Tips Kurangi Mata Minus di Tengah Gempuran Era Digital

0 8

BSINews-Meningkatnya penggunaan gadget dalam kehidupan sehari-hari membuat kasus mata minus atau miopia semakin banyak ditemukan pada berbagai kelompok usia. Untuk menjaga kesehatan penglihatan, masyarakat perlu menerapkan sejumlah kebiasaan sederhana yang dapat membantu memperlambat perkembangan mata minus di era digital.

Baca juga:Ini Alasan Dunia Kesehatan Membutuhkan Banyak Tenaga Keperawatan

Hampir seluruh aktivitas saat ini dilakukan melalui layar digital, mulai dari bekerja, belajar, berbelanja, hingga mencari hiburan. Kondisi tersebut membuat mata bekerja lebih keras untuk fokus pada jarak dekat dalam waktu yang lama.

Ns. Diah Ayu Agustin, M.Kep., Sp.Kep.An, Kabag Humas dan Dosen Keperawatan Anak Akper Bina Insan yang sedang dalam proses penyatuan dengan Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI), mengatakan bahwa perubahan pola hidup menjadi salah satu faktor utama meningkatnya kasus miopia.

“Anak-anak, remaja, hingga pekerja kantoran saat ini menghabiskan lebih banyak waktu di depan layar dibandingkan beraktivitas di luar ruangan. Kebiasaan ini dapat meningkatkan risiko perkembangan mata minus jika tidak diimbangi dengan pola hidup yang sehat,” kata Diah dalam keterangannya di Jakarta, Rabu (3/6).

Jelasnya, mata minus terjadi ketika cahaya yang masuk ke mata tidak jatuh tepat di retina sehingga objek yang berada jauh terlihat kabur. Kondisi tersebut dapat dipengaruhi faktor genetik maupun kebiasaan sehari-hari.

Salah satu langkah sederhana yang dapat diterapkan adalah aturan 20-20-20. Melalui metode ini, seseorang dianjurkan mengalihkan pandangan selama 20 detik ke objek berjarak sekitar 20 kaki atau enam meter setiap 20 menit menatap layar.

“Aturan 20-20-20 sangat efektif untuk mengurangi ketegangan otot mata. Kebiasaan kecil ini sering dianggap sepele, padahal manfaatnya cukup besar untuk menjaga kenyamanan mata saat bekerja atau belajar,” ujar Diah.

Selain itu, ia mengingatkan pentingnya membatasi waktu penggunaan gadget. Penggunaan perangkat digital secara terus-menerus dapat memicu kelelahan mata digital atau digital eye strain yang ditandai dengan mata lelah, kering, hingga sakit kepala.

Diah juga menekankan pentingnya aktivitas di luar ruangan. Paparan cahaya alami dinilai dapat membantu menjaga kesehatan mata, terutama pada anak-anak yang masih berada dalam masa pertumbuhan.

“Kami menyarankan anak-anak maupun orang dewasa untuk meluangkan waktu beraktivitas di luar ruangan setiap hari. Selain baik untuk kesehatan mata, kegiatan fisik di luar juga mendukung kesehatan tubuh secara keseluruhan,” tuturnya.

Dari sisi nutrisi, kesehatan mata juga perlu didukung dengan konsumsi makanan bergizi. Vitamin A, vitamin C, vitamin E, zinc, lutein, dan omega-3 merupakan beberapa zat gizi yang berperan penting dalam menjaga fungsi penglihatan.

Berbagai jenis makanan seperti wortel, bayam, brokoli, telur, ikan salmon, alpukat, jeruk, dan pepaya dapat menjadi pilihan untuk memenuhi kebutuhan nutrisi tersebut. Pola makan sehat yang konsisten dinilai dapat membantu menjaga kondisi mata dalam jangka panjang.

Selain memperhatikan pola hidup dan asupan makanan, masyarakat juga dianjurkan menjaga jarak pandang saat membaca atau menggunakan gadget. Jarak membaca ideal berkisar 30 hingga 40 sentimeter, sedangkan layar komputer sebaiknya berada pada jarak 50 hingga 70 sentimeter dari mata.

“Hal lain yang sering diabaikan adalah kualitas tidur. Padahal mata juga membutuhkan waktu untuk beristirahat dan melakukan proses pemulihan. Orang dewasa idealnya tidur tujuh hingga sembilan jam setiap malam,” jelas Diah.

Baca juga:Mahasiswa Wajib Tahu! Jaga Kesehatan Matamu di Era Digital: Panduan Lengkap untuk Generasi Z

Ia menambahkan bahwa pemeriksaan mata secara rutin juga penting dilakukan meskipun tidak ada keluhan penglihatan. Pemeriksaan berkala membantu mendeteksi perkembangan mata minus maupun gangguan mata lainnya sejak dini.

Di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital, menjaga kesehatan mata menjadi kebutuhan yang tidak bisa diabaikan. Dengan menerapkan kebiasaan yang tepat sejak dini, risiko bertambahnya mata minus dapat diminimalkan sehingga aktivitas belajar, bekerja, dan berinteraksi di era digital tetap berlangsung nyaman dan produktif.

Leave A Reply

Your email address will not be published.