Jajanan Favorit Anak, Ancaman Nyata Diabetes di Usia Dini
BSINews-Manis sering kali identik dengan kebahagiaan anak-anak. Namun, di balik rasa manis jajanan yang mudah dijumpai di sekolah maupun di rumah, tersimpan ancaman kesehatan yang tidak bisa lagi dianggap sepele. Es krim, minuman saset, boba, permen, hingga camilan olahan kekinian kini begitu akrab dalam keseharian anak. Kebiasaan ini, jika tidak dikendalikan, perlahan membuka pintu bagi risiko diabetes pada usia yang seharusnya masih jauh dari penyakit kronis.
Baca juga: Obesitas, Musuh Diam-Diam yang Merenggut Kesehatan Reproduksi Remaja Putri
Peningkatan kasus diabetes pada anak bukanlah sekadar kekhawatiran tanpa dasar. Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mencatat adanya lonjakan kasus diabetes anak dalam beberapa tahun terakhir, dengan pola konsumsi tinggi gula sebagai salah satu pemicu utamanya. Data Riskesdas juga menunjukkan bahwa konsumsi makanan dan minuman manis pada anak Indonesia tergolong tinggi dan cenderung rutin. Ironisnya, gula tidak selalu hadir secara kasat mata. Banyak jajanan dan minuman kemasan menyimpan “gula tersembunyi” yang kerap luput dari perhatian orang tua dan guru.
Jika dicermati, daftar jajanan berisiko tinggi sebenarnya sangat dekat dengan kehidupan anak. Minuman kekinian seperti boba, cheese tea, atau minuman saset murah yang mudah dibeli di kantin sekolah dapat menyumbang asupan gula berlebih dalam waktu singkat. Permen, jelly, dan cokelat memberikan lonjakan gula darah instan, sementara beberapa jajanan pasar yang terlalu manis juga ikut menambah akumulasi gula harian. Memang tidak semua jajanan tradisional buruk, tetapi tanpa pemilihan yang bijak, asupan gula bisa melampaui batas aman tanpa disadari.
Dampaknya tidak berhenti pada lonjakan gula darah sesaat. Konsumsi gula berlebih secara terus-menerus dapat memicu resistensi insulin, meningkatkan risiko obesitas, hingga membentuk kecanduan rasa manis pada anak. Obesitas sendiri telah lama diakui sebagai salah satu faktor risiko utama diabetes tipe 2. Lebih jauh lagi, persoalan ini juga menyentuh ranah kesehatan publik. Lemahnya regulasi peredaran produk tinggi gula, sebagaimana disoroti oleh Badan Perlindungan Konsumen Nasional (BPKN), membuat anak-anak semakin rentan terhadap paparan gula berlebih.
Dalam situasi ini, peran orang tua menjadi kunci utama. Orang tua bukan hanya penjaga asupan makanan anak, tetapi juga pendidik pertama dalam membentuk kebiasaan hidup sehat. Mengganti camilan manis dengan buah segar, sayur, atau kacang-kacangan, membatasi minuman kemasan manis, serta membiasakan air putih sebagai pilihan utama merupakan langkah sederhana namun berdampak besar. Lebih dari itu, edukasi tentang gula terselubung perlu disampaikan sejak dini agar anak mampu memahami dan membuat pilihan yang lebih sehat secara mandiri.
Namun, upaya orang tua tidak akan optimal tanpa dukungan lingkungan sekolah. Sekolah memiliki posisi strategis dalam menciptakan ekosistem camilan yang lebih sehat. Regulasi kantin, edukasi gizi berkelanjutan, kampanye pengurangan gula, hingga kemitraan dengan tenaga kesehatan dapat menjadi langkah nyata dalam melindungi siswa. Sekolah bukan sekadar tempat belajar akademik, tetapi juga ruang pembentukan perilaku hidup sehat.
Tantangan tentu tidak kecil. Budaya manis sudah terlanjur melekat dalam kehidupan sehari-hari. Ditambah lagi, tekanan pemasaran produk jajanan dengan kemasan menarik dan harga terjangkau membuat camilan sehat sering kalah bersaing. Meski demikian, tantangan ini bukan alasan untuk menyerah. Justru di sinilah diperlukan kreativitas dan kolaborasi antara orang tua, sekolah, dan pemangku kebijakan.
Pada akhirnya, persoalan jajanan anak dan risiko diabetes bukan sekadar isu individu, melainkan tanggung jawab bersama. Kesadaran, konsistensi, dan keberanian untuk mengubah kebiasaan menjadi kunci utama. Dengan langkah kecil namun berkelanjutan mulai dari rumah hingga sekolah kita dapat melindungi anak-anak dari ancaman diabetes dan menyiapkan generasi yang lebih sehat di masa depan.
Baca juga: Seblak Bikin Nagih, Tapi Siapkah Kamu Bayar Mahal dengan Kesehatan Reproduksi?
Jika pembahasan ini menggugah ketertarikan untuk mendalami isu kesehatan anak sekaligus meniti karier sebagai perawat profesional, Universitas Bina Sarana Informatika hadir sebagai mitra pendidikan yang berkomitmen mencetak perawat masa depan yang kompeten dan berintegritas. Melalui Program Studi Sarjana Keperawatan, Fakultas Ilmu Kesehatan, Universitas Bina Sarana Informatika Kampus Salemba, calon mahasiswa dibekali pengetahuan dan keterampilan yang relevan dengan tantangan kesehatan masa kini. Pendaftaran dapat dilakukan di UBSI Kampus Salemba, Jalan Salemba Tengah No. 45, Jakarta Pusat.
Oleh: Ns. Diah Ayu Agustin, M.Kep., Sp.Kep.An Kabag Humas dan Dosen Keperawatan Anak, Akper Bina Insan (Saat ini sedang dalam penyatuan dengan Universitas Bina Sarana Informatika Menjadi Fakultas Ilmu Kesehatan UBSI)