Budaya Literasi Kampus Tumbuh dari Ruang yang Membuat Mahasiswa Betah

0 10

BSINews, Yogyakarta — Budaya literasi menjadi fondasi penting dalam pendidikan tinggi di tengah arus informasi yang semakin deras. Literasi tidak lagi sekadar kemampuan membaca dan menulis, tetapi juga mencakup kemampuan memahami, menganalisis, serta mengolah informasi secara kritis. Di lingkungan kampus Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI) Sebagai kampus Digital Kreatif, budaya literasi berperan besar dalam membentuk mahasiswa yang berpikir terbuka, akademis, dan siap menghadapi tantangan global.

Budaya Literasi Kampus Tumbuh dari Ruang yang Membuat Mahasiswa Betah

Namun, membangun budaya literasi tidak cukup hanya dengan menyediakan buku atau sumber informasi yang melimpah. Realitas di lapangan menunjukkan bahwa minat mahasiswa untuk membaca dan menggali literatur sering kali terkendala oleh suasana ruang belajar yang kaku dan kurang ramah. Perpustakaan masih kerap dipersepsikan sebagai ruang formal yang sunyi, penuh aturan, dan terkesan menegangkan, sehingga mahasiswa datang hanya ketika terdesak oleh tugas akademik.

Padahal, ruang belajar memiliki peran psikologis yang sangat penting dalam membentuk kebiasaan literasi. Lingkungan yang rapi, pencahayaan yang baik, tata ruang fleksibel, serta desain interior yang estetik mampu menciptakan rasa nyaman dan aman. Ketika mahasiswa merasa betah berada di suatu ruang, mereka cenderung lebih fokus, termotivasi, dan terdorong untuk berinteraksi dengan sumber pengetahuan secara alami.

Vadlya Maarif Kepala kampus UBSI kampus Yogyakarta menegaskan bahwa ruang literasi yang nyaman merupakan bagian dari strategi penguatan budaya akademik di kampus.

“Budaya literasi tidak bisa dibangun dengan pendekatan kaku. Kampus perlu menghadirkan ruang yang ramah dan membuat mahasiswa merasa nyaman agar aktivitas membaca, berdiskusi, dan berpikir kritis tumbuh secara alami,” ujarnya, kepada media di Yogyakarta, pada Selasa (20/1).

Baca Juga : Perpustakaan UBSI Hadiri Pelantikan IPI Bogor Raya, Dorong Sinergi Budaya Baca dan Literasi

Selain kenyamanan fisik, ruang literasi juga perlu mendukung interaksi dan kolaborasi. Budaya literasi tidak tumbuh dalam kesunyian semata, tetapi melalui diskusi, tukar gagasan, dan proses berbagi pengetahuan. Kehadiran area diskusi, student corner, dan zona kolaboratif memungkinkan mahasiswa tidak hanya membaca secara pasif, tetapi juga mengolah serta mengomunikasikan ide secara aktif.

Perpustakaan UBSI kampus Yogyakarta menunjukkan langkah positif dalam arah tersebut. Dengan menghadirkan ruang perpustakaan yang luas, area belajar yang nyaman, serta student corner berkonsep cozy dan estetik, mahasiswa mendapatkan pengalaman literasi yang berbeda dari citra perpustakaan konvensional. Ditambah dengan akses ke berbagai koleksi digital seperti e-book, e-journal, e-proceeding, serta e-resources dari Perpustakaan Nasional, mahasiswa memiliki peluang besar untuk mengembangkan kebiasaan membaca dan riset dalam suasana yang mendukung.

Pada akhirnya, membangun budaya literasi kampus merupakan proses jangka panjang yang membutuhkan pendekatan holistik. Penyediaan sumber literatur berkualitas harus berjalan beriringan dengan penciptaan ruang belajar yang manusiawi dan menyenangkan. Ruang yang membuat mahasiswa betah menjadi pintu masuk utama bagi tumbuhnya kebiasaan membaca, berdiskusi, dan berpikir kritis. Dari ruang yang tepat, budaya literasi yang hidup dan berkelanjutan dapat tumbuh secara alami di lingkungan kampus. (Sfkrhm)

Leave A Reply

Your email address will not be published.