Seblak Bikin Nagih, Tapi Siapkah Kamu Bayar Mahal dengan Kesehatan Reproduksi?
BSINews, Jakarta- Di sudut kota hingga pelosok desa, di pinggir jalan sampai depan sekolah, seblak menjadi bintang kuliner yang selalu digandrungi. Pedas, gurih, dan aromanya yang khas membuat jajanan ini begitu memikat, terutama bagi remaja putri. Seblak bukan sekadar camilan ia hadir sebagai teman setia saat nongkrong, belajar kelompok, atau melepas penat usai sekolah.
Baca juga: Remaja Sukabumi Melek Isu Kekerasan & Kesehatan Mental Berkat Kolaborasi UBSI dan Foksi
Namun, di balik kenikmatan seblak level pedas 5 dengan ceker menggoda, ada satu pertanyaan yang layak direnungkan apakah kebiasaan mengonsumsi seblak terlalu sering bisa berdampak pada kesehatan, khususnya kesehatan reproduksi remaja putri?
Seblak memang menggoda. Tetapi, tak jarang di balik semangkuk kenikmatan itu terselip bahan tambahan seperti micin berlebihan, pewarna buatan, pengawet, hingga topping yang kebersihannya meragukan. Jika dikonsumsi secara terus-menerus, risiko yang ditimbulkan bukan hanya sakit perut sementara, melainkan gangguan kesehatan jangka panjang.
Mengapa hal ini penting? Remaja putri sedang berada pada fase perubahan hormon yang signifikan. Asupan makanan sangat memengaruhi keseimbangan hormon tersebut. Konsumsi berlebihan makanan tinggi pengawet dan penyedap buatan dapat mengganggu siklus menstruasi, memicu nyeri haid berlebih, bahkan meningkatkan risiko keputihan yang tidak normal. Tak hanya itu, makanan pedas dan asam juga berpotensi menyebabkan gangguan lambung seperti maag, yang pada gilirannya berdampak pada kesehatan reproduksi.
Penelitian menunjukkan, pola makan yang buruk berhubungan dengan gangguan reproduksi seperti Polycystic Ovary Syndrome (PCOS) atau endometriosis. Seblak yang sarat karbohidrat, minyak, dan garam bisa memengaruhi proses pembentukan sel telur dan keseimbangan hormon. Jika ini berlangsung lama, ovulasi dan peluang pembuahan pun bisa terganggu.
Namun, edukasi soal kesehatan reproduksi tak harus menakut-nakuti. Mengajak remaja putri membuat seblak sehat bisa menjadi cara kreatif gunakan bahan segar, kurangi micin, tambahkan sayuran dan telur rebus. Sambil memasak, ajak mereka bicara tentang siklus haid, pentingnya menjaga kebersihan organ intim, dan bagaimana mengenali sinyal tubuh. Edukasi semacam ini jauh lebih efektif dibanding larangan keras.
Intinya, remaja tak harus memilih antara sehat dan bahagia. Kuncinya ada pada keseimbangan dan kesadaran. Tidak ada yang salah menikmati seblak, yang salah adalah mengabaikan sinyal tubuh dan membiarkan gaya hidup tidak sehat terus berlangsung. Menjaga kesehatan reproduksi bukan sekadar soal kehamilan, tapi juga tentang bagaimana tubuh bekerja setiap hari mulai dari siklus haid, energi, hingga kestabilan emosi.
Baca juga: Vertigo di Usia Remaja? Ketahui Penyebab dan Cara Mengatasinya!
Jika kamu tertarik memahami lebih dalam soal ini dan ingin berkarier sebagai tenaga kesehatan profesional, Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI) siap membekali kamu menjadi perawat profesional masa depan. Bergabunglah di Prodi Sarjana Keperawatan, Fakultas Ilmu Kesehatan UBSI Kampus Salemba, Jl. Salemba Tengah No. 45, Jakarta Pusat. Mau kuliah? Ya di BSI aja!
Oleh: Ns. Nina sunarti, S.Kep M.Kep Dosen Fakultas Kesehatan, Akper Bina Insan (Saat ini sedang dalam penyatuan dengan Universitas Bina Sarana Informatika Menjadi Fakultas Ilmu Kesehatan UBSI)