi Pilihan
Pada akhirnya, Bambang menekankan bahwa pertanyaan terpenting bagi lulusan hari ini bukan lagi soal kesiapan kerja, melainkan pembuktian nilai diri. (Sfkrhm)