Anti ‘Sindrom TPA’ Pasca Lebaran, Dosen UBSI Bagikan ‘Sistem Operasi’ Digital untuk Bangkit dari Malas-malasan
BSINews, Tasikmalaya — Libur panjang Lebaran telah usai. Namun bagi sebagian mahasiswa dan pekerja, kembali ke rutinitas sering kali tidak semudah yang dibayangkan. Semangat yang sebelumnya tinggi justru menurun, digantikan rasa malas, kehilangan fokus, bahkan kebingungan harus memulai dari mana. Fenomena ini kerap disebut sebagai “Sindrom TPA” (Tidak Ada Apa-Apa), yakni kondisi ketika seseorang merasa tidak memiliki motivasi untuk melakukan aktivitas produktif setelah masa liburan.
Menanggapi fenomena tersebut, Bambang Kelana Simpony, dosen dari Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI) kampus Tasikmalaya, menawarkan pendekatan menarik dengan memanfaatkan teknologi digital. Ia mengibaratkan kondisi tersebut seperti gangguan pada “sistem operasi” internal manusia yang perlu diperbaiki setelah pola aktivitas berubah selama liburan.
“‘Sindrom TPA’ ini sebenarnya bukan masalah mental semata, melainkan masalah sistem. Selama libur, sistem operasi internal kita yang terbiasa dengan rutinitas disiplin menjadi ‘terganggu’ oleh kebiasaan bangun siang dan aktivitas tanpa jadwal yang jelas. Untuk memperbaikinya, kita perlu ‘menginstal ulang’ sistem tersebut dengan bantuan alat digital yang tepat,” jelas Bambang.
Tiga ‘Aplikasi’ untuk Menghidupkan Kembali Produktivitas
Menurut Bambang, ada beberapa strategi sederhana berbasis teknologi yang dapat membantu mahasiswa dan generasi muda mengembalikan ritme produktivitas mereka secara bertahap.
1. Aplikasi Manajemen Tugas (Notion atau Trello)
Langkah pertama adalah memecah tugas besar menjadi tugas-tugas kecil yang lebih mudah dikerjakan. Tugas yang terlalu besar sering kali memicu rasa takut untuk memulai.
“Jangan menulis tugas seperti ‘Mengerjakan Skripsi’, karena itu terlalu besar. Pecah menjadi tugas kecil seperti ‘mencari lima jurnal referensi hari ini’ atau ‘menulis satu paragraf pendahuluan’. Gunakan aplikasi seperti Notion atau Trello untuk membuat dashboard kerja yang memvisualisasikan progres kita,” jelasnya.
2. Teknik Pomodoro dengan Timer Digital
Untuk melatih kembali fokus yang sempat hilang selama liburan, Bambang menyarankan penggunaan teknik Pomodoro.
Metode ini mengatur pola kerja selama 25 menit fokus penuh, kemudian istirahat selama 5 menit. Setelah empat siklus, seseorang dapat mengambil istirahat yang lebih panjang.
“Gunakan timer di ponsel atau ekstensi di browser. Cara ini membantu otak kembali terbiasa bekerja secara fokus dalam durasi singkat, tetapi konsisten,” tambahnya.
Baca juga: Lakukan ‘Wudu Digital’, Dosen UBSI Ajak Saring Konten dan Jaga Niat di Media Sosial Selama Ramadhan
3. Time-Blocking Menggunakan Google Calendar
Selain membuat daftar tugas, Bambang juga menyarankan metode time-blocking, yaitu menjadwalkan waktu khusus untuk setiap aktivitas.
“Masukkan semua aktivitas ke dalam kalender digital, mulai dari tugas kuliah, belajar, olahraga, hingga waktu istirahat. Dengan time-blocking, kita bisa ‘mengunci’ waktu agar prioritas tidak terganggu oleh hal-hal yang tidak penting,” jelasnya.
Kunci Utama: Konsistensi
Bambang menegaskan bahwa metode ini tidak akan langsung terasa hasilnya dalam satu atau dua hari. Namun jika dilakukan secara konsisten, sistem produktivitas seseorang akan kembali terbentuk.
“Mungkin di hari pertama terasa berat. Tapi seperti komputer yang sedang melakukan reboot, perlahan sistemnya akan kembali normal bahkan bisa menjadi lebih optimal. Ini adalah cara kerja cerdas untuk menghidupkan kembali mesin produktivitas yang sempat macet,” ujarnya.
UBSI sebagai Kampus Digital Kreatif terus mendorong pemanfaatan teknologi secara positif dan produktif, termasuk dalam membangun kebiasaan belajar dan bekerja yang lebih efektif di era digital.