Dari Sampah Elektronik Jadi Peluang Bisnis: Dosen UBSI Ajak Mahasiswa Bangun ‘Ekonomi Sirkular Digital’
BSINews, Tasikmalaya — Di balik gemerlap revolusi digital, terselip bayang menakutkan berupa tumpukan sampah elektronik (e-waste) yang terus bertambah. Ponsel lama, laptop rusak, hingga charger yang tak lagi terpakai kerap berakhir di tempat pembuangan akhir dan mencemari lingkungan. Namun, Bambang Kelana Simpony, seorang dosen dari Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI) kampus Tasikmalaya, justru melihat “gunung emas” di balik tumpukan sampah tersebut.
“Sampah elektronik bukan lagi sekadar masalah lingkungan, ini adalah masalah ekonomi yang terabaikan. Setiap barang elektronik yang dibuang merupakan sumber daya yang terbuang sia-sia. Kami ingin mengubah paradigma mahasiswa: jangan lihat sampah, lihat peluang,” ujar Bambang dalam rilis yang diterima, Rabu (11/2).
Ia mengajak mahasiswa membangun konsep yang disebut sebagai Ekonomi Sirkular Digital, yakni model bisnis yang menjadikan sampah elektronik bukan sebagai akhir siklus hidup produk, melainkan awal dari siklus baru yang memiliki nilai ekonomi.
Baca juga: Mengenal Kampus Terakreditasi Unggul di Pontianak dan Artinya bagi Calon Mahasiswa
Menurut Bambang, terdapat tiga pilar utama dalam ekonomi sirkular digital yang dapat langsung dijalankan oleh mahasiswa.
Pertama, bengkel refurbish atau perbaikan. Mahasiswa dengan keahlian perangkat keras dapat membuka layanan perbaikan gadget rusak. Produk yang berhasil diperbaiki kemudian dapat dijual kembali dengan harga lebih terjangkau, sekaligus memperpanjang usia pakai perangkat dan memperluas akses teknologi bagi masyarakat.
Kedua, “pemanenan” komponen. Perangkat yang tidak lagi dapat diselamatkan masih menyimpan komponen bernilai, seperti RAM, chip, atau logam tertentu. Komponen tersebut dapat dipilah dan dijual kembali kepada industri yang membutuhkannya.
Ketiga, pengembangan platform digital berupa marketplace sampah elektronik. Mahasiswa dapat membangun aplikasi atau situs web yang menghubungkan masyarakat pemilik sampah elektronik dengan mahasiswa atau pelaku usaha yang siap mengolahnya.
Baca juga: Menakjubkan! Kampus Ini “Pacu Adrenalin” Mahasiswa Hadapi Dunia Kerja Era AI
Ekonomi Sirkular Digital sebagai Proyek Nyata Mahasiswa
Menurut Bambang, konsep ini menjadi proyek interdisiplin yang relevan dengan kebutuhan dunia nyata, sekaligus melibatkan berbagai bidang keilmuan di lingkungan kampus.
“Ini adalah proyek interdisiplin yang sempurna. Mahasiswa teknologi informasi membangun platform-nya, mahasiswa desain menciptakan antarmuka yang menarik, dan mahasiswa manajemen merancang model bisnisnya. Ini adalah startup nyata yang menyelesaikan masalah nyata,” jelasnya.
Ia menambahkan, pendekatan tersebut sejalan dengan upaya UBSI dalam mendorong mahasiswa berpikir sebagai wirausahawan yang bertanggung jawab. Melalui program inkubator bisnis dan proyek pengabdian masyarakat, mahasiswa tidak hanya mempelajari teori, tetapi juga langsung mempraktikkan penciptaan solusi berkelanjutan.
Baca juga: Kampus Digital, Dosen Profesional, dan Peluang Karier Luas di UBSI Kampus Cikarang
“Kami tidak ingin mencetak lulusan yang hanya menjadi konsumen teknologi. Kami ingin melahirkan generasi analis siklus hidup produk dan wirausahawan muda yang cerdas serta peka lingkungan. Mereka tidak hanya melihat tumpukan barang bekas, tetapi peluang untuk menciptakan nilai, mengurangi polusi, dan membangun ekonomi yang lebih hijau untuk Tasikmalaya dan Indonesia,” pungkas Bambang.
Oleh: Bambang Kelana Simpony, dosen UBSI kampus Tasikmalaya